Pembalasan Istri Yang Terhina

Pembalasan Istri Yang Terhina
Penangkapan


__ADS_3

"Jangan jangan " gumam Bu Imah lirih. Dan seketika suasana berubah tegang. Melihat calon mertuanya gelisah, Dewi semakin tidak nyaman. Belum menikah saja, sudah banyak sekali masalah yang di hadapi. Dewi beranjak pergi, berniat tidak lagi meneruskan hubungannya dengan yudha, di pikirannya sudah tak bisa lagi jika harus ikut masalah di keluarga Yudha yang tidak ada habisnya. Cinta ya memang cinta tapi untuk ikut sengsara sih jangan. Bisik Dewi dalam di dalam hatinya.


" Bu, aku pamit pulang dulu. Dirumah sedang ada acara." Dewi beralasan agar tidak lama lama di rumah itu. " Loh, ibu belum selesai bicara sama kamu, kira bicarakan pernikahan kamu dan Yudha. Apa kamu tidak ingin menyusul Yudha?" Sahut Bu Imah dengan dahi mengernyit.


" Nanti kita bicara lagi, aku tidak ingin disini lama lama, takut kalau ada polisi aku ikut di bawa bawa. Orang tuaku, orang terpandang. Aku gak mau gara gara masalah kalian keluargaku jadi kena imbasnya." Balas Dewi dengan mudahnya. Tapi benar juga sih, keluarga Dewi memang dari golongan berada, ayahnya anggota DPR. Tapi Bu Imah tidak pernah itu, yang Bu Imah tau, Dewi orang kaya, itu saja.


Saat pintu terbuka, Bu Imah dan Dewi dikejutkan dengan kedatangan dua pria yang berseragam polisi. " Selamat siang, kami dari polres ***** ingin menjemput saudara Yudha dan saudari Yeni." Ucap salah satu pria berseragam tersebut.


"Maaf saya permisi, Bu aku pamit pulang." Dewi pergi begitu saja, pura pura tidak tau kode yang diberikan Bu Imah lewat matanya. Dewi sudah memutuskan untuk tidak ikut campur masalah Yudha dan keluarganya. Dewi memang cinta dengan Yudha tapi dia juga sangat perduli dengan keluarganya, karena Dewi sangat dekat dengan ayahnya, hingga Dewi tidak mau ayahnya kesandung masalah karena kecerobohannya.


Bu Imah gelagapan, bingung harus menjawab apa pertanyaan pertanyaan kedua polisi tersebut, hanya kata tidak tau yang terus menerus dari bibirnya. Dan dengan waktu yang bersamaan ponsel Bu Imah berdering, terpampang dilayar dengan nama Yeni. Bu Imah langsung salah tingkah karena salah satu dari polisi itu melirik ke arah ponselnya. " Silahkan diangkat Bu, saya tau jika itu Yeni anak ibu yang kami cari. Tolong kerja samanya, jangan mempersulit biar hukumannya pun tidak bertambah berat." 


Tidak ada pilihan, akhirnya Bu Imah mengangkat telpon dari Yeni dan me speakernya. " Halo Bu, gimana? Aku sama Yudha kepikiran sama ibu, kami baru sampai di pom bensin Nganjuk. Kita balik saja ya Bu, pikiran ini gak bisa tenang ninggalin ibu sendirian." Suara cempreng Yeni terdengar hawatir, bagaimanapun Yeni begitu menyayangi ibunya, meskipun tidak pernah bisa bersikap lembut. Bu Imah terdiam, tidak tau harus merespon apa, lidahnya sudah terlanjur Kelu karena pria di hadapannya. 


Dengan panik Bu Imah mematikan telponnya dari Yeni. Namun semua pembicaraan Yeni sudah terdengar oleh kedua polisi yang disana. Salah satu dari mereka menelpon anggotanya untuk segera bergerak ke tempat yang tadi disebut Yeni. Tidak butuh waktu lama, penangkapan Yeni dan Yudha berhasil di ringkus polisi dengan mudah.


