
Sedangkan Bu Imah, hanya bisa menangisi takdir anak anaknya yang kini mendekam di penjara. Tak ada lagi sikap angkuhnya, yang ada kini hanya kesedihan dan penyesalan. Menghabiskan masa tuanya dengan sendiri dan bahkan sekarang untuk menghidupi dirinya, Bu Imah harus berjualan kue keliling.
Nasib tidak ada yang tau, takdir selalu tidak pernah bisa di duga. Hanya satu yang pasti. ketika kita menanam kebaikan yang akan kita petik juga kebaikan, pun dengan sebaliknya.
Yang menderita tidak selamanya menderita, karena roda kehidupan terus berputar. Tetap berusaha untuk terus melakukan kebaikan, insyallah kebaikan kebaikan yang lain akan mengikuti.
Bu Imah tengah duduk di bawah pohon beringin yang ada di pinggir jalan, mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah karena sudah berjalan jauh di bawah terik panas matahari.
Kue jualannya hari ini masih banyak, sepi pembeli. Hatinya meradang dan menangis. Saat ada Yudha tak pernah merasa susah, karena anak lelakinya selalu menuruti kemauannya. Bahkan saat sudah menikah pun Yudha masih memberikan uang gajinya pada Bu Imah.
"Sampai kapan ini harus aku alami?
aku benar benar sudah gak kuat lagi hidup seperti ini. Ini semua gara gara Halwa. Kalau saja dia tidak pergi dari rumah, pasti hidupku dan anak anakku tidak akan sial seperti sekarang. Kamu harus bertanggung jawab, Halwa!
Aku akan buat perhitungan dengan wanita sombong itu. Dia harus bertanggung jawab atas nasibku saat ini." Bu Imah berbicara sendirian dan terus merutuki nasibnya dengan menyalahkan Halwa yang bahkan tidak ada hubungan sama sekali atas masalah yang menimpanya.
Dengan langkah tertatih, Bu Imah meneruskan langkahnya. Kaki ini bukan akan menjajakan dagangannya, tapi ingin bertemu dengan Halwa, merasa harus membuat perhitungan dengan mantan menantunya, yang menurutnya adakah sebuah dari sumber masalah keluarganya.
Bu Imah menatap benci ke arah toko sembako yang semakin rame pembeli. Tangannya mengepal dan hatinya kian panas oleh iri dan kebencian.
"Aku akan meminta tanggung jawab dan memintanya untuk memenuhi hidupku. Gara gara dia kedua anakku harus mendekam di penjara." Bu Imah terus memupuk benci di hatinya pada Halwa yang tidak tau apa apa soal kehidupannya setelah Halwa memutuskan untuk keluar dari rumahnya.
"Halwa, keluar kamu!
Halwa, temui aku!
Kamu harus Bertanggung jawab, gara gara kamu sekarang aku menderita.
Halwa keluar kamu!" teriak Bu Imah penuh amarah, sehingga mengundang perhatian para pembeli yang kebanyakan juga mengenalnya dan tau bagaimana sifat wanita paruh baya itu, yang dikenal angkuh dan sangat sombong.
Mendengar ribut ribut, Halwa yang sedang mengetik cerbung diruangannya memilih keluar dan melihat apa yang terjadi.
"Apa lagi yang akan dibuat masalah sama ibu kali ini, capek rasanya harus terus menghadapai keluarga mas Yudha yang selalu membuat ribet." batin Halwa menatap Bu Imah yang terlihat meronta karena di hadang satpam yang berjaga.
__ADS_1
"Bu, lebih baik gak usah diladeni. Bu Imah memang begitu kan orangnya, apalagi sejak kedua anaknya di penjara, hidupnya jadi susah, makanya bikin ulah sana Bu Halwa. Mungkin mau numpang hidup lagi." tiba tiba salah satu ibu ibu yang sedang berbelanja bicara, yang bikin Halwa menarik nafasnya dalam. Membenarkan ucapan ibu Eko yang dulu tinggal tak jauh dari rumah mertuanya.
"Entahlah Bu, saya sendiri heran. Tapi kalau tidak di tegur, pasti akan terus berteriak dan bikin ulah." sahut Halwa kesal dan gak habis pikir dengan ulah mantan mertuanya.
