Pembalasan Istri Yang Terhina

Pembalasan Istri Yang Terhina
berkumpul kembali


__ADS_3

"Kamu pasti shock kalau perhiasan itu imitasi, Tria. Jadi manusia kok serakah dan licik sekali. Sekarang rasakan sakit hatimu karena aku sudah menjebak mu bahkan mempermalukan kamu!" hahahaaaa pak Suko tertawa senang, membayangkan ekspresi malu Tria dan Wati.


Pak Suko kembali mengunci brankas miliknya, dan menutup dengan lemari baju miliknya.


"Aman" lirih pak suka dengan senyuman lega.


"Asalamualaikum"


Terdengar suara salam dari luar, suara yang tidak asing lagi bagi pak Suko.


Suara anaknya Candra dan adiknya Hanifah.


Dengan langkah tergesa pak Suko keluar dari kamarnya. Rasa kangennya pada kedua anaknya begitu membuatnya bahagia mendengar suara mereka kembali.


"Waalaikumsallm, anak anak ayah, sini nak!" Pak Suko merentangkan kedua tangannya pada kedua anaknya, mereka berhambur memeluk pak Suko dengan sangat bahagia.


"Akhirnya kita bisa kumpul lagi, nak!


Alhamdulillah, ayah lega rasanya. Harusnya ayah melakukan ini dari dulu." pak Suko mendekap erat kedua anaknya kedalam pelukannya, meminta maaf dan membisikkan kata rindu pada mereka dengan suara bergetar.


"Kami paham dan tidak menyalahkan ayah. Wanita itu sangat licik dan jahat. Sekarang mereka sudah pergi, rasanya kami lega sekali. Ayah bisa terbebas dari tekanan mereka." Sahut Candra dengan mengulas senyum tipis.


"Kita masuk kedalam, bi Sumi sudah ayah suruh bikin masakan kesukaan kalian.


Kita akan makan bersama lagi seperti dulu.


Rasanya senang sekali bisa kumpul kembali dengan kalian." pak Suko terus mengungkapkan kebahagiaan nya dengan kembalinya mereka berkumpul.


"Kalian tadi naik apa kesini nya?


Sudah ijin dengan budhe kalian kan?" pak Suko menatap kedua anaknya bergantian, matanya sudah berkaca kaca menahan rasa hati yang menyambangi hatinya.


"Sudah, budhe sebenarnya mau antar kita. Tapi kita gak mau, pingin naik motor saja, boncengan sama mas Candra." sahut Hanifah ceria dan terus mengukir senyum di bibir mungilnya.


"Terus barang barang kalian gimana?" tanya pak Suko mengernyit.


"Nanti diantar sama Mas Dafi. Tadi mas Dafi pulang ambil berkas, dan bilang kalau barang barang kita suruh ninggal saja dulu, nanti mas Dafi antar setelah pulang dari kantornya." sahut Candra jujur dan menyenderkan tubuhnya di sofa empuk ruang tamunya.


"Aku senang sekali, akhirnya bisa kembali kerumah ini, rumah yang punya banyak kenangan sama mama!" Candra menatap ke atas dengan mengingat kenangan dengan mamanya.


"Iya! Hanifah juga begitu, rasanya lega sekali. Dua wanita ular itu pergi dari rumah kita. Semoga mereka tidak lagi mengganggu keluarga kita. Dan jangan sampai berurusan dengan mereka, amit amit deh!" celoteh Hanifah gemas dengan ekspresinya yang lucu, membuat Candra menahan tawa dengan kemarahan adiknya.


"Mas Candra! non Hanifah!

__ADS_1


Masyaalloh, bibi kangen banget!" teriak Bi Sumi senang melihat Candra dan Hanifah pulang.


"Bibi, ya ampun bibi makin muda saja. Hanifah juga kangen sama bibi. Bi Sumi apa kabar?" Hanifah berdiri dan menghampiri Bi Sumi, mencium punggung tangan wanita sepuh yang sudah dianggapnya keluarga, pun dengan Candra, juga melakukan hal yang sama seperti adiknya, mencium punggung tangan Bi Sumi takzim.


Mereka anak anak baik dan tau adab, meskipun bi Sumi hanya pembantu, tapi mereka selalu bersikap baik dan tetap sopan pada Bi Sumi.


Pak Suko tersenyum bangga melihat bagaimana sikap anak anaknya dalam memperlakukan orang yang lebih tua, tidak ada sifat sombong pada diri anak anaknya.


