Pembalasan Istri Yang Terhina

Pembalasan Istri Yang Terhina
kembali di tangkap


__ADS_3

Saat Hasna akan melangkah, Yudha mencekal tangan putrinya dan membuka masker miliknya."Hasna! ini ayah nak!" ucap Yudha dengan wajah dibuat sesendu mungkin.


Hasna bergeming dan tak merespon apapun, hanya menatap dingin pada laki laki yang selalu menggoreskan luka di hatinya.


Sedangkan Halwa sudah begitu cemas saat melihat mantan suaminya ada bersama putrinya.


"Mas!" ucap Halwa dengan suara bergetar menatap ke arah ayah dan anak.


Dafi yang menyadari perubahan sikap istrinya ikut menoleh ke arah yang sama.


"Kamu gak usah khawatir, ada Candra yang akan melindungi Hasna. Dan aku juga sudah meminta keluargaku yang lain untuk waspada, kamu tenang saja!" Dafi berusaha untuk meyakinkan istrinya jika semua akan baik baik saja.


"Hasna, maafin ayah!


Kamu mau kan memaafkan ayah?" sambung Yudha lirih, pura pura sedih agar putrinya merasa iba.


Namun sedikitpun Hasna tak merasakan apapun, kecuali perasaan sakit dan hambar akan sosok laki laki yang harusnya disebut ayah olehnya.


"Aku sudah memaafkan anda pak Yudha!


Jadi sudah tidak ada masalah diantara kita. Saya permisi, karena harus temani bunda!" sahut Hasna dingin dan tak Sudi menatap wajah ayahnya.


"Hasna! Aku ayah kamu. Harusnya kamu menghormati dan menghargai ayah.


Jangan jadi anak durhaka kamu!


Ayah itu kangen dan ingin menghabiskan waktu sama kamu, meskipun hanya sehari saja!" sahut Yudha menekan emosinya, agar tidak menciptakan keributan, dan akhirnya terusir dari tempat itu.


"Yang di katakan ayah kamu itu benar, Na!


Kamu jangan durhaka!


Bagaimanapun Yudha adalah orang tua kamu, ayah kandung kamu!


Jadi hargai dan hormati dia!


Apa salahnya sih, kalau kamu menuruti keinginan ayah kamu sekali saja, wong cuma ngobrol saja loh!" Bu Imah ikut menimpali dan hanya direspon tatapan dingin oleh Hasna. Tidak merasa bersalah apalagi tertarik sedikitpun dengan kalimat rindu yang di ucapkan ayahnya.


Perlakuan kasar dan penolakan Yudha selama ini terhadap dirinya, membuat Hasna benar benar mati rasa dan tak lagi ingin merindukan sang ayah. Hatinya sudah benar benar sakit dan hambar.


"Kenapa baru sekarang, kalian mau mengakui keberadaan ku? bukankah dulu selalu aku ini dihina dan di caci maki, dan menganggap aku hanya anak pembawa sial. Jadi maafkan aku, aku sudah memaafkan kalian, tapi aku tidak mampu melupakan sikap kalian padaku selama ini!" balas Hasna dengan ekspresi datar, dan suaranya terdengar dingin.


"Hasna, tolong beri kesempatan buat ayah untuk memperbaiki semuanya. Ikut ayah nak, ayah hanya mau menghabiskan waktu sebentar saja sama kamu!" balas Yudha dengan wajah yang begitu memelas, agar putrinya merasa iba dan mau ikut dengannya.


"Ini acara bunda, aku gak mau ninggalin bunda disaat acara bahagianya.

__ADS_1


Insyaallah nanti kalau ada waktu aku akan ngobrol dengan ayah, tapi jika bunda memberikan ijin!


Permisi!" Hasna hendak berlalu pergi, namun Bu Imah mencekal lengan Hasna dengan kasar lalu menyeretnya untuk ikut dengannya.


Melihat sikap kasar Bu Imah terhadap Hasna.


Candra langsung bergerak cepat, mencoba melepaskan cekalan tangan Bu Imah dari lengannya Hasna. Namun dengan kasar Yudha menghalangi dan hendak memukul Candra.


Dafi langsung turun dari pelaminan, pun dengan para lelaki dari keluarganya.


"Lepaskan Hasna, jangan pernah paksa dia untuk ikut sama kamu, jika Hasna tidak mau. Lepaskan!" tegan Dafi dengan intonasi sedikit meninggi, kesal dengan perbuatan nekad Yudha dan ibunya.


"Tolong Hasna, bund!


