
"Apa mbak Asih semalam tidak mendengar sesuatu dirumah mbak?" tanya seseibuk yang merupakan tetangga kontrakan.
Asih menggeleng dan mencoba mengingat sesuatu.
"Biasanya, orang yang mengirim ilmu untuk menyakiti lawan, akan menanam sesuatu tak jauh dari sekitar rumah.
Tapi baiknya kita tunggu dulu pak Rustam dan ustadz Roziq." sahut bapak bapak yang ikut datang melihat keadaan Jarwo.
Asih masih shock dan memilih diam. Pikirannya menerawang, mencoba mengingat ingat apa yang terjadi semalam.
Dan ingatannya mengatakan kalau tidak ada apapun yang mencurigakan.
Hanya saja sekitar pukul setengah dua belas, Asih mendengar suara kemresek, tapi dikiranya itu hanya kucing.
Tak berselang lama, pak Rustam datang dengan ustadz Roziq.
Asih langsung mempersilahkan mereka memasuki kamarnya, dimana Jarwo sedang menjerit kesakitan, bahkan seluruh tubuhnya terlihat penuh luka melepuh.
"Astagfirullah." Ustadz Roziq menatap iba dan tak kuasa melihat keadaan Jarwo yang begitu menyedihkan.
Untung saat tadi pak Rustam menemui ustadz Roziq, pak Rustam Sudah menceritakan semuanya dan mengatakan dugaannya.
Sehingga ustadz Roziq tidak datang sendiri, tapi ditemani oleh dua anaknya yang juga memiliki ilmu agama yang cukup mumpuni.
Warga yang datang menyaksikan semua diminta untuk menunggu diluar dan membantu membacakan surat surat pendek, sholawat dan istighfar.
Sedangkan ustadz Roziq beserta kedua anaknya dan juga pak Rustam berada di dalam kamar Jarwo, berusaha untuk menangkal kiriman yang ditujukan pada Jarwo.
Pak Rustam minta segelas air putih, dan dengan cepat Asih menyiapkannya.
Dengan usaha ekstra, ustadz Roziq membacakan ayat ayat kusus yang diikuti oleh kedua anaknya dan pak Rustam.
Jarwo semakin menjerit kesakitan dan bisa memuntahkan isi dalam perutnya yang tak lazim.
Namun anehnya setelah Jarwo memuntahkan barang barang aneh dari perutnya, tubuh Jarwo kembali normal, tidak ada lagi luka melepuh seperti tadi. Dan Jarwo juga berangsur pulih, tak lagi merasakan panas seperti terbakar.
"Alhamdulillah" seru ustadz Roziq beserta yang lain. Merasa lega karena Jarwo selamat dari petaka yang dikirim orang jahat .
"Gimana mas Jarwo?
Sudah baikan?" tanya ustadz Roziq ramah dengan senyuman teduh yang menentramkan hati siapa saja yang melihatnya.
"Alhamdulillah ustadz, hanya masih lemas saja. Tubuh rasanya seperti tidak punya tulang.
Sakit semua." seru Jarwo dengan suara yang terbata.
"Wajar, insyaallah nanti juga akan hilang.
Sebaiknya setelah ini, mas Jarwo dan istri lebih hati hati, dan tingkatkan ibadahnya. Banyak baca istighfar dan sholawat. Serta jangan putus berdoa. Habis sholat wajibkan baca Alquran.
__ADS_1
Bentengi diri dengan ibadah, insyaallah selalu terjaga dalam perlindungannya Gusti." Ustadz Roziq memberi nasehat dan merasa iba dengan keadaan tetangganya itu.
"Pak Rustam, sebaiknya kita harus segera mengambil bungkusan yang sudah mereka tanam.
Perasaan saya mengatakan, barang itu di tanam disebelah kiri rumah ini.
Burhan! Syahid! Bantu ayah menemukan, dan kita harus musnahkan segera." sambungan ustadz Roziq serius.
"Iya ayah!" sahut kedua anak ustadz Roziq bersamaan dan mereka langsung keluar kamar menuju halaman samping rumah sebelah kiri, dengan mengandalkan ilmu kebatinan mereka.
Sedangkan pak rustam mencari cangkul untuk nanti bongkarnya.
"Alhamdulillah ketemu! Seru syahid dengan mengangkat pot bunga ukuran sedang dan menjauhkan dari tempat yang menurutnya terletak bungkusan yang dimaksud ayahnya.
"Gali dan keluarkan isinya.
