
"Apa kamu bilang, kamu cantik?
Seksi?
Kaca mana kaca?
Wajah buluk kayak gitu cantik dari mana?
Seksi? Badan kurus kayak triplek kok seksi, yang ada kering dan tak ada menarik menariknya.
Ih amit amit, hello bangun woy bangun, mimpinya jangan tinggi tinggi. Jatuh patah tulang tau rasa!" sahut Monika dengan gaya bar barnya, orang orang yang ada disekitar menahan tawa mendengar ucapannya, dan menatap Wati dengan pandangan mengejek.
"Sialan, mulut kayak comberan!
Dasar perempuan gila!" Wati melayangkan tangannya ke arah wajah Monika, namun dengan cepat Monika menepisnya, dengan geram Monika memelintir tangan Wati lalu ia hempaskan begitu saja, membuat Wati terjungkal dan mengaduh kesakitan.
"Rasain, dasar ondel ondel!" sungut Monika puas lalu menarik tangan Halwa pergi meninggalkan Wati yang masih meringis kesakitan.
Tidak ada satupun yang Sudi menolongnya, justru hampir semua terlihat menahan tawa melihat keadaan Wati yang berantakan.
"Kurang ajar, Awas saja kalian!
Aku tidak akan tinggal diam, ajan aku hancurkan acara pernikahanmu, janda brengsek!" teriak Wati seperti orang kesetanan, tapi sama sekali tidak di hiraukan oleh Halwa dan Monika.
Mereka masuk mobil dan pergi begitu saja. Membiarkan Wati sakit hati oleh amarahnya sendiri.
"Kamu kuat banget mbak, belajar bela diri dari mana?" Halwa terkekeh sambil fokus menyetir menatap jalanan di depannya.
"Orang kayak rempeyek gitu, gak butuh tenaga banyak untuk membuatnya kesakitan. Huh gemes banget aku tuh sama mulutnya itu, persis kayak comberan!" sungut Monika berapi api, membuat Halwa tertawa dan menggelengkan kepalanya dengan reaksi Monika yang masih kesal dengan Wati.
"Entahlah, aku itu kadang bingung menghadapi orang orang seperti mereka. Dulu keluarga mantan suamiku yang selalu bersikap jahat dan seenaknya, sekarang mereka mengharap aku kembali setelah melihatku sukses. Dan kini harus menghadapi Wati yang tak kalah gilanya dengan keluarga mantan mertua. Nasib!" seru Halwa terkekeh mengenang nasibnya saat jadi istrinya Yudha.
"Apa mantan suamimu masih suka mengganggu?" Monika menatap serius ke arah Halwa yang tetap terlihat tenang, meskipun sudah dihina dan caci maki oleh Wati di hadapan banyak orang.
"Mereka seperti tak pernah kekah mengusikku.
Tadi pagi mas Yudha datang ke toko, memintaku kembali dengannya, aku menolak dan dua terus mengancam ku. Tak habis pikir dengan apa yang ada di pikiran mereka." sahut Halwa enteng dan terlihat menghirup nafasnya dalam dalam. Membuang sesak yang hadir dengan sikap tak baik oleh mantan dan juga Wati.
"Biarkan saja!
ayang penting mbak Halwa harus hati hati, abaikan ancamannya, nanti setelah mbak menikah dengan mas Dafi, mereka juga akan menyerah dengan sendirinya." Sahut Monika dengan tatapan lurus kedepan.
"Iya, tadi mas Dafi juga memintaku untuk tidak lagi keluar rumah sampai acara pernikahan kami.
__ADS_1
Urusan toko, aku ingin meminta bantuan pada Bella, setelah menjemput Hasna, kamu akan tetap rumah saja untuk menghindari sesuatu yang tidak pernah kita tau. Mereka orang orang yang nekad, yang berani menghalalkan segala cara demi ambisinya." Sahut Halwa berusaha tenang dan menyikapinya dengan kepala dingin, agar tetap berpikir jernih dalam mengambil keputusan.
"Iya, aku setuju dengan mas Dafi.
