Pembalasan Istri Yang Terhina

Pembalasan Istri Yang Terhina
talaq tiga


__ADS_3

"Sudah, tadi Candra langsung mengirimkan rekaman itu pada mas Dafi. Dan mas Dafi berterimakasih, semoga mas Dafi bisa lebih waspada dengan sikap mereka.


Aku juga akan ikut mengawasi tingkah wanita itu.


Aku gak iklas kalau dia menggagalkan pernikahan mas Dafi dan mbak Halwa, mbak Halwa itu baik dan sangat lembut. Mas Dafi berhak bahagia, karena mas Dafi sangat mencintai mbak Halwa.


Aku tidak akan membiarkan si Wati menghancurkan impian mas Dafi!" Candra mengepalkan kedua tangannya, tak rela kalau sampai Wati menjadi duri dalam kebahagiaan Dafi yang sudah Candra anggap sebagai kakak kandungnya.


"Iya, ayah juga gak rela kalau mereka menghancurkan impian Dafi.


Ayah akan terus mengawasi mereka dari rumah, bilang sama mas mu itu untuk selalu hati hati, dan lebih baik memberitahu calon istrinya dengan niat jahatnya Wati, kirim rekaman itu pada Halwa, agar kalau terjadi sesuatu, mereka tidak salah paham.


Dafi maupun calon istrinya biar waspada dan lebih hati hati lagi." sahut pak Suko tegas dan di iyakan oleh Candra.


"Kalau begitu Candra pamit pulang dulu, ayah!


Nanti jam tiga Candra ada les soalnya.


Nanti biar Candra yang bicara sama mas Dafi dirumah.


Kalau ada apa apa ayah langsung telpon kamu saja ya." Candra meraih tangan ayahnya dan mencium punggung tangan pak Suko takzim, kembali pulang kerumah budhenya tanpa memperdulikan tatapan tak suka dari Wati dan ibunya.


"Mas! Mas, tunggu!" Bu Tria menghentikan langkah pak Suko yang akan kembali ke kamarnya.


"Ada apa?" sahut pak Suko dingin tanpa .aku menoleh ke arah istrinya.


Selama mereka menikah, pak Suko bahkan tidak pernah menyentuh Bu Tria sama sekali. Mereka tidur terpisah, pak Suko lebih memilih tidur di kamar sebelah yang dulu buat ruang kerjanya.


Pak Suko merehab nya jadi sebuah kamar yang nyaman dan luas, untuk tempat tidur sekaligus ruang kerjanya.


"Aku butuh uang buat beli kebutuhan rumah, ini sudah tanggal tujuh, tapi kamu belum kasih aku uang belanja!" sahut Bu Tria kesal namun berusaha bersikap baik, karena sedang butuh uang dari pak Suko.


Pak Suko tersenyum sinis dan pergi begitu saja meninggalkan Bu Tria dan Wati tanpa mau membalas permintaan istrinya itu.


"Mas! Mas!


Kamu kok diam saja, aku harus pergi belanja, berikan aku uangnya!" kejar Bu Tria dengan nafas memburu, menahan rasa kesal dihatinya.

__ADS_1


"Mulai sekarang, yang belanja biarkan Bu Sumi saja! jadi kamu tidak perlu repot repot.


Dan aku tidak akan lagi memberikan uang belanja ke kamu, karena aku merasa kamu bukan Istriku dan dia juga bukan anakku!" sahut pak Suko tegas dan tak perduli dengan Bu Tria yang langsung shock mendengarnya, kakinya mundur beberapa langkah, matanya membulat tak percaya kalau pak Suko sudah sangat berubah, bahkan tak lagi bisa disetir olehnya.


"Mas, aku istrimu!


Bagaimanapun aku tanggung jawab kamu, aku masih sah istri kamu, aku berhak mendapatkan uang belanja darimu." sungut Bu Tria tidak terima.


"Baiklah!


Untuk melepaskan tanggung jawabku, saat ini juga aku talaq kamu, mulai detik ini kamu sudah bukan tanggung jawabku. Tria Siswanti aku talaq tiga sekaligus padamu, kamu sudah bukan lagi istriku detik ini juga." Pak Suko bicara dengan sangat tegas dan nada tinggi, sampai terdengar oleh Bu Sumi dan juga Wati yang terlihat membuka membekap mulutnya, tak percaya dengan apa yang terjadi.


Bu Tria langsung menangis histeris, namun pak Suko tidak perduli sama sekali. Justru pak Suko pergi meninggalkannya kembali ke dalam kamarnya.


"Akhirnya aku bisa bernafas lega, karena bebas dari perempuan licik itu!" gumam pak Suko dan merebahkan tubuhnya di atas kasur, yang sebelumnya mengunci pintunya terlebih dulu, agar Tria tidak menganggu istirahatnya.


"Bu, kenapa dia sampai menceraikan ibu?


Terus kita harus gimana, Bu?


Aku gak mau hidup miskin, gak mau!" teriak Wati frustasi, sedangkan Bu Tria hanya bisa menangis, bingung harus melakukan apa, ancamannya sudah tidak berguna lagi untuk pak Suko.


"Sekarang kalian akan menuai balasan dari sikap sombong kalian. Menjadi miskin dan terbuang dari rumah ini. Kasihan!" gumam Bu Sumi dan berlaku meninggalkan Wati dan ibunya yang masih menangis, Bu Sumi memilih meneruskan pekerjaannya menyetrika baju, dari pada hari melihat drama kedua wanita ular itu.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Sekarang apa yang akan kita lakukan dengan tuntutan Jarwo, pokoknya ibu gak mau masuk penjara!" Bu Imah langsung duduk di sofa ruang tamu rumahnya, kepalanya terasa pusing memikirkan masalah keluarganya yang tidak ada habisnya.


"Ibu tenang saja, kita akan bayar uang yang diminta Jarwo, dan bersikap seolah kita menyerah dan menuruti keinginannya itu, biar dia merasa menang dan menganggap kita lemah!" sahut Yani dengan tenangnya. Lalu ikut duduk tak jauh dari ibunya, Yudha memilih diam menyimak obrolan ibu dan kakaknya.


"Maksud kamu?


Uang dari mana untuk membayar ganti rugi yang Jarwo minta, dua puluh lima juta loh ini, kamu punya uang segitu dari mana, Yen?"


Teriak Bu Imah kesal dan tak mengerti arah pembicaraan anak perempuannya.


"Uang lima belas juta yang kemarin ibu terima dari mas Jarwo, berikan sama Yeni, Yeni akan tambahin sisanya yang sepuluh juta." sahut Yeni yakin dan membuat Bu Imah maupun Yudha saling melempar pandang tak percaya.

__ADS_1


"Uang dari mana kamu, kayak banyak uang saja. Selama ini makan saja kamu minta sama ibu!" sahut Bu Imah tak percaya dan masih ragu dengan ucapan anaknya yang terkenal pelit dan perhitungan selama ini.


Yeni bangkit dari duduknya, masuk ke dalam kamar dan keluar lagi membawa dua kotak kayu berukuran sedang.


Bu Imah dan Yudha saling lirik namun tetap diam, melihat apa yang dilakukan Yeni.


Yeni meletakkan dua kotak kayu di atas meja, dan membuka kuncinya, saat kotak sudah terbuka, Yudha maupun Bu Imah langsung ternganga melihat isi dalam kotak tersebut.


"Ini!" Bu Imah melotot dan membekap mulutnya, tak percaya melihat isi di dalam kotak yang di bawa Yeni.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

__ADS_1


Happy ending ❤️


__ADS_2