Jangan lupa bacakan doa sebelum kalian mengeluarkan barang itu." perintah ustadz Roziq pada anak anaknya yang langsung mengangguk paham.
Setelah membaca doa, Burhan menggali tanah yang sedikit keras, aneh memang, padahal baru semalam tanah itu digali dengan mudah oleh Yeni, tapi sekarang Burhan dan syahid kesulitan karena tanahnya begitu keras.
Mereka tidak menyerah, terus berusaha sambil terus membaca doa.
Akhirnya berhasil, dan terlihat bungkusan yang dililit kain putih.
Namun saat akan di ambil, bungkusan itu meledak, membuat semua terlonjak kaget dan mengucapkan istighfar.
Ustad Roziq berjongkok dan berdoa sangat khusuk sebelum mengambil bungkusan tersebut.
Setelah selesai berdoa, tangan kanan ustadz Roziq terulur ke dalam untuk mengambil bungkusan kain putih yang ada di dalam tanah yang baru saja di gali.
Ustadz Roziq kembali membacakan doa dan menggenggam kain putih ditangannya, beberapa menit kemudian kain itu terbakar dan lesap begitu saja.
"Alhamdulillah." seru semuanya secara bersamaan.
Sebelum pergi kembali kerumahnya, ustadz Roziq memagari rumah Jarwo, agar tidak mudah di tembus oleh yang berniat jahat padanya.
"Terimakasih banyak ustadz Roziq, kami tidak tau kalau tidak ada ustadz, suami saya mungkin sudah..." Asih tak mampu meneruskan kalimatnya, ia tersedu, tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Sungguh diluar nalarnya, tapi itu terpampang nyata di depan matanya.
"Sama sama mbak Asih, yang penting sekarang mas Jarwo nya sudah pulih dan selamat dari niat jahat orang yang tidak menyukainya. Sabar dan terus tingkatkan ibadahnya ya!" sahut ustadz Roziq lembut dengan wajah yang begitu menyejukkan.
"Sekali lagi terimakasih ustadz! Mas Burhan! mas syahid! dan pak Rustam. Saya sangat berterimakasih dengan bantuan nya.
Ini sedikit dari saya, sebagai ungkapan rasa terimakasih saya karena sudah menyelamatkan suami saya." Ratih berniat memberikan amplop yang sudah di isi dengan uang sebagai bentuk rasa terimakasih nya.
Namun dengan cepat ustadz Roziq menolaknya dengan halus, karena niatnya hanya murni menolong, tidak lebih.
"Simpan saja untuk keperluan mbak Ratih.
Bukan bermaksud sombong, tapi insyaallah saya iklas niat membantu." ustadz Roziq menolak dengan senyuman dan sikap yang santun, agar asih dan Jarwo tidak tersinggung oleh penolakan nya.
__ADS_1
"Iya mbak Ratih. Simpan saja, insyaallah niat kami membantu itu ikhlas. Semoga mas Jarwo lekas sehat kembali." pak Rustam ikut menimpali dengan tak kalah santunnya.
"Masyaalloh, terimakasih banyak. Semoga Alloh membalas kebaikan pak Rustam, ustad, dan mas Burhan juga mas syahid!" sahut Asih yang tak bisa menahan rasa harunya, hingga air matanya terus saja menetes membasahi wajahnya.
"Kalau begitu, kami pamit pulang dulu.
Ingat pesan saya, banyak baca istighfar dan tingkatkan ibadahnya. Asalamualaikum!" pamit ustadz Roziq beserta kedua anaknya, lalu meninggalkan rumah Asih yang masih ada beberapa tetangga yang belum pulang.
Pak Rustam juga ikut pamit pulang dan mengajak istrinya kembali ke rumah, agar Asih dan Jarwo bisa istirahat.
"Yang sabar ya mbak Asih!
Bismillah semoga semua baik baik saja.
Jangan sungkan kalau butuh bantuan, datang saja kerumah, insyaallah istri dan saya akan berusaha membantu selagi kami mampu."
"Alhamdulillah, Terimakasih, pak! Bu!" sahut Asih terbata dan sangat merasa bersyukur karena mempunyai tetangga yang begitu baik baik, perduli dan saling membantu.
Akhirnya satu persatu tetangga pamitan pulang kerumah masing masing, hanya tinggal Asih dan Jarwo, yang saling diam. Masih belum mampu mencerna apa yang baru saja dialami, seperti mimpi namun itu nyata terjadi.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️
__ADS_1