Hasna gak mau ikut mereka! Isak Hasna yang tak bisa berkutik dari cengkraman Bu Imah, bahkan sudah menodongkan pisau kecil ke leher Hasna.


Meskipun sudah tua, tapi tenaga Bu Imah masih cukup kuat.


Yudha tersenyum miring, bangga dengan akal licik ibunya, tak menyangka kalau ibunya bisa gerak lebih cepat darinya, Yudha memundurkan langkah dan mengambil alih pisau dan juga menggantikan ibunya mencekal tubuh gadis remaja yang tak lain adalah anak kandungnya.


"Lepaskan Hasna, Mas!


Jangan macam macam kamu!" teriak Halwa yang sudah gemetar dan air matanya berjatuhan, takut juga cemas telah merambat ke dalam hatinya akan keselamatan buah hatinya.


"Aku sudah bilang sama kamu, Wa!


Yudha tertawa penuh kemenangan, karena Hasna sudah berada di tangannya, dan yakin tidak akan ada yang bisa mencegah perbuatannya, karena pisau sudah ditodongkan di leher sang putri.


"Gila kamu, Hasna itu anakmu! Darah daging kamu. Cuma orang gila yang bisa menyakiti anaknya sendiri. Lepaskan Hasna, lepaskan!" teriak Halwa kalap, karena ada darah yang sudah mengalir, Yudha sengaja mengenai sedikit kulit leher anaknya, agar Hasna merasa kesakitan dan merintih serta darah keluar. Pasti semua itu membuat Halwa tertekan dan ketakutan, lalu akan menuruti keinginannya. Itulah yang ada di pikiran Yudha saat ini.


Candra diam diam sudah menghubungi pihak berwajib, dan tak sedikit yang merekam aksi kejahatannya Yudha.


Karena terlalu fokus dengan niatnya yang inginkan Halwa, Yudha dan ibunya tak menyadari kalau aksinya akan membuat mereka terkena masalah hukum.


"Apa mau kamu, Yudha?


Lepaskan Hasna, atau aku akan membuatmu mendekam dalam penjara seumur hidup!" tekan Dafi penuh emosi, apalagi melihat Halwa yang histeris karena melihat darah di jilbab anaknya.


Hasna hanya bisa menangis, karena kedua tangannya di tarik kebelakang dan di pegang kuat oleh Yudha, tak perduli jika Hasna merintih kesakitan. Jiwa sebagai orang tua tak lagi berfungsi dalam diri Yudha.


"Lepaskan Halwa, talaq dia sekarang juga.


Dan kami akan menikah lagi. Maka Hasna akan bebas dan tak lagi menahan sakit seperti ini!" sahut Yudha dengan tersenyum miring dan menatap penuh nafsu ke arah mantan istrinya yang saat ini terlihat begitu cantik.


"Dasar laki laki gila!" Dafi sudah tak bisa lagi menahan emosinya, melangkahkan kakinya mendekati Yudha, namun teriakan Hasna membuatnya menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Diam disana, atau anak ini aku habisi sekarang juga?" hahahaaaaaa.


Yudha tertawa terbahak dan lebih menekan ujung pisau ke leher Hasna, hingga darah semakin deras mengalir, Hasna hanya bisa menangis dan menahan rasa sakitnya.


Candra yang diam diam mundur pelan pelan sedari tadi kini sudah ada di belakang Yudha, namun ternya Bu Imah menyadari keberadaan Candra dan meminta Yudha untuk segera membawa Hasna pergi, sebelum orang orang nekad menyergap mereka.


Saat Yudha melangkah dan menyeret tubuh putrinya, dengan cekatan Candra menendang kaki Yudha dari belakang, hingga membuat Yudha terhuyung, dan kesempatan itu digunakan Dafi untuk menarik Hasna dari cekalan Yudha.


"Kurang ajar." teriak Yudha saat Hasna terlepas dari cekalannya dan sudah berada di tangan Dafi.


Sedangkan Candra berusaha untuk menangkap Yudha, tapi Yudha melawan dan berusaha kabur.


Melihat keadaan makin runyam, Bu Imah memilih lari mumpung semua orang tengah fokus menangkap Yudha.


Namun ada beberapa bapak bapak yang langsung menghadang dan menangkapnya.


Tak lama kemudian mobil polisi datang, Yudha dan ibunya diserahkan ke pihak berwajib.


Sedangkan Hasna langsung di bawa kerumah sakit terdekat.


"Maafkan bunda sayang, maaf!" Halwa terus saja mendekap tubuh putrinya, air mata terus mengalir membasahi wajah cantiknya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Wanita Berkubang Dosa


#Cinta berbalut Nafsu

__ADS_1


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2