"Bibi sudah masak soto ayam kesukaan mas Candra juga non Hanifah.


Dan juga bi Sumi buatkan pisang goreng dan kolak kacang hijau. Semuanya sudah matang.


Mau makan sekarang?


Biar bibi siapkan." Bu Sumi sangat senang dengan kepulangan Candra dan Hanifah, anak anak yang sudah dirawat dan dijaganya sejak mereka bayi.


Bi Sumi sangat menyayangi mereka.


"Terimakasih Bi, aku mau makan kolaknya saja dulu. Duh kangen banget sama kolak bikinan bibi, pasti enak banget!" Hanifah menggandeng bi Sumi ke dapur, dan mengambil mangkok lalu menuangkan kolak didalamnya.


"Eh main tinggal saja.


Aku juga mau, Bi!


Mau kolak kacang hijau bikinan bi Sumi rasanya kayak bikinan mama." Candra mengekor di belakang bi Sumi, sedangkan Bu Sumi dengan semangat mengambilkan kolak untuk Candra, dan menggandengnya untuk duduk di kursi meja makan yang ada di dapur.


"Kalian makan gak ajak ajak ayah, hmm sudah ada bi Sumi, ayah dilupakan nih?" tiba tiba pak Suko muncul dan ikut bergabung dengan kedua anaknya.


"Bapak juga mau kolaknya?" tawar bi Sumi dengan sumringah, rindu suasana rumah yang rame dan ceria seperti dulu saat semua masih kumpul. Dan sekarang itu terjadi lagi.


"Biar Hanifah yang ambilin kolaknya buat ayah, Bi!


Bi Sumi duduk saja disini, kami kangen makan ditemani Bi Sumi, iya kan, mas?" Hanifah menatap kakaknya, dan Candra juga mengiyakan ucapan adiknya. Ingin bi Sumi menemani mereka makan seperti dulu, saat mereka masih kecil, saat wanita ular itu datang merusak semuanya.


"Turuti saja mau mereka, Bi!


Mereka kangen sama Bi Sumi.


Bagaimanapun, Bu Sumi yang merawat mereka dari kecil. Biar mereka belajar cara menghargai dan menghormati orang yang sudah berjasa di hidup mereka!" sahut pak Suko santun dan juga tak keberatan kalau pembantunya itu makan dan ikut duduk satu meja dengannya, bagaimanapun, Bu Sumi sudah banyak berjasa di keluarganya.


"Saya sungkan pak, kan memang sudah tugas saya menjaga mereka. Tapi saya juga sangat menyayangi mereka seperti anak anak saya juga, atau tepatnya cucu saya ya, hehehe!" balas Bu Sumi terkekeh dan semua ikut tertawa mendengar celoteh Bi Sumi yang merasa dirinya sudah tua.


Hanifah membawa dua mangkok kolak di tangannya, diberikan ke ayahnya dan satunya buat Bi Sumi.

__ADS_1


"Kita makan kolaknya sama sama, pasti rasanya enak!" Hanifah tersenyum sumringah, bahagia dengan kebahagiaan sederhana yang kini tercipta di keluarganya.


"Ayah tau kemana dua wanita itu pergi?" Candra membuka obrolan untuk mencairkan suasana, setelah beberapa menit pada fokus dengan mangkok masing masing.


"Ayah gak perduli, dan juga gak mau tau. Biarkan saja mereka diluar sana, sudah bukan urusan kita." Sahut pak Suko santai dengan sambil mengunyah kacang hijau di mulutnya.


"Ya, semoga saja mereka tidak lagi mengganggu keluarga kita.


Apa mereka ada minta uang ke ayah, sebelum pergi?" tanya Hanifah dengan mimik penasaran.


"Iya, dengan alasan yang masa Iddah selama tiga bulan. Ayah kasih tiga juta, itu memang sudah kewajiban ayah menurut agama." sahut pak Suko jujur dan membuat kedua anaknya mengangguk paham.


"Saat ini mungkin mereka tengah malu, atau bahkan tengah marah karena ayah berhasil menjebaknya." Sambung pak Suko dengan senyuman lebar, membuat penasaran semua yang ada diruangan.


"Maksudnya ayah?


Menjebak, menjebak gimana?" Candra semakin penasaran, dan meminta ayahnya menjelaskan maksud dari ucapannya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️


__ADS_2