Pembalasan Istri Yang Terhina

Pembalasan Istri Yang Terhina
menjual rumah


__ADS_3

"Aku akan bicarakan dulu pada putriku, karena ini bukan tentang hidupku lagi, tapi juga tentang perasaan dan kenyamanan anakku.


Dan apakah Mas Dafi juga sudah bicara pada keluarga Mas, tentang siapa diriku?


Karena aku gak mau, nantinya akan ada masalah hanya karena status dan kasta.


Aku ingin punya kehidupan yang tenang dan nyaman dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Aku yakin Mas Dafi paham dengan yang aku maksud ini!" sahut Halwa pada akhirnya. Tak mau serta Merta langsung mengiyakan Tanpa meminta persetujuan sang anak dan juga tak mau menutupi keadaannya pada keluarga Dafi yang sudah ia tau jika Dafi dari keluarga yang cukup terpandang di kampung nya.


Terkadang cinta tak memandang kasta seseorang, hati jika sudah bicara, keyakinan dan keinginan seolah harus berjalan sesuai harapan.


Cinta itu tidak rumit, yang rumit adalah segala aturan yang kadang dibuat buat untuk membuat rumit sebuah hubungan.


Dafi tersenyum dan menarik nafasnya dalam sebelum menjawab ucapan Halwa yang panjang lebar.


"Keluargaku selalu membebaskan aku dengan pilihan hidupku, Asal tidak melanggar syariat.


Dan aku juga sudah mengutarakan maksudku untuk melamar kamu pada kedua orang tuaku. Mengatakan semua tentang kamu yang aku tau, dan mereka tidak masalah, justru mama sangat ingin segera bertemu dengan kamu." sahut Dafi mantap di seberang sana. Memang, Dafi tidak main main dengan niatnya, sejak pertemuan pertama dengan Halwa, hatinya sudah merasakan keyakinan akan perempuan yang langsung bisa memanjakan matanya dengan kecantikan alami yang dimilikinya.


"Baiklah, Mas!


Aku akan bicarakan dulu sama anakku, dan juga beri aku waktu untuk meyakinkan diriku untuk memutuskan lamaran kamu. Karena jujur aku masih takut dan ragu bisa menjadi istri yang baik buat mas Dafi." balas Halwa jujur mengutarakan isi hatinya.


"Percayalah, aku memilih kamu karena aku tau, kamu adalah wanita yang tepat untuk jadi ibu dari anak anakku." sahut Dafi yakin dan kembali menegaskan pada Halwa tentang kesungguhan hatinya.


"Insyaallah, Mas!


Beri aku sedikit waktu lagi, nanti aku akan mengabari kamu lagi." balas Halwa ragu ragu, trauma dari pernikahan pertamanya belum sembuh seutuhnya.


"Baiklah! jangan lama lama. Karena aku gak ingin hidup dalam bayanganmu saja. Aku ingin kamu segera menjadi nyata, nyata untuk aku miliki, nyata untuk aku sentuh, dan nyata kita hidup seatap." balas Dafi yang membuat Halwa langsung merona dan tersenyum begitu indahnya, namun tak terlihat oleh Dafi yang tengah tersenyum juga membayangkan wajah ayu tanpa make up nya Halwa.


"Insyaallah, Mas." sahut Halwa singkat dan tak tau harus bicara apa lagi, karena Halwa memang bukan tipe orang yang suka bicara, meskipun dia sangat pandai merangkai kata kata dalam setiap novelnya.

__ADS_1


"Yasudah, aku mau lanjutin kerja dulu ya. Aku tunggu kabarnya, inget jangan lama lama!" balas Dafi yang sengaja ingin menggoda Halwa yang disana tengah salah tingkah padahal Dafi tidak sedang ada di dekat nya.


"Iya, Mas! Insyaallah!" sahut Halwa lirih dengan menyembunyikan getar gugup di dadanya.


