
Pukul tujuh lewat seperempat, keluarga Dafi sudah datang, dan disambut oleh Bella dan Bu Rini. Sedangkan yang lain ada yang sibuk di dapur dan ada yang sibuk menyiapkan minuman.
Setelah semua dipastikan beres, ibu ibu ikut duduk di ruangan yang sudah di gelari karpet empuk. Menyaksikan proses lamaran Halwa yang begitu mengharukan, karena Halwa tidak memiliki keluarga. Sehingga tak mampu menahan air matanya, pun dengan Hasna yang juga ikut menangis melihat kebahagiaan sang ibu tercinta.
Alhamdulillah acara lamaran berjalan lancar.
Orang tua Dafi dan seluruh keluarga yang ikut hadir terlarut oleh suasana haru yang diciptakan ibu dan anak, Halwa dan Hasna yang saling berpelukan penuh haru.
Dafi yang sudah bercerita tentang Halwa pada orang tuanya, membuat mama Dafi bisa memahami kondisi calon menantunya itu.
Siapa yang gak sedih, saat di hari bahagia, tidak ada satupun keluarga nya yang menemani.
"Mulai sekarang, anggap mama sebagai ibu kamu, Nak!
Dan Hasna boleh panggil nenek ke mama ya, karena Om Dafi akan jadi ayah untuk Hasna.
Sekarang kita keluarga, jangan sungkan." Bu indah berkata lembut pada Halwa dan Hasna yang terisak, haru karena rasa yang tak menentu.
Dafi tersenyum menatap ibunya yang langsung bisa menerima Halwa penuh kasih sayang. Awalnya Dafi ragu, tapi setelah melihat kelembutan sang ibu dalam menenangkan Halwa, Dafi jadi yakin, jika kehadiran Halwa benar benar diterima sang ibu dengan baik.
Semua bersuka cita dan bahagia di acara lamaran Dafi dan Halwa, hanya satu orang yang terlihat tak suka dan menatap penuh benci ke arah Halwa.
Wati, anak tiri pak Suko, adik dari Bu indah.
Wati sudah lama menyimpan rasa pada Dafi, namun tak pernah di tanggapi oleh Dafi, selain Dafi tak suka, karena Dafi memang tak pernah menganggap Wati ada karena sikapnya yang kadang berlebihan.
Wati sangat pandai berkamuflase, dia bisa bersikap baik dan lembut di hadapan semua keluarga, bahkan kadang bersikap luar dihadapan Dafi. Itulah yang membuat Dafi tak menyukainya.
Hari ini Wati memang ikut di acara lamaran Dafi, guna ingin melihat seperti apa calon istri laki laki yang dicintainya. Dan Wati memiliki niat buruk untuk menghancurkan hubungan Dafi dan Halwa tanpa ada yang merasa curiga dengannya.
Kecuali Dafi yang memang sudah bisa membaca niat Wati dari sikapnya yang terus terlihat menatap tak suka pada Halwa sedari awal masuk.
"Aku tidak akan membiarkan kamu, menghancurkan hubunganku dengan Halwa, Wat!
Lihat saja, kalau sampai kamu berbuat macam macam, kamu akan merasakan akibatnya." batin Dafi yang terus mengawasi tingkah Wati yang terlihat ganjil sedari tadi.
Halwa tersenyum sumringah, menerima ucapan selamat dari semua orang dan bahkan adik Dafi yang masih kuliah, Irma, begitu senang berdekatan dengan Halwa dan Hasna, mereka terlihat bercanda penuh riang.
__ADS_1
"Mbak Halwa ternyata orangnya asik ya.
Jadi gak sabar pengen cepet-cepet jadi kakak iparnya, biar aku ada teman ngobrolnya, pasti seru.
Dan bisa main sama Hasna, jadi punya teman hangout deh, duh seru!" Irma mengungkap kan kebahagiaan nya pada Halwa dan Hasna tanpa sungkan, merasa cocok dengan sikap Halwa yang ramah dan lembut.
Bukan hanya itu yang membuat Irma menyukai Halwa, karena Irma tau kalau Halwa adakah penulis novel idolanya, karya karya Halwa selalu jadi bacaan kesukaan Irma.
