
Yeni bangkit dari duduknya, masuk ke dalam kamar dan keluar lagi membawa dua kotak kayu berukuran sedang.
Bu Imah dan Yudha saling lirik namun tetap diam, melihat apa yang dilakukan Yeni.
Yeni meletakkan dua kotak kayu di atas meja, dan membuka kuncinya, saat kotak sudah terbuka, Yudha maupun Bu Imah langsung ternganga melihat isi dalam kotak tersebut.
"Ini!" Bu Imah melotot dan membekap mulutnya, tak percaya melihat isi di dalam kotak yang di bawa Yeni.
"Ini asli, Yen?
Kamu punya uang dan perhiasan sebanyak ini dari mana?
Kok ini gak pernah tau!" Bu Imah masih menatap tak percaya dua kotak yang berisi uang dan perhiasan milik Yeni.
"Ya punya Yeni sendiri lah, Bu!
Selama ini Yeni bukannya pelit, tapi uangnya Yeni tabung, karena Yeni pingin punya rumah mewah sama mas Jarwo, baru program hamil. Tapi sayangnya, mas Jarwo tidak sabar dan justru mengkhianati Yeni dengan selingkuh dengan wanita itu." sahut Yeni tenang dan mengambil buku tabungan yang juga ada di dalam kotak.
Yeni memasukkan uang setiap lima jutanya ke dalam plastik, agar tidak dimakan rayap.
Uang pecahan seratus ribu terkumpul hampir seratus lima puluh juta di kotak.
Belum lagi perhiasan yang sangat banyak, cincin, gelang dan kalung emas.
"Kamu bisa ngumpulin uang dan perhiasan sebanyak ini bagaimana caranya?
Emangnya Jarwo memberimu berapa banyak uang belanja tiap bulannya?" Yudha menatap penasaran ke arah kakaknya yang terlihat menyunggingkan senyum.
"Mas Jarwo kasih aku lima juta lima ratus setiap bulan, itu belum bonus lemburan yang dia dapatkan. Setiap dua Minggu sekali dia akan kasih aku uang empat ratus ribu.
Uang bulanan yang diberikan mas Jarwo aku masukkan ke rekening tabungan sebanyak empat juta. Sisanya sejuta Lina ratus aku belikan perhiasan. Dan uang yang diberikan tiap dua Minggu aku masukkan kotak. Makanya aku makan minta ke ibu, lagian aku makannya juga gak banyak kan?" sahut Yeni dengan entengnya, membuat Yudha dan Bu Imah ternganga dengan cara berpikirnya Yeni.
"Aslinya ibu kesal dengan sikap pelit mu itu, tapi kalau hasilnya kayak ini, ibu jadi bangga. Kamu itu perempuan cerdas dan hebat, Yen!
Jarwo saja yang bodoh yang tidak mau memahami kamu.!" Bu Imah menghembuskan nafasnya kasar dan mengambil satu cincin untuk dipake di jarinya.
"Cincin ini cocok di jari ibu, ibu ambil satu. Itung itung sebagai tanda baktimu sama ibu!" Bu Imah memakai cincin bermata biru di jari manisnya.
"Jangan yang itu Bu, gak pantas buat ibu, kelihatan norak, karena ibu sudah tua.
Pakai yang ini saja yang polosan.
Yeni juga akan kasih ibu satu gelang dan satu kalung." sahut Yeni santai dan membuat Bu Imah tersenyum sumringah.
__ADS_1
"Beneran kamu Yen?
Mau kasih ibu perhiasan satu set, cincin, Kalung dan juga gelang nya?" Bu Imah mengulangi ucapannya Yeni dan menatap ragu ke arah putri kesayangan nya itu.
"Iya! Tapi Yeni yang pilihkan!
Yeni akan menjual sebagian perhiasan ini.
Yeni mau buka usaha saja, sebelum uangnya habis." Yeni mulai menghitung uang,mengambil sepuluh juta untuk diberikan pada Jarwo.
"Kamu serius mau kasih uang ini ke Jarwo, Yen?" Yudha memastikan sekali lagi niat kakaknya, yang akan memberikan uang ganti rugi yang diminta Jarwo sebanyak dua puluh lima juta.
"Iya, dan setelah ini mereka akan menyesal karena sudah menyakitiku." sahut Yeni misterius dengan senyuman miring di bibirnya.
