
"Tapi ibu sedang di penjara, apa kita tetap akan menikah?" tanya Wati dengan mimik sedih.
"Kita kan cuma ijab dulu, nanti kalau ibumu sudah keluar dari penjara. Baru kita rayakan dan bikin resepsi. Yang penting kamu halal dulu untukku. Dan kita bisa minta restu ibumu besok. Insyaallah semua akan baik baik saja. Percayalah!" sahut pak Tarman yakin dan bersikap dewasa.
Wati terlihat mengangguk lemah dan mengiyakan apa yang dikatakan calon suaminya. Berjanji tidak lagi berbuat jahat pada siapapun. Ingin menjalani hidup tenang dan nyaman bersama pak Tarman.
"Mas! boleh aku mampir sebentar di mini market?
Aku ingin belikan ibu cemilan dan peralatan mandi. kasihan!" Wati menunduk dalam, antara takut juga malu pada Pak Tarman dengan kondisi ibunya.
"Iya! beli saja apa yang kamu mau dan sekiranya dibutuhkan ibumu." sahut pak Tarman dan mencari mini market terdekat.
Pak Tarman menyodorkan lembaran merah sebanyak dua puluh lembar pada Wati. "Belanja Lah, aku tunggu disini ya!"
Wati mengangguk dan keluar dari mobil menuju mini market dengan langkah gontai.
Membeli sesuatu yang dibutuhkan ibunya.
Sejak bertemu dengan pak Tarman, Wati berubah jadi lebih baik. Tak lagi keras dan bersikap semaunya lagi, Wati lambat lain merasakan kenyamanan dan kasih sayang tulus dari lak Tarman, hingga membuatnya ingin berubah dan ingin menjalani hidup yang tenang, membuka hatinya untuk menjadi istri yang baik bagi pak Tarman. Meskipun usia mereka terpaut sangat jauh, seperti bapak dan anak.
Wati menenteng dia kantong kresek berisi belanjaan untuk Bu Tria.
"Sudah?" tanya pak Tarman saat Wati memasuki mobil kembali dan duduk disampingnya.
"Sudah! Mas Tarman gak keberatan kan, anterin aku ke penjara lagi?" tanya Wati dengan wajah ragu menatap calon suaminya.
"Enggak kok! berarti kita ke penjara lagi?" sahut pak Tarman lembut dengan senyuman ramah di bibirnya yang menghitam karena sering merokok.
Wati mengangguk lemah dan tersenyum menatap ganti ke arah pak Tarman.
Hanya butuh waktu dua puluh lima menit, mobil pak Tarman sudah memasuki parkiran lapas.
"Kita bisa sekalian bicara soal pernikahan kita sama ibumu. Semoga ibumu mau mengerti dan merestui." pak Tarman menggenggam tangan Wati dan melangkah beriringan memasuki lapas, mendaftar ke petugas untuk menjenguk Bu Tria.
"Gimana, Wat?
Apa Suko mau mencabut tuntutannya?" todong Bu Tria saat kembali bertemu Wati.
"Wati diusir Bu, pak Suko sakit dan Candra melarang Wati masuk!
Maafkan Wati belum bisa nolong ibu keluar dari sini." sahut Wati sedih, kasihan melihat ibunya yang tidak nyaman berada di dalam penjara.
__ADS_1
"Terus, ibu apa akan mendekam di penjara lama?
Apa kamu gak kasihan sama ibumu ini, Wat?" Isak Bu Tria, penjara membuatnya sungguh tersiksa, apa lagi ada sesama tahanan yang usil dan suka berbuat seenaknya.
"Wati juga gak mau lihat ibu seperti ini, tapi Wati bingung harus bagaimana, Bu?
Pak Suko tertekan dan sakit karena ulah ibu menyebarkan Vidio itu, dan anak anaknya tentu marah dan gak terima, Candra saja sudah tidak mengijinkan Wati masuk rumah itu." sahut Wati menahan Isak tangisnya.
"Bagaimana kalau kamu temui Dafi?