Lebih baik mbak Halwa dirumah saja untuk sementara. Gak usah hawatir, kalau perlu apa apa bilang saja aku, insyaallah aku akan bantu dengan senang hati." sahut Monika yakin dengan senyuman merekah dibibirnya yang indah.
Setelah menjemput Hasna di asrama, Halwa mengajak Hasna belanja apa yang jadi keperluan Hasna, baju dan sepatu sesuai keinginan putri kesayangannya. Lalu melajukan mobilnya ke arah komplek rumahnya.
Memilih tinggal dirumah dan tidak lagi keluar dari area komplek demi menghindari hal yang tidak di inginkan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Gimana yudh, Kamu berhasil meyakinkan Halwa untuk rujuk kembali?" sambut Bu Imah saat melihat anak lelakinya memasuki rumah.
Yudha terlihat lesu dan tak ingin menanggapi ocehan ibunya, membuatnya semakin pusing dan sakit hati dengan penolakan Halwa.
"Ditanyain kok diam saja, kamu sudah bicara Jan sama hawa?
Dia setuju lah tentunya, wong kamu itu ganteng dan juga pantas jadi suaminya, dari pada kaki laki yang kemarin ibu temui itu, pasti Halwa lebih milih untuk rujuk sama kamu! iya kan?" sambung Bu Imah dengan terus mengoceh dan membuat Yudha semakin emosi dan kesal saja.
"Sudah Bu!
Tolong diam lah dulu.
"Apa?
Kamu ditolak, dihina?
Kurang ajar sekali si Halwa. Santet saja kayak rencana mbakmu itu. Biar dia itu tidak semakin sombong dan sok!" sungut Bu Imah tak terima anaknya di tolak oleh mantan menantunya.
"Benar kata ibu, yudh!
Balas sakit hatimu dengan sesuatu yang tak terlihat tapi jelas mematikan. Buat mereka menderita karena sudah menyakiti kita." sahut Yeni ikut menimpali, dan membuat Yudha mengalihkan tatapannya pada sang kakak dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak, mbak!
Aku tidak mau menyakiti Halwa, aku memang sakit hati dan marah dengan sikapnya.
Tapi aku masih ingin dia kembali lagi padaku. Aku akan menggunakan cara lain untuk menaklukkan dia, yaitu Hasna!" sahut Yudha dengan tatapan tajam lurus kedepan. Pikirannya tertuju pada Hasna yang menjadi kelemahan Halwa.
"Yasudah aku itu yang kamu mau.
Mau anter mbak lihat mobil ham berapa?
__ADS_1
Sekarang saja gimana? keburu hujan kalau sore sore!" Yeni tak ingin memaksa Yudha, karena Yudha pasti sudah tau apa yang akan dia lakukan.
"Ayo, mau lihat di sorum mana?" sahut Yudha tak bersemangat tapi juga tak mau mengecewakan kakaknya.
"Terserah kamu saja, yang penting kita punya mobil lagi. Setelah itu kita langsung kerumahnya mas Jarwo. Aku ingin memberinya terapi ringan agar dia menyesal karena sudah menyakitiku." balas Yeni datar dengan rasa sakit yang terus menumbuhkan dengan di dalam hatinya.
"Baiklah, kita pean taksi online saja. Biar nanti bisa langsung bawa mobilnya. Mbak sudah siapkan uangnya kan?" Yudha menatap kakaknya dengan seksama.
"Kamu gak usah hawatir, semua sudah mbak siapkan. Bentar mbak kesan taksinya dulu.
Ibu mau ikut?" sahut Yeni dengan matanya fokus menatap layar ponselnya, memesan taksi online.
"Ibu dirumah saja, malas melihat wajah Jarwo dan selingkuhannya. Kalian harus selesaikan urusan dengan mereka, kalau perlu buat mereka shock dan ketakutan, menyesali perbuatannya yang sudah mencurangi kita." balas Bu Imah dengan bersungut sungut, masih sangat kesal dengan Jarwo yang membohonginya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️
__ADS_1