Pembalasan Istri Yang Terhina

Pembalasan Istri Yang Terhina
lelahnya Bu imah


__ADS_3

"Iya, ibu memang selalu bisa diandalkan. Tapi ingat ya Bu, jangan habisin uang hasil jual mobilnya ya, karena setelah keluar dari penjara, Yudha butuh modal untuk buka usaha dan pegangan untuk mendekati Halwa agar kembali sama Yudha." balas Yudha menatap ibunya dengan wajah serius.


Bu Imah mencebik kesal karena sang anak tidak percaya padanya.


"Kamu ini, kayak gak percaya sama ibumu saja.


Ibu itu tau bagaimana harus bersikap, sudah! kamu tenang saja, ibu tau apa yang akan ibu lakukan!" sungut Bu Imah menatap tak suka pada Yudha yang menunduk pasrah.


"Bukan begitu, Bu!


Maksud Yudha, kita jangan boros boros dulu, karena kita sudah gak punya apa apa untuk diandalkan lagi. Kalaupun nanti Yudha keluar dari penjara, Yudha juga belum tentu segera dapat pekerjaan. Makanya Yudha bilang, jangan habiskan uangnya. Nanti biar Yudha bisa buka usaha dan buat biaya hidup kita." sahut Yudha pada akhirnya, agar ibunya bisa paham maksudnya.


Bu Imah hanya mencebik mendengar penjelasan Yudha. Padahal di pikirannya sudah menginginkan perhiasan baru dan mau membeli televisi baru, karena televisi yang ada sudah terjual saat gak punya uang sama sekali.


"Iya! Iya! ibu paham.


Yasudah, ibu mau pulang dulu. Mau kerumah Bu Sarah minta bantuannya untuk menawarkan mobil kamu ke teman suaminya. Semoga ada yang mau dan biar segera jadi uang." sahut Bu Imah ketus dan Yudha hanya bisa menarik nafasnya kasar dengan sikap keras ibunya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Bu Imah berjalan cepat ditengah teriknya mentari siang. Sudah hampir dua puluh menit menunggu angkutan tapi belum ada satupun yang lewat.


Bu Imah menggerutu dengan nasibnya yang berubah begitu malang.


Padahal dulu kemana mana minta diantar naik mobil oleh anak laki lakinya. Jangan naik kendaraan umum, naik montor saja jarang mau.


Tapi sekarang kehidupannya sudah berbalik.


Kemana mana kalau gak naik angkot ya jalan kaki.

__ADS_1


"Asalamualaikum." Bu Imah langsung menuju kerumahnya Bu Sarah setelah pulang dari menjenguk Yudha di penjara.


Tidak ingin membuang buang waktu dan kesempatan agar mempunyai uang banyak lagi tanpa harus kerja.


"waalaikumsallm." terdengar Bu Sarah membalas salam dari Bu Imah dan berjalan ke arah Bu Imah dengan gayanya yang khas, yang selalu tersenyum ramah.


"Dari mana Bu Imah?


Kok tumben siang siang kemari?" Bu Sarah menyapa Bu Imah dan mempersilahkannya masuk ke dalam rumah. "Bentar ya Bu, saya buatkan minum dulu, sepertinya Bu Imah kelelahan gitu, mau yang dingin?" sambung Bu Sarah masih dengan sikap ramahnya dan senyuman yang begitu manis.


"Boleh Bu, maaf kalau merepotkan dan kalau ada cemilannya sekalian ya Bu Sarah, maklum sedang lapar karena habis dari penjara menjenguk Yudha." sahut Bu Imah Tania di tanya dengan pedenya dan seolah ke warung saja bisa pesan sesukanya tanpa ada rasa sungkan.


Bu Sarah tersenyum menanggapi sikap Bu Imah yang selalu membuatnya gemas, tapi Bu Sarah selalu berusaha untuk memahami agar tidak membenci sikap tetangganya yang absurd itu.


