Pembalasan Istri Yang Terhina

Pembalasan Istri Yang Terhina
Balas dendam


__ADS_3

"Maksud kamu apa to, Yudh?


Wong kita untung dari uang ganti rugi yang diberikan Jarwo. Lima belas juta loh, Yudh!


Lima belas juta! bayangkan! Uang segitu bisa buat modal Yeni nantinya." sahut Bu Imah berapi api, belum menyadari jika isi perjanjian tersebut begitu membebani dirinya dan anak anaknya.


Yudha memejamkan matanya untuk meredam emosi di hatinya. Tak bisa menyalahkan ibunya yang memang tak begitu paham. Jarwo lebih cerdik dan rapi dalam membalas tuntutan dari Bu Imah.


"Apa ibu tidak baca isi kertas ini semuanya?


Kota sudah dibodohi laki laki brengsek itu, Bu!" duding Yudha emosi, hingga urat urat lehernya terlihat semua. Namun Jarwo tetap memilih tenang menyikapi emosi Yudha.


"Maksud kamu apa to, Yudh?


Kan, kamu sama teni sudah dibebaskan, dan Jarwo juga sudah memberikan uang lima belas juta sebagai ganti rugi pada kita. Lalu apa yang membuat kamu marah?" sungut Bu Imah tak suka dengan sikap Yudha yang emosional, padahal baru saja bebas dari dalam penjara.


'Jarwo itu licik, Bu!


Dia sudah menipu kita. Dia meminta ganti rugi sebesar dua puluh lima juta dan meminta kira untuk tidak lagi mengganggu keluarganya.


Kalau kita tidak Meu membayar uang ganti ruginya, maka ibu bersedia dipenjara karena ibu yang bertanggung jawab, yang sudah menandatangani surat perjanjian tersebut." jelas Yudha dengan kesalnya.


Bu Imah langsung shock mendengar penuturan anak laki lakinya, bukannya untung tapi malah buntung.


"Apa?


Coba lihat kertas itu." Bu Imah merebut keras yang masih ditangan Yudha dengan kasar, lalu kembali membaca satu demi satu isi perjanjian yang tadi ia tandatangani tanpa membacanya lebih teliti terlebih dahulu.


"Ini tidak benar!


Aku tidak terima dicurangi kayak gini.


Enak saja minta uang dua puluh lima juta, sudah selingkuh masih memeras lagi!" sungut Bu Imah benci dan menatap tajam pada Jarwo yang masih terlihat tenang dan tidak terpancing emosi ulah kata kata kasar yang keluar dari bibir Bu Imah dan Yudha.


"Bukankah sebelum ibu menandatangani, aku sudah meminta ibu untuk membacanya lebih dulu, tapi ibu abai dengan ucapan ku. Jadi jangan salahkan aku, Bu.


Dan ingat, uang itu harus dibayar sebelum tanggal dua puluh. Kalau tidak, maka siap siap ibu masuk ke dalam penjara, dan apakah anak anak ibu akan rela menggantikan ibu dipenjara?


kurasa tidak ada diantara mereka yang akan perduli, dan rela menggantikan posisi ibunya." Sahut Jarwo santai dengan senyuman miring yang terukir dari bibirnya.


Yudha semakin murka dibuatnya, Jarwo sengaja memancing emosi nya. Namun Yudha harus bisa menahan diri, karena perjanjian untuk tidak lagi melukai Jarwo.

__ADS_1


Jika dilanggar, Yudha akan kembali masuk kedalam penjara dan membayar denda dengan jumlah yang lebih besar.


"Ah Sial!" Yudha mengerang frustasi, dan menjambak rambutnya kasar.


Jarwo hanya menatapnya santai, dan memilih pergi karena Yudha sudah membaca surat perjanjian itu dan menunggu mereka membayarnya.


"Lihat, apa yang sudah ibu lakukan?


Aku sudah mengingatkan ibu untuk membacanya, baca semua pelan pelan dan pahami baru tanda tangan. Tapi ibu malah tidak membacanya. Dan ini semakin membuat kita susah.