 


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Seperti biasa, Halwa selalu datang ke toko untuk mengawasi langsung dan bahkan tidak segan untuk langsung melayani pembeli. Meskipun kini hidupnya sudah berubah. Halwa tetap menjadi perempuan yang rendah hati dan tidak sombong, sifat baiknya dan mudah iba pada orang lain tidak hilang dari dirinya.


" Asalamualaikum." Sapa seseorang yang membuat Halwa seketika menoleh dari kesibukannya menata dagangan di salah satu rak yang ada di tokonya.


" Waalaikumsallm." Jawab Halwa terkejut, dengan sosok tampan pemilik suara.


" Apa kabar Bu Halwa." Sambung laki laki yang kini berdiri dihadapan Halwa dengan begitu gagahnya.

__ADS_1


" Alhamdulillah baik. Ini kan pak?" Balas Halwa gugup.


" Dafi, iya. Saya Dafi. Yang waktu itu sempat mengejar ibu dan temannya di parkiran." jelas Dafi dengan gayanya yang cool, siapa saja pasti akan terpesona dengan duda tampan yang berpenampilan parlente itu.


" Owh iya. Em kok bisa ada disini?" tanya Halwa penasaran.


" Iya, sengaja ingin bertemu dengan Bu Halwa." sahut Dafi tegas dengan tatapan dalam.


" Dengan saya?." Halwa mengernyit bingung, karena merasa tidak pernah ada janji dengan laki laki yang kini tengah tersenyum manis dihadapannya.


" Iya, dengan Bu Halwa. Boleh saya minta waktunya. Ada yang ingin saya sampaikan." 


" Tentang apa ya, kalau boleh tau?" Selidik Halwa penasaran.


" Tentang kita." Jawab Dafi mantap.


" Boleh minta waktunya sebentar, akan saya jelaskan nanti setelah kita duduk dan bicara berdua." sahut Dafi tenang.


" Baiklah, silahkan ikut saya." Halwa menuju ruangannya, dan mempersilahkan Dafi untuk duduk di salah satu sofa yang ada di dalam sana, dan tentu Halwa membiarkan pintu tetap terbuka, karena antara dirinya dan Dafi bukan mahram yang bisa menimbulkan fitnah. Tak lupa, Halwa juga meminta salah satu anak buahnya untuk membuatkan kopi buat tamu tak terduga nya.


" Wah, ternyata Bu Halwa ini pebisnis handal ya, dan juga seorang penulis yang luar biasa karyanya, jujur saya suka baca tulisan Bu Halwa loh." tiba tiba Dafi mengeluarkan kalimat yang membuat Halwa terperanjat.


" Apa?. Pak Dafi suka baca cerita saya?" sahut Halwa tak percaya.


" Iya, suka banget. Ceritanya bagus, selalu tentang wanita tangguh, seperti sosok penulisnya." jawab Dafi dengan senyuman manis.


" Em, mungkin kebetulan saja itu pak. Owh iya, kalau boleh tau, apa yang ingin bapak bicarakan?"

__ADS_1


Halwa mendadak salah tingkah dan berusaha mengalihkan pembicaraan.


" Baiklah saya akan langsung saja ke tujuan saya menemui Bu Halwa. Karena sepertinya Bu Halwa orang yang tidak suka dengan basa basi. Maksud saya kesini, saya ingin lebih mengenal Bu Halwa dan berniat untuk meminta Bu Halwa menjadi pendamping saya." Tegas dan jelas, Dafi adalah laki laki yang sangat memiliki prinsip yang kuat, sekali dia punya tujuan, disitulah dia akan langsung memperjuangkan. Dan saat melihat Halwa hatinya langsung terpaut. Wanita cantik yang lembut tapi tegas, sudah mencuri hatinya.


Halwa shock mendengar apa yang baru saja Dafi ungkapkan. Dirinya masih beberapa hari menyandang status janda, kini sudah ada laki laki yang ingin melamarnya. "Ya Tuhan mimpi apa aku semalam." Batin Halwa kebat kebit.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️

__ADS_1


__ADS_2