"Asalamualaikum, jaga kesehatan nya!" tutup Dafi mengakhiri obrolan dan Halwa pun menjawab salamnya dengan senyuman yang membuat hatinya serasa mau copot. Tak menyangka, di usianya yang tak lagi muda, justru kembali merasakan getar cinta dari lelaki yang terlihat memujanya tanpa keangkuhan dan hinaan seperti yang Yudha lakukan.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Bu Imah dengan berbagai cara menawarkan rumah nya dengan harga yang tak begitu tinggi, karena memang sedang sangat butuh uang untuk mencukupi kebutuhannya sehari hari. Padahal tak perlu menjual rumah, ada mobil Yudha yang mungkin bisa dijual lebih dulu, namun Bu Imah maupun Yudha tak punya pikiran kesana, rumah satu satunya yang jadi pilihan untuk menjadi solusi keuangannya.


"Bu Imah yakin mau jual rumahnya?" tanya Bu Sarah, salah satu tetangga yang terkenal kaya dan sukses, karena suaminya bekerja di salah satu perusahaan ternama dengan posisi bagus.


"Iya, makanya saya tawarkan sama Bu Sarah. Bu Sarah kan banyak uang, siapa tau tertarik dengan harga yang saya tawarkan." sahut Bu Imah yakin dan bersemangat.


"Maaf sebelumnya ya, Bu!


Apa gak sayang kalau harus dijual? Terus Bu Imah nanti mau tinggal di mana?" balas Bu Sarah masih dengan sikap tenang dan bersahaja. Meskipun kaya, Bu Sarah orang yang baik dan tak pernah sombong, bicaranya pun santun pada siapa saja, sehingga semua warga begitu sungkan padanya.


"Kok Bu Sarah diam saja, benar kan yang saya katakan, kalau Halwa itu jahat dan tidak tau balas budi." kembali Bu Imah bicara ngawur sesuai dengan pikirannya sendiri.


"Maaf ya, Bu!


Lebih baik janganlah menyalahkan Halwa soal masalah yang menimpa ibu sekeluarga, karena memang Halwa gak salah dan tak ada sangkut pautnya. Dia hanya mantan menantu ibu, saat sudah lepas dari Yudha mereka sudah punya kehidupan masing masing. Jadi ya itu, Halwa tidak punya kewajiban menampung Bu Imah, kecuali Bu Imah itu ibu kandungnya." Balas Bu Sarah bersikap tegas dan tidak mau membenarkan apa yang Bu Imah bicarakan.


"Kok Bu Sarah seperti membela Halwa begitu?


Ibu gak tau aja, seperti apa perempuan itu, licik, sombong dan serakah." sahut Bu Imah yang masih kekeuh dengan pendapatnya.


"Saya kenal baik sama Halwa, sering belanja ke tokonya, sering ngobrol juga. Halwa wanita yang mandiri dan cerdas, dia baik dan sopan kok." kembali Bu Sarah mengutarakan pujiannya pada Halwa yang membuat Bu Imah semakin kesal dibuatnya.


"Sudah ah, gak usah lagi bahas wanita itu. Jadi kesal kan jadinya." sungut Bu Imah gak suka dan membuat Bu Sarah menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Gimana, ibu jadi beli rumah saya gak?


Di jamin murah banget loh itu, jauh dari harga pasar." kembali Bu Imah membahas tentang tujuan utamanya, menawarkan rumahnya pada Bu Sarah.


"Saya sih tertarik ya, Bu! Tapi ya itu, harus bicara dulu sama suami. Nanti saya akan bicarakan sama suami saya, nunggu Mas Hadi pulang dari kantor ya, Bu?" sahut Bu Sarah hati hati, takut menyinggung Bu Imah yang memang memiliki cara berpikir yang unik dan mudah sekali marah.


"Hmm, apa gak mobilnya Yudha saja yang dijual, Bu?


Kalau rumah kok sayang ya, nanti Bu Imah juga repot cari kontrakan. Itu menurut saya sih Bu, tapi ya semua kembali sama Bu Imah nya gimana!" sambung Bu Sarah memberanikan diri mengatakan idenya pada Bu Imah yang langsung melotot dan mulutnya terlihat terbuka dengan apa yang disampaikan oleh Bu Sarah tetangganya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️

__ADS_1


__ADS_2