Pembalasan Istri Yang Terhina

Pembalasan Istri Yang Terhina
mendatangi rumah mewah Halwa


__ADS_3

"Lebih baik, kamu juga bicara masalah ini pada Dafi, biar dia juga bisa antisipasi dengan nanti apa yang akan terjadi. Hasna harus selalu dijaga." sahut Monika yang ikut bersuara.


"Iya, wa! Monika benar, kamu harus kasih tau Dafi masalah ini!" sahut Bella serius dan melihat Hasna yang baru saja keluar dari kamarnya, ikut bergabung dengan bunda dan tantenya.


Hasna memeluk manja bundanya, kangen karena waktunya lebih banyak di asrama. Saat bundanya memintakan ijin selama dua Minggu, Hasna sangat senang dan ingin terus nempel dengan bundanya, Hasna begitu menyayangi Halwa dan selalu berdoa dengan tulus untuk kebahagiaan ibunya.


"Hasna, selama masih libur sekolah, Hasna tidak boleh keluar kalau tidak ditemani dengan bunda ya?" Halwa mengusap lembut pipi putrinya.


Hasna mendongak dan menatap lekat pada bunda nya. "Memangnya kenapa, Bund?"


Hasna memasang wajah bingung, karena tidak biasanya bundanya bicara seperti itu. Halwa selalu membebaskan Hasna selama ini, asal tidak melakukan hal yang aneh aneh.


"Hasna pokoknya nurut sama bunda, dan harus dengerin omongan bunda kali ini, ya?" sahut Halwa serius dan memeluk gadisnya erat. Membuat Hasna semakin bingung dan penasaran.


"Iya bund! Hasna pasti dengerin nasehat bunda kok. Hasna tidak mau buat bunda cemas apalagi sedih." sahut Hasna dengan membalas pelukan dari bundanya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Bu Imah dan Yudha tengah bersiap akan menemui Hasna, bermodal hadiah boneka dan baju.


Namun saat di pos penjaga, mereka dimintai KTP untuk di periksa identitasnya.


Dan petugas juga tidak langsung mengijinkan mereka masuk, namun mereka terlebih dulu menghubungi Halwa melalui sambungan telepon.


"Apa?


Bu Imah dan pak Yudha?"


Bagaimana ya pak?


Duh kok saya khawatir, karena mereka selalu membuat ulah." sahut Halwa cemas.


"Bagaiman,. Bu?


Kami hanya akan mengikuti apa kata Bu Halwa.


Kalau Bu Halwa mengijinkan, maka kami akan mengijinkan mereka masuk, tapi kalau Bu Halwa keberatan, kamu akan memintanya pergi." sahut penjaga bijak dan tidak mau melanggar aturan, demi keamanan penghuni komplek.


"Katakan, kami ini ingin ketemu anaknya.


Yudha ayahnya, dan saya neneknya. Sombong amat jadi perempuan, bisa bisanya melarang ayahnya ketemu dengan anaknya sendiri." sungut Bu Imah marah dengan sengaja menaikkan nada bicaranya, agar didengar oleh Halwa.


Halwa menarik nafas panjang dan menghembuskan kasar.


Melirik ke arah Monika dan Bella, meminta pendapat mereka. Halwa sengaja menyalakan spiker ponselnya.


"Biarkan mereka masuk, minta salah satu penjaga untuk ikut, buat jaga jaga.


Lagian, sekarang disini juga sedang banyak orang.


Kalau mereka macam macam, bisa kita kroyok sama sama, biar tau rasa." sahut Monika memberi pendapatnya.

__ADS_1


"Benar juga!


Biarkan mereka masuk, kita lihat mau apa mereka!


Jumlah kita lebih banyak kok." Bella juga memberikan pendapat yang sama.


"Baiklah!


Biarkan mereka masuk pak!


Tapi tolong kawal mereka, karena selama ini mereka selalu suka cari masalah dan buat onar." balas Halwa.


Lalu minta Hasna masuk dulu ke dalam kamarnya.


"Hasna masuk kamar dulu ya!


Bunda akan bicara dulu sama ayah dan nenek!