Halwa berjalan mendekat ke arah Bu Imah yang tengah di pegangin satpam.
"Akhirnya kamu mau keluar juga!
Kamu harus tanggung jawab, gara gara kamu hidupku jadi susah kayak gini!" teriak Bu Imah dengan sikap angkuhnya yang tak pernah bisa berubah.
Halwa langsung membuang nafasnya kasar, menatap tajam pada wanita paruh baya yang sejak dulu selalu mengusik ketenangannya.
"Apa maumu, Bu?
Kenapa masih saja membawaku pada masalah keluargamu?
Aku sudah bukan lagi bagian daei keluargamu, aku hanya mantan menantu yang selalu kamu paksa untuk memenuhi kebutuhanmu dan juga anak anakmu!
Halwa sudah tak ingin lagi bersikap baik pada mantan mertuanya, karena semakin dia lemah akan semakin di injak dan dan dimanfaatkan. Halwa sudah sangat hafal dengan sifat keluarga mantan suaminya.
"Heh, jaga mulut kamu! Jangan asal bicara sama orang tua!
Kamu yang menyebabkan kami menderita, kalau kamu mau mendengarkan Yudha untuk tidak bercerai, ini tidak akan terjadi, dan Yeni juga tidak akan di ceraikan oleh suaminya. Kamu kan yang sudah mempengaruhi Jarwo agar dia selingkuh dan meninggalkan Yeni, agar kamu bisa membalaskan sakit hati kamu, karena Yudha tidak menyukai kamu." Lancar sekali mulut Bu Imah mencaci Halwa dengan pikirannya yang picik, padahal tau kalau Halwa memang tidak sanggup lagi bertahan karena sikap kasar dan semena mena keluarganya.
"Astagfirullah! jangan menuduh sembarangan Bu!
sama sekali aku tidak tau tentang masalah mbak Yeni dan suaminya, tidak ada hubungannya saja sekali denganku. Dan untuk mas Yudha, aku memang sudah menyerah, buat apa punya suami tapi harus menafkahi diri sendiri bahkan keluarganya. Aku tidak mau bodoh selamanya." sahut Halwa geram, tak habis pikir bagaimana cara berpikirnya perempuan paruh baya yang ada di hadapannya.
"Aku gak mau tau, pokoknya kamu harus bertanggung jawab. Aku akan ikut tinggal di rumah kamu. Kamu harus memenuhi kebutuhanku." balas Bu Imah tetap pada kemauannya dan membuat Halwa langsung melebarkan matanya tak percaya.
"Apa hubungannya aku dengan nasibmu, Bu?
Kenapa aku harus menampung mu, rumahku bukan panti jompo! Dan aku tidak punya kewajiban untuk menanggung hidupmu, kita sudah bukan siapa siapa. Enak saja!" sungut Halwa yang tak mau lagi di tindas seperti dulu. Menghadapi orang seperti Bu Imah harus tegas dan harus bisa tega.
__ADS_1
"Aku gak mau tau, pokoknya kamu harus tetap bertanggung jawab, titik. Aku sudah capek jualan kue keliling, gak ada uangnya, mau makan aja susah. Aku ibu suami kamu, jadi kamu punya kewajiban memenuhi kebutuhanku!" balas Bu imay yang masih tetap ngeyel dengan sikapnya yang justru mempermalukan dirinya sendiri.
"Terserah ibu. Aku tidak perduli, dan aku tidak Sudi menampung orang lain di rumahku. Dan satu lagi, aku dan mas Yudha sudah bercerai, ya kami bukan lagi suami istri, jadi jangan pernah menganggap ku menantumu lagi.
Pergilah Bu, renungi kesalahan ibu selama ini. Minta maaflah pada semua orang yang pernah ibu sakiti hatinya, insyaallah hidup ibu akan jauh lebih baik. Jangan pernah mengusikku lagi, Bu!
Halwa kembali berjalan memasuki toko, mengabaikan teriakan Bu Imah yamg masih terus mencaci.
"Ratna! Berikan sembako lengkap sama Bu Imah, setelah itu minta dia pergi dari sini." perintah Halwa pada salah satu anak buahnya, karena bagaimanapun disudut hati Halwa ada rasa gak tega. Dengan memberikan sembako semoga bisa sedikit membantu Bu Imah dari kelaparan
.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️
__ADS_1