"Apa yang kamu rencanakan untuk Jarwo dan selingkuhannya itu?
Sepertinya kamu sangat yakin kalau rencana kamu pasti berhasil." tanya Bu Imah penasaran.
"Aku akan buat mereka menjadi kembang amben, Bu!
Aku tau dukun yang bisa membuat mas Jarwo sakit tanpa tau penyakitnya, dia akan aku buat tersiksa di sisa umurnya.
Dan perempuan itu akan gila karena suaminya lumpuh." jawab Yeni penuh kebencian dan membuat Bu Imah mengerutkan wajahnya, pun dengan Yudha yang terlihat mengernyit.
Karena untuk melakukan itu butuh uang banyak, iya kalau berhasil, kalau tidak pasti akan membuang buang uangmu saja." sahut Yudha masih ragu dengan rencana Yeni.
"Kalian tenang saja, aku yakin dukun yang akan aku datangi itu benar benar sakti. Buktinya, suami Dewi sekarang sekarat, setelah Dewi meminta bantuan pada dukun itu." balas Yeni yang begitu gigih percaya dengan ilmu dukun pilihannya.
"Yasudah, ibu percaya sama kamu.
Jarwo dan selingkuhannya harus dapat balasan yang lebih menyakitkan. Ibu tidak terima kamu diperlakukan seperti ini.' sungut Bu Imah kesal dan masih menyimpan kebencian pada Jarwo dan keluarganya.
"Yudh antar mbak, beli mobil bekas tapi masih bagus. Yang murah murah saja, Avanza juga boleh!
Terus nanti antar mbak ke Lamongan, kerumah dukun itu, Dewi yang akan mengantar kita, karena dia yang tau rumahnya." Yeni menatap serius pada adiknya. Dan Yudha langsung mengiyakan keinginan kakak nya.
"Lalu kita akan buka usaha apa?
Karena tidak mungkin kita begini terus, harus ada usaha untuk menunjang kebutuhan kita." sahut Yudha setelah diam beberapa saat.
"Uang sisa jual mobil kemarin ada berapa Bu?" tanya Yudha menatap penuh ke arah ibunya.
"Masih seratus jutaan, ibu gak ambil banyak kok, Kan ibu tau, kamu butuh buat buka usaha!" sahut Bu Imah jujur dan mengambil buku tabungan dari dalam tasnya, diserahkan pada anak laki lakinya.
__ADS_1
"Ibu ambil buku tabungan kamu di kamarmu, dan ibu masukkan uangnya disitu, jadi kamu bisa ambil kapan saja."
Yudha menatap ibunya dengan wajah haru, tidak menyangka di saat saat seperti ini ibunya bisa mengendalikan diri untuk tidak foya foya seperti biasanya. "Makasih, Bu! uang ini sangat berarti sekali buat Yudha!" Yudha mencium punggung tangan ibunya dan sangat berterima kasih dengan usaha ibunya.
"Sejahat jahatnya ibu, ibu sangat sayang kalian. Ibu tau apa yang harus ibu lakukan untuk anak anak ibu." Bu Imah menatap lekat kedua anaknya dan terlihat senyum bangga keluar dari kedua bibir anaknya.
"Buka saja toko sembako seperti Halwa, daerah sini kan belum ada, kalau harus ke tokonya Halwa jauh, dan rendahkan harga untuk menarik pelanggan agar pindah ke toko kita, kita bersaing dengan toko Halwa, biar dia tau, kalau kita juga bisa lebih sukses dari dia." sambung Bu Imah percaya diri dan langsung di iyakan oleh Yudha dan Yeni.
"Terus kita buka toko di mana Bu?" sahut Yeni menatap pada ibunya yang tengah berpikir.
"Kita renovasi rumah ini, rumah kita kan sangat besar. Kita bangun toko di sebelah rumah bekas garasi sampai kedepan.
Dan kalau kamu beli mobil lagi, mobilnya taruh di sebelah kiri saja, nanti pasang kanopi atasnya., samping toko bisa kamu buka buat Loundri, daerah sini juga belum ada. Gimana, ide ibu, bagus kan?" Bu Imah mengatakan idenya yang sangat masuk akal dan mereka mulai merancang usaha dan pengeluaran yang harus di siapkan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️
__ADS_1