Gak papakan?" Hasna menatap lekat wajah putrinya yang terlihat biasa saja dan terkesan tidak perduli dengan kedatangan ayah dan neneknya.


'Oya, bund! gak papa kok!


Lagian Hasna juga malas ketemu ayah, apalagi nenek!


Mereka selalu jahat dan suka bentak bentak Hasna." sahut Hasna dengan santainya, membuat Halwa langsung tercekat. Ternyata putrinya juga menyimpan perasaan sakit hati pada ayah dan neneknya.


"Ya sudah, masuklah. Maafkan bunda ya?" Halwa mengusap lembut pipi putrinya. Hasna langsung berjalan masuk kembali ke dalam kamarnya.


Membuka laptopnya dan menuangkan isi hatinya ke dalam tulisan.


Tak lama kemudian, Bu Imah datang bersama Yudha, ditemani salah satu petugas yang berjaga keamanan.


Halwa sudah menunggu dengan sikap tak biasa dan ditemani Monika juga Bella.


"Silahkan masuk!


Pak Andi, tolong tunggu di sini ya! biar di bikini kopi!" Halwa meminta pak Andi petugas keamanan untuk menunggu di teras, dan meminta Bella untuk membuatkan kopi dan menyuguhkan cemilan untuk pak Andi.


"Wah ini benar rumah kamu, Wa?" Bu Imah kagum dengan terus memperhatikan seluruh isi ruangan rumahnya Halwa.


Halwa hanya diam saja memperhatikan, tau apa yang ada dipikiran ibu mantan mertuanya. Sedangkan Yudha hanya diam dan senyum senyum.


"Silahkan duduk, Bu!


Maaf, aku lagi ada acara jadi gak bisa lama lama, karena banyak yang harus di urus." Halwa bicara tegas sambil melipat kedua tangannya di dada.


Sedangkan Bu Imah mencebik kesal, lalu duduk di salah satu sofa kosong tepat di samping Yudha.


"Ada keperluan apa ibu ingin bertemu denganku?


Bukankah dulu ibu bilang, tidak Sudi melihatku lagi?

__ADS_1


Karena aku miskin dan tidak berguna." Halwa membuka obrolan dengan menatap tajam pada Yudha dan mantan ibu mertuanya.


"Itu kan dulu, tidak perlu kamu ingat ingat lagi.


Sekarang keadaannya sudah beda.


Aku ingin kalian rujuk demi anak kalian. Kasihan kan sama Hasna kalau punya bapak tiri, iya kalau dia baik, kalau dia mesum? apa kamu gak takut?


Jangan hanya mikirin hidupmu saja, kamu harus juga mikirin nasib anak kamu, dia itu perempuan, jangan sembrono kamu!" Bu Imah panjang lebar dengan gayanya yang seolah olah perduli, padahal hatinya hanya ingin hartanya Halwa saja, agar bisa numpang hidup enak.


"Untuk itu, ibu tidak perlu ikut campur. Tanpa ibu bilang saja, aku sudah tau apa yang terbaik untuk aku dan juga anakku.


Bahkan aku juga tau, seperti apa sifat laki laki yang akan menikah denganku. Jadi ibu tidak usah khawatir!" sahut Halwa tegas dan menatap tajam pada ibu mantan mertuanya itu.


"Sombong kamu!


Kamu belum tau saja, awalnya manis dan baik. Tapi lama lama akan kelihatan aslinya. Baru menyesal kamu!" sungut Bu Imah kesal, karena Halwa tidak mau mendengarkan ucapannya.


"Aku sudah merasakan semua itu, menikah dengan laki laki yang pura pura baik, padahal penjahat, yang tidak mau menafkahi istri dan anaknya bahkan tega menyakiti kami.


Belum lagi keluarganya yang selalu menjadikan aku pembantu gratisan dan memeras tenagaku.


Itu sudah jadi pelajaran untukku, agar tidak lagi masuk di dalam keluarga seperti itu." tekan Halwa dengan nada dingin, membuat Bu Imah dan Yudha seketika melotot dan terkejut dengan keberanian Halwa dalam mengherdik.


Sedangkan Monika dan Bella tengah menahan tawa melihat ekspresi dari Bu Imah dan Yudha.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️


__ADS_2