
Bu Imah berjalan dengan sedikit tertatih, kakinya rasanya sudah pegal semua. Dan terlihat tatapan dari tetangga yang tak menyukainya nampak memandangnya sinis dan terlihat senang melihatnya kesusahan. Namun Bu Imah berusaha cuek dan ajan membalas mereka kalau hidupnya sudah kembali enak seperti dulu. Untuk saat ini, Bu Imah hanya ingin diam saja dulu.
"Awas saja kalian! Akan aku tandai siapa saja yang senang melihatku seperti ini, nanti kalau aku sudah banyak uang lagi, akan aku buat kalian kembali memohon bantuan seperti dulu. Dan saat itu tiba, aku tidak akan Sudi membantu kalian." sungut Bu Imah dalam hatinya yang sangat kesal melihat sikap tetangganya yang kini mengucilkan dirinya lantaran miskin dan hidup susah.
Setelah sampai dirumahnya, Bu Imah langsung menjatuhkan dirinya di kasur tipis yang di pasang dilantai diruang tengah.
Bu Imah memejamkan matanya lantaran lelah, namun perutnya terus bunyi lantaran rasa lapar.
"Ah kenapa jadi susah begini?
Padahal dulu saat ada Halwa, semua begitu mudah dan enak. Apa apa tinggal nyuruh dan sudah tersedia tanpa harus susah payah.
Dasar Yudha saja yang bodoh, karena ulahnya yang selingkuh dengan perempuan ular, Halwa jadi pergi dan menuntut cerai, padahal dia sekarang sudah kaya. Dasar laki laki bodoh Yudha itu. Aaargh bodoh! bodoh!" teriak Bu Imah kesal karena berpikir semua kesalahan ada pada Yudha anaknya. Padahal salah satu alasan Halwa memutuskan pergi adalah dirinya yang selalu bersikap semena-mena.
Dengan langkah gontai, Bu Imah berjalan ke dapur dan memasak mie instan. Saat ini yang ada hanya itu di dapurnya, jadi mau tidak mau Bu Imah mendadak itu.
Mie instan kuah cukup untuk mengganjal perutnya yang sudah sangat lapar.
"Dulu aku tidak suka makan yang beginian, tapi sekarang hampir tiap hari aku harus makan mie, sial! ini semua karena Halwa dan Jarwo. Dasar menantu tidak ada yang. entar semua. Awas saja kamu Jarwo, aku akan minta Yeni untuk melaporkan kamu dengan tuduhan perselingkuhan. Lagian Yeni masih sah istrinya menurut hukum." sungut Bu Imah kesal dan menaruh dendam kusumat pada Jarwo menantunya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan di lain tempat, Halwa sedang menyiapkan acara lamarannya nanti malam.
__ADS_1
Karena tidak punya keluarga, Halwa hanya ditemani Bella sahabatnya beserta orangtuanya Bella juga ikut hadir sebagai keluarga dari Halwa.
Hasna yang sudah dimintakan ijin oleh Bella, hari ini sudah dirumah dan ikut membantu persiapan nanti malam.
Banyak tetangga yang datang untuk membantu memasak dan membuat kue kue untuk suguhan nanti malam, meskipun tinggal di perumahan yang cukup elit, tapi tetangganya begitu perduli dan saling membantu.
Suasana rumah Halwa jadi rame dengan celoteh dan canda tawa ibu ibu yang senang sekali menggoda calon pengantin.
"Wah, mbak Halwa ini beruntung sekali ya, dapat pak Dafi. Duren loh mbak!" goda Bu Monika yang di iyakan ibu ibu yang lain.
"Iya, selain duren yang penting kaya, iya kan?" sahut Bu Claudia yang terkenal centil tapi sangat baik pada semua tetangganya.
"Kalau saya secantik mbak Halwa, pasti pak Dafi lebih milih saya, tapi sayangnya saya kalah jauh dari mbak Halwa." sahut mbak Rika, janda muda yang bekerja di salah satu bank swasta dan jadi selingkuhannya salah satu pejabat dan bukan rahasia lagi bagi s bagian penghuni perumahan dengan status mbak Rika yang jadi selingkuhan pejabat kota.
"Ibu ibu ada ada saja, saya Alhamdulillah saja. Semoga hubungan kami langgeng. Mohon doanya." sahut Halwa lembut dan dengan senyuman malu malu. Semakin membuat ibu ibu senang menggodanya.
"Nanti pada datang ya, temani saya sebagai keluarga, karena saya memang sebatang kara." Halwa menatap ibu ibu penuh harap, dan semua juga menoleh dan menatap iba ke arah Halwa yang sudah berkaca kaca.
"Mbak Halwa tenang saja, kami akan datang dan jadi keluarga mbak Halwa, iya kan gengs?" Bu Monika menyahuti dengan semangat dan mengajak ibu ibu yang juga ikut datang ke acara lamarannya Halwa sebagai keluarganya.
"Tenang mbk, mbak Halwa gak sendiri kok, ada kami yang akan jadi keluarga mbak. Anggap saja kita ini keluarga ya, jangan sungkan." mbak Rika juga ikut menimpali dan mereka saling mengangguk dan setuju dengan ucapan mbak Monika dan mbak Rika.
Halwa merasa sangat bersyukur memiliki tetangga yang begitu baik, padahal mereka dari kelas menengah ke atas, terbilang orang kaya karena suaminya memiliki pekerjaan yang tidak sembarangan, tapi keperdulian begitu kental ditunjukkan oleh beberapa ibu ibu tetangganya yang masih seusianya. Hanya Bu Rini yang memiliki usia lebih tua, namun. u Rini juga sangat baik bahkan bersikap ngemong pada semuanya.
__ADS_1
"Terimakasih untuk semuanya, terimakasih banyak." balas Halwa yang sudah menitikkan air mata karena hari dengan kebaikan tetangganya.
pukul lima sore semua sudah siap, berbagai macam masakan enak tersaji dan beberapa kue kering dan basah juga sudah siap dihidangkan.
Semua sibuk menata ruangan dan ada yang sibuk menata hidangan dan membuat minuman.
Sedangkan Halwa tengah di dandani oleh mbak Rika yang memang jago dalam make up.
Pukul tujuh lewat seperempat, keluarga Dafi sudah datang, dan disambut oleh Bella dan Bu Rini. Sedangkan yang lain ada yang sibuk di dapur dan ada yang sibuk menyiapkan minuman.
Setelah semua dipastikan beres, ibu ibu ikut duduk di ruangan yang sudah di gelari karpet empuk. Menyaksikan proses lamaran Halwa yang begitu mengharukan, karena Halwa tidak memiliki keluarga. Sehingga tak mampu menahan air matanya, pun dengan Hasna yang juga ikut menangis melihat kebahagiaan sang ibu tercinta.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Hay kak, haturnuhun sudah membaca karya Hawa.
Yuk baca juga novel terbaru Hawa yang berjudul:
#Cinta Berbalut Nafsu
#Kasih Sayang Yang Salah
#Negeri Dongeng Alisia
__ADS_1
Yuk kak mampir disana juga ya, dan jangan lupa kasih love, like n komentarnya.
Haturnuhun semua, salam sayang dari jauh ❤️🔥