
"Sekarang yang penting, Yudha sama Yeni keluar dulu dari penjara. Aku harus bisa menekan Jarwo untuk mencabut tuntutannya dan mengakui perselingkuhan nya dengan perempuan itu. Agar Yeni mendapatkan keadilannya, enak saja, mereka selingkuh dan senang senang, anakku dipenjara karena membela haknya sebagai istri. Apapun yang dilakukan Yeni adalah haknya sebagai istri, Jarwo saja yang banyak menuntut, dasar laki laki kurang ajar dan mata keranjang!" sungut Bu Imah berapi-api, rasa tak suka dan kebencian dihatinya membuatnya lupa, jika dirinya dan anak anaknya juga sudah melakukan sebuah kesalahan yang lebih fatal, menyakiti hati seorang menantu yang begitu baik seperti Halwa dan Yeni sudah menginjak injak harga diri suaminya dengan sikap angkuh dan pembangkangnya pada Jarwo yang dulu begitu mencintainya.
Mau tidak mau, akhirnya Bu Imah berangkat sendirian ke kontrakkan Jarwo.
Bersikap biasa saja, meskipun ada sedikit rasa cemas di hatinya.
Saat Bu Imah datang, rumah Jarwo sudah rame. Ada beberapa orang yang hadir sebagai saksi perjanjian antara Jarwo dan Bu Imah.
Bahkan orang tua Jarwo juga turut datang, menyaksikan kesepakatan antara anaknya dan mantan besannya.
Bu Imah sedikit menciut karena datang sendiri tanpa ada yang mendampingi. Namun keangkuhan dan sikap sombongnya mengalahkan ketakutannya. Yakin kalau dia yang akan memenangkan perdebatan dan melakukan perjanjian sesuai keinginannya.
Semua mata tertuju pada kedatangan Bu Imah.
Tanpa mengucap salam dan permisi, Bu Imah langsung masuk kedalam dan duduk di salah satu kursi kosong yang ada di ruangan itu. Sikap angkuhnya tidak pernah hilang, meskipun musibah datang mengujinya.
"Langsung saja tanda tangani perjanjiannya.
Aku ingin anak anakku cepat bebas dari penjara. Dan kamu Jarwo, harus tanggung jawab dengan membayar ganti rugi, karena ulahmu, hidup kami semua berantakan." cerocos Bu Imah tanpa ada rasa sungkan dan malu.
Semua mata langsung tertuju pada Bu Imah, tidak ada sopan santunnya sama sekali, padahal ada beberapa orang yang hadir, namun Bu Imah seolah tak menganggap keberadaan mereka.
"Tidak tau toto kromo saja sekali. Datang itu dengan salam dan permisi, bukan nyelonong kayak orang gak ngerti cara menghormati orang lain saja.!" Celetuk ibunya Jarwo tak suka melihat sikap angkuhnya Bu Imah.
"Urusanku itu cuma sama Jarwo. Aku tidak punya urusan dengan kalian.
Jarwo! mana yang harus aku tanda tangani, aku tidak ingin lama lama berada disini, sempit dan gerah!" sinis Bu Imah tetap dengan gaya angkuhnya.
Semua yang hadir hanya bisa menggelengkan kepalanya dan mengusap dadanya melihat kelakuan Bu Imah yang sama sekali tidak bisa menghargai orang lain.
"Silahkan ibu baca dulu, biar ibu tidak salah memutuskan keputusan nantinya." Jarwo menyerahkan dua kertas lembaran putih pada Bu imah, dan Bu Imah langsung menerima dengan mencebikkan mulutnya.
Lembaran pertama Bu Imah baca satu persatu poin perjanjian yang di tulis Jarwo, dan itu sesuai dengan kesepakatan yang sudah ditentukan.
__ADS_1
Poin pertama pencabutan tuntutan dan pembebasan Yeni juga Yudha dari penjara.
Poin kedua, membayar uang ganti rugi sebanyak lima belas juta.
poin ketiga, Bu Imah sekeluarga tidak boleh lagi mengganggu kehidupan Jarwo sekeluarga apapun alasannya.
Bu Imah senyum senang dengan poin poin perjanjian yang dibuat Jarwo, Bu Imah merasa diuntungkan dan sangat beruntung, terlalu senang, sehingga Bu Imah tidak lagi baca lembaran kertas yang kedua. Bu Imah dengan semangat langsung menandatangani kedua kertas putih yang disodorkan Jarwo padanya.