"Iya Bu, tunggu sebentar ya." Bu Sarah kembali melangkah ke dalam menuju dapur dan membuatkan es teh manis serta membawa gorengan yang tadi pagi dibelinya dari pasar untuk di suguhkan ke Bu Imah.


"Ini Bu, silahkan diminum dan ada gorengan sedikit, tadi pagi beli dari pasar, seadanya saja ya?" Bu Sarah meletakkan minuman dan gorengan yang dibawanya ke atas meja.


Air satu gelas pun langsung tandas dan gorengannya juga langsung ludes.


"Aah kenyang, Alhamdulillah." Bu Imah merasa lega karena rasa haus dan laparnya sedikit berkurang dengan jamuan dari tetangganya yang baik hati.


"Terimakasih Bu Sarah! Tadi saya jalan kaki dari perempatan sana, panas panas lagi. Turun dari angkutan tidak ada tukang ojek yang mangkal. Dari pada nungguin lama ya jalan kaki saja." Bu Imah bercerita dengan semangat ke Bu Sarah dengan apa yang tadi dialaminya.


"Iya Bu, saya mengerti. Ada keperluan apa Bu Imah siang siang gini kemari, pasti ada yang penting?" sahut Bu Sarah tetap dengan wajah ramah dan sikap tenangnya menghadapi sikap Bu Imah yang kadang bikin sakit kepala.


"Itu loh Bu Sarah. Tadi kan saya sudah ngobrol sama Yudha Siak menjual mobilnya. Dan Yudha juga sudah setuju.


Kemarin kan Bu Sarah bilang mau bantuin menawarkan ke teman suaminya Bu Sarah. Saya kesini ya itu, mau minta tolong, barangkali ada yang berminat minat dan langsung cocok." sahut Bu Imah semangat dan berharap segera a mendapatkan pembeli yang cocok.

__ADS_1


"Oh itu, iya! nanti akan saya sampaikan sama suami ya Bu, biar sama suami di tawarkan ke teman temannya. Nanti kalau ada yang minat, biar suami yang bawa orangnya kerumah Bu Imah." balas Bu Sarah tenang dan berjanji untuk membantu menawarkan mobil miliknya Yudha ke teman teman suaminya.


"Iya Bu, ditinggal ya kabar baiknya.


Kalau begitu saya Kukang dulu. Lelah Bu, kaki saya sakit semua rasanya." keluh Bu Imah dengan wajah yang meringis, memang kaki Bu Imah terasa sakit karena berjalan cukup jauh dengan cuaca yang panas, diusianya yang sudah tak muda lagi itu membuatnya kelelahan dan lemas.


"Iya Bu Imah, Monggo! Nanti akan saya kabari lagi kalau sudah ada yang berminat. Semoga cepat ada yang membeli ya Bu!" Bu Sarah membakarnya dengan ramah dan mengantar Bu Imah hingga ke gerbang rumahnya. Dalam hatinya, ada rasa kasihan melihat Bu Imah yang justru sengsara di hati tuanya. Meskipun Bu Imah terkenal jahat dan bermulut pedas, Bu Sarah tetap memiliki rasa wekas asih untuk wanita tua itu. Entahlah mungkin karena Bu Imah memang orang yang sangat baik pada siapapun.


Bu Imah berjalan dengan sedikit tertatih, kakinya rasanya sudah pegal semua. Dan terlihat tatapan dari tetangga yang tak menyukainya nampak memandangnya sinis dan terlihat senang melihatnya kesusahan. Namun Bu Imah berusaha cuek dan ajan membalas mereka kalau hidupnya sudah kembali enak seperti dulu. Untuk saat ini, Bu Imah hanya ingin diam saja dulu.


"Awas saja kalian! Akan aku tandai siapa saja yang senang melihatku seperti ini, nanti kalau aku sudah banyak uang lagi, akan aku buat kalian kembali memohon bantuan seperti dulu. Dan saat itu tiba, aku tidak akan Sudi membantu kalian." sungut Bu Imah dalam hatinya yang sangat kesal melihat sikap tetangganya yang kini mengucilkan dirinya lantaran miskin dan hidup susah.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️


__ADS_2