Ibu dapat uang lima belas juta, tapi kita harus membayar dua puluh lima juta pada Jarwo sebelum tanggal dua puluh." Aaarghh, Yudha benar benar kesal dan membentak Bu Imah dengan kasar.


"Kamu sudah berani sama ibu, yudh. Durhaka kamu!


Harusnya kamu mikir, ibu sendirian menghadapi mereka. Bisa saja mereka menipu ibumu d Ngan sikap curang mereka." balas Bu Imah tak terima jika Yudha menyalahkannya.


"Kalau bukan karena perjuangan ibumu, kamu masih mendekam di dalam penjara. Menyesal ibu membantumu keluar dari penjara, kalau justru kamu menyakiti hati ibumu!" Bu ah merasa sakit hati karena Yudha terus menyalahkan dirinya dan tidak menghargai perjuangannya agar dia bisa terbebas dari jeratan hukum.


Yudha terdiam dengan amarah Bu Imah. Sikapnya susah salah d Ngan menyudutkan ibunya. Kalau bukan karena ibunya, mungkin dia masih berada di penjara.


"Maafkan Yudha, Bu!


Yudha hanya emosi karena ibu bisa tertipu dengan kelicikannya Jarwo." Sahut Yudha melemah dan mencoba menahan amarahnya.


Sedangkan Yudha, semakin pusing memikirkan dari mana mendapatkan uang untuk membayar ganti rugi yang Jarwo minta. Uang hasil penjualan mobilnya akan digunakan untuk modal usaha, tapi ini justru terkena masalah baru ulah kecerobohan ibunya.


"Ibu!" terdengar suara Yeni yang sudah berada tepat di hadapan Bu Imah.


"Yeni!" lirih Bu Imah menatap anaknya yang terlihat kurus dan kusam, Yeni tak secantik biasanya.


Yeni memeluk Bu Imah bahagia, bersyukur sudah bisa bebas dan bisa menghirup udara bebas lagi. Rasa sakit hatinya akan dia balasan dengan cara yang lain, cara yang hanya dua sendiri yang tau bagaimana memberi pelajaran pada Jarwo dan istri mudanya.


"Kita pulang!


Kita lanjutkan bicara di rumah saja!" Bu Imah melepaskan pelukan Yeni dengan wajah kusut.


Kakinya melangkah keluar meninggalkan kedua anaknya yang terlihat menatap punggung ibunya dengan tatapan nanar.


"Ada apa sama ibu, Yudh?" Yeni beralih menatap adiknya yang terlihat membuang nafasnya kasar.


"Jarwo sudah menipu kita, mbak!

__ADS_1


Dia memanfaatkan keadaan dengan menulis perjanjian yang memberatkan kita.


Dan ibu yang sudah terlanjur puas dengan ganti rugi yang Jarwo berikan, sehingga ibu tidak teliti dan tidak membaca semua isi perjanjian yang dibuat, langsung menandatangani begitu saja." Sahut Yudha kecewa dan kasih sakit hati dengan ulah Jarwo yang sudah menipu keluarganya.


"Maksud kamu gimana?


Bukankah kita sudah dibebaskan dan ibu sudah menerima uang ganti ruginya, lalu dia nipu kira apa lagi?" balas Yeni penasaran dan tak sabar dengan jawaban dari Yudha.


"Jarwo meminta kita membayar ganti rugi, karena sudah menghajar dan membuat kerusuhan dirumahnya, sebesar dua puluh lima juta.


Dan dia juga mengancam kita untuk tidak menganggu keluarganya lagi, kalau kita masih melanggar, maka kita akan masuk penjara lagi." terang Yudha dengan tangan yang mengepal erat, masih emosi dengan kelakuan Jarwo yang dianggapnya memanfaatkan keadaan dan bersikap curang.


"Bayar saja, dan biarkan dia merasa menang untuk sementara. Aku sudah punya rencana untuk menghancurkan hidup mereka tanpa harus mengotori tanganku." sinis Yeni dingin dengan kilatan benci di kedua bola matanya, rasa sakit hatinya bisa membuatnya melakukan apa saja demi membalas dendam pada mantan suaminya dan selingkuhannya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

__ADS_1


Happy ending ❤️


__ADS_2