Setelah Bu Imah tanda tangan, pak RT dan dua orang warga ikut membubuhkan tanda tangan sebagai saksi, tanpa ada paksaan.
Jarwo tersenyum ganjil, karena rencananya berjalan dengan sangat mulus, padahal lembar kedua adalah perjanjian yang sangat merugikannya.
Setelah selesai ditandatangani, Jarwo menyimpan lembaran tersebut sebagai bukti, dan menyerahkan uang lima belas juta yang ditaruh di dalam tas kecil pada Bu Imah.
"Ibu tidak mau baca lagi isi dari perjanjian itu, jangan sampai nanti menyesal karena kaget!" Jarwo mengingatkan pada mantan mertuanya, namun karena Bu Imah terlalu senang mendapatkan uang lima belas juta, hingga abai dengan peringatan yang Jarwo lontarkan.
"Tidak perlu. Aku sudah membacanya, masak kudu diulang ulang kayak anak TK saja.
Yang penting, kamu segera cabut laporannya di kantor polisi, biar anak anakku segera bebas.
"Yasudah kalau ibu gak mau baca lagi, yang penting aku sudah mengingatkan.
Setelah ini aku akan ke kantor polisi untuk mencabut laporan, dan tolong ibu berikan surat perjanjian itu pada Yudha setelah dia keluar dari penjara. Jangan dibuang, karena lembaran yang kedua belum ibu baca kan?" Jarwo kembali mengingatkan dengan senyuman miring, berusaha bersikap tenang dan merasa menang. Karena setelah ini, dirinya akan terbebas dari keluarga mantan mertuanya yang absurd itu.
"Heleh banyak ngomong kamu, tidak usah mengajariku, aku sudah paham apa yang harus aku lakukan. Aku tunggu kamu membebaskan anakku. Dan di hadapan kalian semua, ingat dan catat ya, aku tidak akan pernah Sudi menginjakkan kakiku ke rumah ini lagi. Dan juga anak anakku tidak Sudi berurusan dengan laki laki tukang selingkuh kayak dia. Biar semua tau, kalau keluarga ku tidak level punya besan kayak kalian. Sudah miskin, banyak tingkah pula!" sungut Bu Imah berapi api, nada hinaan yang terlontar dari mulutnya akan jadi bumerang untuk dirinya suatu hari nanti. Dan Bu Imah tidak menyadari semua itu.
Setelah mengatakan kekesalan di hatinya, Bu Imah langsung pulang tanpa pamitan, yang dimasukkan ke dalam tasnya dan juga surat perjanjiannya.
Semua orang hanya bisa menatap tak percaya dengan sikap Bu Imah yang seolah tak punya etika sama sekali.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Jarwo! apa kamu yakin akan mencabut laporan itu?" Pak RT memastikan sekali lagi dengan apa yang akan Jarwo putuskan.
__ADS_1
"Insyaallah yakin, Pak!
Karena perjanjiannya sudah tertulis jelas jika mereka tidak akan pernah menganggu kami, kalau itu terjadi maka mereka akan masuk penjara dan membayar denda dengan nilai tinggi.
Dan juga di lembar kedua, Yudha bersedia membayar ganti rugi atas kerusakan dan juga luka parah di wajah saya karena ulahnya, sebesar dua puluh lima juta. Dan sayangnya Bu Imah tidak mau membacanya terlebih dulu, langsung saja tanda tangan. Dan pak RT juga yang lainnya saksi jika itu bukan pemaksaan, tapi Bu Imah sendiri yang langsung menandatangani." Jarwo menjelaskan dengan sikap yang begitu tenang. Orang licik dan kejam seperti Bu Imah juga pantas mendapat pelajaran yang setimpal.
"Tadi aku juga sudah memvideokan selama Bu Imah ada disini, jika dia menuntut macam macam dan mengelak, Vidio ini bisa jadi bukti kalau Bu Imah menandatangani surat itu tanpa paksakan dari manapun. Ini bisa jadi senjata buat mas Jarwo nantinya." salah satu tetangga yang ikut hadir ikut angkat bicara dan menyerahkan Vidio yang sempat direkamnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️