Pembalasan Istri Yang Terhina

Pembalasan Istri Yang Terhina
kamu sudah dewasa, nak!


__ADS_3

"Sudah! sudah! nanti di datangi pak RT baru tau rasa, jangan buat onar dirumahku." Bu Ratna menimpali pertikaian dua orang tetangganya yang tak ada mau mengalah di antara mereka.


"Kalian semua sama saja! Senang melihatku susah. Aku sumpahin kalian juga akan hidup susah bahkan lebih susah!" sungut Bu Imah kesal dan kembali meneruskan langkahnya pulang kerumah. Perutnya sudah sangat lapar, meladeni tetangganya yang julid akan semakin membuat perutnya melilit.


Hidupnya memang kini sedang susah, namun sifat dan sikap Bu Imah belum juga berubah. Tak mau merenung tersebab kesalahannya, namun justru seringkali menyalahkan orang lain dalam setiap masalah yang menimpanya.


Hari ini Bu Imah bisa sedikit merasa lega, karena perutnya tidak lagi menahan lapar, sayur ikan dan buah buahan ada di atas mejanya, meskipun tidak banyak, tapi setidaknya bisa membuatnya senang, karena bisa makan dengan layak.


Bu Imah menikmati makanan yang diberikan Bu Sarah dengan lahapnya, seperti orang yang gak pernah makan, padahal dulu waktu Halwa jadi menantunya, selalu memasak masakan yang enak enak tanpa Bu Imah mikir dari mana uangnya.


"Kalau saja Halwa tidak berubah jadi perempuan pemberani, pasti saat ini aku masih hidup enak dan seperti ratu. Pokoknya Yudha harus bisa merayu Halwa agar mau jadi istrinya lagi, apalagi saat ini Halwa sudah kaya dan banyak uang. Tentu hidupku dan anak anakku akan terjamin dengan hartanya." gumam Bu Imah sambil mengunyah makanan di mulutnya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Dafi sudah mengutarakan niatnya pada kedua orang tuanya kalau akan melamar Halwa. Mengatakan keadaan dan status Halwa tanpa ada yang ingin Dafi tutupi. Agar kelak tidak terjadi salah paham. Karena Dafi yakin, jika orang tuanya tidak pernah melihat status dan harta dari seseorang.


Asalkan dia orang baik dan paham dengan agama pasti memiliki sifat dan kepribadian yang baik.


Sedangkan Halwa juga sudah bicara sama anak gadisnya yang sedang di asrama sekolahan.


Halwa menceritakan sosok Dafi dan niatnya untuk menjadi ayah sambungnya.


Hasna yang sudah beranjak remaja dan memang anak yang cerdas, langsung paham dengan apa yang bundanya katakan. Bagi Hasna, asal ibunya bahagia, dan laki laki itu benar benar baik, tak masalah dan merestui sang ibu dengan binar bahagia.

__ADS_1


"Kalau bunda yakin dan memang om Dafi benar benar orang baik, Hasna sih setuju saja. Hasna ingin bunda bahagia dan di cintai." sahut Hasna memberi komentarnya setelah mendengarkan curhatan ibunya.


"Apa Hasna yakin tidak apa apa, bunda nikah sama om Dafi Hasna ridho, nak?" balas Halwa memastikan dengan mata yang sudah berembun.


"Bund! Hasna itu sayang banget sama bunda, Hasna ingin selalu yang terbaik untuk bunda. Jika bunda yakin dengan perasaan bunda, dan bunda percaya dengan om Dafi. Hasna oun juga akan percaya dan menerima keputusan bunda. Asal. yjda harus bahagia." sahut Hasna yakin dan menatap bundanya dengan binar bahagia, berharap kebahagiaan menghampiri wanita yang sangat dicintainya.


"Nanti bunda akan ajak om Dafi untuk ketemu Hasna ya?


Kalian boleh bicara dan Hasna juga boleh mengungkapkan apapun yang ada di hati Hasna. Dan ingat, jangan paksakan diri menerima saat Hasna merasa gak nyaman dengan kehadiran om Dafi. Karena bahagia bunda ada pada Hasna. Titik!" sahut Halwa dengan mata yang sudah basah. Tak ingin menyakiti hati putrinya. Karena itu, Halwa selalu membicarakan apapun terlebih dulu sebelum mengambil keputusan demi menjaga hati dan bukti sayangnya pada sang anak.


Hasna memeluk manja bundanya, pun Halwa yang langsung mendekap erat sang anak penuh cinta.


"Bunda ajak saja om Dafinya, Insya Allah Hasna juga senang mengenalnya. Karena Hasna tau, bunda itu orang yang kaku soal laki laki, jadi kalau bunda bisa seserius ini sama om Dafi, pasti om Dafi orang baik dan tentunya sangat tampan!" Hasna menggoda bundanya dan mengutarakan isi hatinya. Membuat Halwa tersenyum dan semakin sayang sama anak gadisnya yang semakin dewasa dan sangat cerdas.


"Insyaallah bund, semoga!" sahut Hasna tersenyum dan mencium pipi bundanya yang basah oleh air mata.


"Jangan nangis, Hasna gak mau lihat bunda nangis, nanti Hasna ikut sedih!" sambung Hasna yang mengusap lembut pipi bundanya dengan jari jari lentiknya.


"Tangis bahagia sayang, bunda nangis karena bahagia dan bersyukur memiliki putri sebaik dan secersa kamu, shalehanya bunda, semoga kelak kamu menemukan laki laki yang tulus menyayangi dan mencintaimu, nak!" sahut Halwa terharu dan kembali mengetatkan pelukannya pada sang anak.


"Bund, Hasna kembali belajar dulu ya. Jam jenguknya sudah habis!" Hasna melepaskan pelukan bundanya dengan berat, namun dia harus kembali lagi ke kelas dan belajar.


"Iya sayang, jaga diri baik baik ya. Gak boleh telat makan. Ini bunda bawain oleh oleh, nanti bagi sama teman teman ya!" Halwa memberikan beberapa kantong kresek berisi berbagai cemilan.

__ADS_1


"Bunda pulang ya, asalamualaikum!" Halwa sekali lagi memeluk anaknya penuh rindu dan mengecup pucuk kepalanya yang tertutup jilbab. Lalu melangkah keluar d ndang senyum kelegaan karena sang putri sudah begitu bijak dalam berpikir. "Kamu sudah dewasa, Nak!" gumam Halwa dengan senyuman harus terukir dibibirnya yang indah.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️

__ADS_1


__ADS_2