"Mbak Halwa, dari mana sih dapat inspirasi kayak gitu, karena cerita cerita mbak itu, bagus bagus, kayak dibawa di kehidupan nyata gitu pas baca. Kadang aku suka gemes sendiri bacanya, suka banget!" Irma terlihat sangat akrab dengan Halwa dan terlihat seru membahas tentang tulisan Halwa. Hingga membuat orang orang menoleh oleh ulah Irma yang begitu seru.
"Loh, mbak Halwa penulis novel to?
Dimana? Aku suka banget baca novel soalnya." mbak Monika yang mendengar obrolan Irma dengan Halwa langsung ikut bergabung dan di ikuti ibu ibu yang lain, menyenangkan dan sangat akrab, sampai semua jadi tau dengan hobi Halwa menulis dan mencetak beberapa novel di aplikasi berwarna biru yang cukup digandrungi warga Indonesia.
Dafi senang melihat Halwa bahagia dan akrab dengan keluarganya.
Dafi memilih mendekati Hasna yang duduk diam sambil bermain ponselnya.
"Hasna lagi apa?" Dafi mencoba mendekatkan diri pada calon anak sambungnya.
"Om Dafi!
"Suka lihat YouTube?
Sering ya buka YouTube nya?" tanya Dafi lembut dan mencoba mencari obrolan ringan agar Hasna bisa terbiasa dengan kehadiran nya.
"Gak juga, Om!
Jan pas sekolah gak boleh pegang hape.
Bolehnya cuma satu jam saja pas habis selesai sholat isya. Tapi kalau kas hari libur, baru boleh pegang hape nya seharian. Tapi Hasna kebanyakan pulang kerumah, jangan sama bunda." sahut Hasna yang mulai mau terbuka pada Dafi.
Dafi tersenyum, kagum dengan calon anak sambungnya, di usia belianya, Hasna sudah bisa bersikap bijak dan sikapnya begitu santun dan lembut. Hawa sudah sukses dalam mendidik anak gadisnya.
"Om kagum sama Hasna, pintar, baik dan patuh sama bundanya. Jadi anak pinter ya, Nak!
Insyaallah saleha, Aamiin!
__ADS_1
Hasna gak keberatan kan, om Dafi menikah sama bunda Halwa?" Dafi berusaha untuk mencari kejujuran di mata gadis kecil yang kini tengah tersenyum dengan begitu manisnya, menanggapi ucapan calon ayah sambungnya.
"Gak kok Om, asal om Dafi janji, gak akan menyakiti bunda, harus baik dan menyayangi bunda. Kalau bunda bahagia, Hasna juga bahagia.
Om Dafi gak akan jahat kan sama bunda?" jawab Hasna polos mengatakan semua yang ada di pikirannya.
Dafi tersenyum lega, menatap lekat pada Hasna yang terlihat begitu lugu dan berwajah teduh.
"Insyaallah, Om Dafi akan melindungi dan menjaga bunda Halwa juga Hasna semampu om.
Om juga akan berusaha membahagiakan bunda dan Hasna. Om janji gak akan menyakiti kalian. Insyaallah, Nak.
Bismillah ya sayang!" Dafi mengusap lembut pucuk kepala Hasna penuh kasih sayang.
"Makasih om!
Hasna percaya sama om Dafi!" Hasna mengembangkan senyumannya dan menggantungkan harapannya pada laki laki yang kini menatapnya penuh haru, menunjukkan kasih sayangnya.
"Iya sayang, Hasna jangan sungkan lagi ya ke om Dafi. Mulai sekarang bisa latihan panggil om Dafi Papa, ayah juga boleh. Gimana enaknya Hasna saja, oke?" sambung Dafi yang merasa sangat cocok dan senang berdekatan dengan Hasna yang memang cerdas dan sangat tegas.
"Hmm enaknya apa ya?
Nanti deh tanya ke bunda, panggil om Dafi, apa?" hihihii Hasna tersenyum memamerkan giginya yang putih dan rata, membuat Dafi gemas dan ikut tertawa dengan tingkah lugunya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Hay kak, haturnuhun sudah membaca karya Hawa.
Yuk baca juga novel terbaru Hawa yang berjudul:
#Cinta Berbalut Nafsu
#Kasih Sayang Yang Salah
#Negeri Dongeng Alisia
Yuk kak mampir disana juga ya, dan jangan lupa kasih love, like n komentarnya.
__ADS_1
Haturnuhun semua, salam sayang dari jauh ❤️🔥