
"Kalau ini yang beli ibu sendiri, kenapa ibu gak tau kalau ini hanya berlian palsu, yang harganya murah? Kan sudah tertulis di dalam suratnya, harga yang harus dibayar sewaktu membelinya." sahut pegawai toko tak mau kalah.
Bu Tria gelagapan, karena memang salahnya yang tidak melihat harga yang tertulis di kertas tersebut.
"Yasudah, berikan uangnya! Jadi dua cincin, dua juta ya?" sahut Bu Tria sinis sambil menahan kesal karena merasa di jebak oleh Suko.
"Siaaal!
Benar benar sial, laki laki brengsek itu sudah mempermainkan ku, awas saja kamu, Suko!" teriak Bu Tria marah, sedangkan Wati sudah merasa lesu dan bingung dengan nasibnya kedepan.
"Terus kita harus bagaimana ini, Bu?
Apa kita akan jadi gelandangan?" tanya Wati lesu, matanya kuyu menatap jalanan yang ramai kendaraan lalu lalang.
"Ibu ada yang dia belas juta lebih, kita cari kontrakkan yang murah murah saja, yang penting bisa untuk istirahat. Ibu mau buat perhitungan dengan Suko, lihat saja, dia akan ngemis ke ibu setelah ini." ucap Bu Tria pasti, senyum miring terukir di bibirnya yang sedikit tebal dengan warna lipstik merah menyala.
"Emang ibu punya rencana untuk menaklukkan pak Suko?
Bukannya Vidio itu tak lagi berpengaruh buatnya?
Lalu ibu mau lakukan apa lagi?" tanya Wati mengerutkan wajahnya bingung.
"Kamu tenang saja. Ibu sudah memikirkan semuanya, laki laki tua itu pasti akan kelabakan dan kita yang akan diuntungkan?" Bu Tria dengan pedenya bicara seolah rencananya akan berhasil dengan baik.
"Yasudah terserah ibu saja, Wati percaya sama ibu.
Ibu kan cerdas dan pasti akan berhasil, Wati cuma berharap akan hidup enak lagi." sahut Wati sambil menyeka keringat yang ada di wajahnya.
"Cepat pesan taksinya, kita cari kontrakkan di kampung baru saja, disana banyak rumah yang dikontrakkan dengan harga murah." suruh Bu Tria dengan wajah yang sudah berantakan, karena makeup nya luntur sebab terkena panasnya matahari yang membuatnya terus berkeringat.
"Sudah Bu, tunggu aja sebentar lagi. Taksinya sedang menuju kesini kok!" sahut Wati cemberut, dan menahan tawa melihat penampilan ibunya yang berantakan.
Tak berselang lama taksi yang dipesan Wati datang, mereka menuju kampung baru dan mencari kontrakkan yang murah, yang sesuai dengan keuangan Bu Tria yang menipis.
"Ini satu bulan lima ratus, sudah ada kasur dan lemari di dalam nya, tapi kasurnya kecil, ukuran seratus dua puluh, hanya cukup untuk satu orang.
Dan kalau mau yang agak besar, ada di sebelah sana, sebulannya enam ratus lima puluh, kasur ukuran seratus enam puluh, kamar mandi ada di dalam, ada lemari dan kipas angin.
Mau yang mana?" tanya bapak pemilik kontrakan yang usianya sekitar lima puluh ke atas, memiliki postur gendut dan kumis tebal. Sejak tadi terus melirik ke arah Wati dengan tatapan yang membuat Wati risih.
"Saya pilih yang enam ratus, karena tinggal dengan anak saya." Sahut Bu Tria angkuh dan langsung di antar menuju kamar yang masih kosong.
__ADS_1
"Silahkan masuk, ini kuncinya!
Kalau ada apa apa hubungi saya saja!" Pak Tarman menyerahkan kunci kamar pada Bu Tria dan menerima uang yang disodorkan oleh Bu Tria dengan senyum sumringah.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Semoga betah tinggal disini." Pak Tarman memutar arah dan pergi meninggalkan Wati juga ibunya di kontrakan.