Bicara baik baik sama dia, ibu janji gak akan ganggu keluarga mereka lagi, asal mereka mau cabut tuntutannya dan ibu keluar dari sini." Bu Tria benar benar kalut, sudah tidak tahan berada di tempat yang begitu menyiksanya.
"Nanti akan Wati coba temui mas Dafi, tapi besok hari pernikahannya, pasti mas Dafi tidak bisa ditemui." balas Wati dengan wajah sendu, ingat dengan laki laki tampan yang selama ini dia kejar cintanya.
"Ibu tersiksa disini, Wat! Ibu di usili sama tahanan lain, dan juga ibu gak bisa tidur, dingin dan banyak nyamuknya." Bu Tria terisak, berharap segera keluar dari tempat yang begitu menyiksanya.
"Wati akan usahakan, ibu bersabar dulu.
Semoga mas Dafi mau dengerin Wati." sahut Wati sambil memeluk ibunya erat, menyodorkan dua kantong kresek berisi makanan dan alat mandi.
"Dari mana kamu dapat uang buat beli semua ini, Wati?" tanya Bu Tria heran, menatap Wati penuh dengan selidik.
Sekalian Wati juga mau minta ijin dan restu ibu.
Wati akan nikah siri sama pak Tarman. Nanti kalau Ibu sudah keluar dari penjara, baru kita akan nikah KUA." Wati menatap ibunya takut takut, karena tau seperti apa sifat ibunya, Wati takut kalau Bu Tria akan marah dan mencaci pak Tarman.
"Apa kamu yakin mau nikah sama pak Tarman?
Dia pantas jadi bapakmu, jangan sembrono kamu. Sudah cukup hidup kita susah dan salah kaprah, jangan lagi macam macam." sungut Bu Tria menatap tajam ke arah Wati juga pak Tarman.
"Wati serius, Bu!
Pak Tarman baik dan serius sama Wati, pak Tarman janji akan bahagiakan Wati dan memperlakukan Wati dengan baik. Wati mohon berikan restu ibu." sahut Wati yakin dengan mimik yang penuh harap.
"Saya akan jaga Wati, Bu Tria.
Saya janji, akan menyayangi Wati. Kamu akan menikah agar kemana mana tidak timbul fitnah, dan insyaallah saya juga sudah menyediakan rumah yang nyaman untuk Wati setelah kamu menikah." Sahut pak Tarman tenang dengan senyum tipis di bibirnya.
"Apa kamu yakin mencintai anakku?
Aku gak mau, setelah kalian menikah, kamu menyia nyiakan Wati. Dan bagaimana dengan keluarga dan anak anak pak Tarman?
__ADS_1
Jangan sampai ada keributan di kemudian hari, aku gak iklas kalau nanti Wati dimusuhi keluarga pak Tarman." Bu Tria dengan tegas mengutarakan apa yang jadi beban pikirannya.
"Saya janji Bu, dan akan saya buktikan kalau memang saya benar benar serius menyukai Wati.
Soal keluarga ibu tidak perlu khawatir, anak anak saya sudah dewasa dan dia mengerti.
Dan untuk keluarga yang lain, pun sama. Mereka tidak akan ikut campur dan mengurusi kehidupan saya, kami sudah punya jalan hidup masing masing. Jadi Bu Tria tenang saja, Wati akan aman dan bahagia dengan saya." pak Tarman menjawab penuh dengan keyakinan dan tenang, membuat Bu Tria hilang rasa cemas memikirkan nasib anaknya, dan merestui pernikahan mereka.
"Baiklah, aku restui niat baik kalian. Semoga kamu tepati janjimu pak Tarman." sahut Bu Tria datar dan menatap haru pada anak perempuannya yang terlihat tersenyum senang.
"Terimakasih, Bu! Wati janji akan berusaha mencari cara agar ibu segera bebas dari sini. Dan kita akan hidup bahagia bersama.
Mas Tarman, gak keberatan kan, kalau nanti ibu ikut tinggal dirumah kita?" Wati memeluk sayang Bu Tria dan mengalihkan pandangannya pada calon suaminya yang tersenyum dan tak merasa keberatan kalau nanti ibu mertuanya ikut tinggal bersama dengan mereka.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1