"Oh iya, namanya siapa?
Dan berikan foto kopi KTP kalian, buat laporan ke RT." pak Tarman membalikkan tubuhnya dan meminta foto kopi KTP pada Wati dan ibunya.
"Kami masih belum punya foto kopi KTP, biar nanti sore saja kita antar kerumahnya pak Tarman.
Nama saya Tria dan ini anak saya, Wati!" sahut Bu Tria yang menjawab dengan nada datar, tau kalau pemilik kontrakkan punya rasa pada anaknya dari cara pak Tarman melihat Wati.
"Baiklah, saya tunggu." Pak Tarman mengedipkan matanya pada Wati, dan membuat Bu Tria langsung mendelik dan Wati bergidik risih melihat aksi pemilik kontrakkan.
"Kamu bisa manfaatin badut tua itu, Wat!
Sepertinya dia suka sama kamu. Plorotin saja uangnya, dan minta gratis tinggal disini." Bu Tria bicara dengan Wati dengan terkekeh, tidak ingin membuang kesempatan.
"Ibu mau aku dengan laki laki tua itu? ish amit amit, gak ah!" sahut Wati dengan bergidik dan mulut cemberut, kesal dengan ide ibunya.
Manfaatin saja, sampai kita bisa punya tempat tinggal yang layak." sahut Bu Tria santai dan merebahkan tubuhnya di atas kasur yang ada diruangan yang sempit, hanya cukup untuk tidur saja.
"Baiklah, akan Wati coba. Barangkali kita bisa menfaatin badut tua itu. Sepertinya dia tidak punya istri!" sahut Wati dengan senyuman kecut.
"Dia itu duda, ibu tau dari teman teman ibu yang rumahnya tak jauh dari sini.
Jadi mau kamu goda dan manfaatin pasti aman, kamu tenang saja, yang penting dapat uang dan kita gak susah lagi." sahut Bu Tria masih dengan gaya santainya, seolah menjadikan anaknya umpan adalah hal yang biasa dilakukan Bu Tria.
"Iya! iya! Wati tau apa yang harus Wati lakukan, ibu tenang saja." sahut Wati menahan kesal, tapi tidak ada yang bisa dilakukan selain mengikuti ide ibunya, karena Wati juga tidak mau hidup miskin dan susah.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pak Suko ketawa saat melihat kotak perhiasan yang sudah menghilang dari kamarnya.
Pak Suko sudah punya feeling kalau Tria akan mencurinya, maka dari itu dia menukar seluruh perhiasan peninggalan istrinya dengan perhiasan imitasi. Yang asli dia simpan ke dalam brankas yang tidak ada satupun yang tau, bahkan anak anaknya juga tidak ada yang tau.
Pak Suko menekan tombol pin brankas miliknya yang berada di belakang lemari bajunya.
Banyak sekali perhiasan peninggalan istrinya di dalam sana, dan ratusan juta uang cash yang dia simpan untuk berjaga jaga kalau ada kebutuhan mendadak. Serta surat surat yang harus dia amankan.
__ADS_1
"Kamu pasti shock kalau perhiasan itu imitasi, Tria. Jadi manusia kok serakah dan licik sekali. Sekarang rasakan sakit hatimu karena aku sudah menjebak mu bahkan mempermalukan kamu!" hahahaaaa pak Suko tertawa senang, membayangkan ekspresi malu Tria dan Wati.
Pak Suko kembali mengunci brankas miliknya, dan menutup dengan lemari baju miliknya.
"Aman" lirih pak suka dengan senyuman lega.
"Asalamualaikum"
Terdengar suara salam dari luar, suara yang tidak asing lagi bagi pak Suko.
Suara anaknya Candra dan adiknya Hanifah.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️
__ADS_1