Pembalasan Istri Yang Terhina

Pembalasan Istri Yang Terhina
Hadirnya Wati si pembuat masalah


__ADS_3

"Iya sayang, Hasna jangan sungkan lagi ya ke om Dafi. Mulai sekarang bisa latihan panggil om Dafi Papa, ayah juga boleh. Gimana enaknya Hasna saja, oke?" sambung Dafi yang merasa sangat cocok dan senang berdekatan dengan Hasna yang memang cerdas dan sangat tegas.


"Hmm enaknya apa ya?


Nanti deh tanya ke bunda, panggil om Dafi, apa?" hihihii Hasna tersenyum memamerkan giginya yang putih dan rata, membuat Dafi gemas dan ikut tertawa dengan tingkah lugunya.


Dari kejauhan Halwa tersenyum melihat Hasna terlihat akrab dengan Dafi. "Semoga sosok ayah Hasna dapatkan dari mas Dafi." batin Halwa penuh harap.


Setelah asik ngobrol dengan Hasna, Dafi menghampiri Halwa yang tengah menjamu tamunya dengan sangat ramah.


"Makasih ya!


Terimakasih, sudah mau terima aku jadi pendamping kamu." Dafi tiba tiba sudah berdiri di belakang Halwa yang langsung menoleh ke arahnya setelah mendengar suara lembutnya.


"Mas!" Halwa terpaku, menatap gugup ke arah Dafi yang tersenyum sangat tampan.


"Cie, sudah main tatap tatapan mata nih ye!" goda mbak Rika yang melihat Dafi dan Halwa terlihat gugup dan salah tingkah.


"Sudah! Gak usah gugup kayak gitu, latihan gih, bentar lagi juga akan malam pertama kan?" mbak Rika memainkan matanya genit ke arah Halwa yang tersipu malu. Sedangkan Dafi hanya tersenyum menanggapi celoteh tetangga calon istrinya itu.


"Masih lama mbk Rika, kan nikahnya belum!" sahut Dafi pada akhirnya, berusaha menghilangkan rasa gugupnya saat berdekatan dengan Halwa yang terlihat begitu anggun dan cantik malam ini.


"Makanya cepetin dong, biar cepet malam pertama. Iya gak?" sahut mbak Monika yang ikut menimpali celotehan mbak Rika yang senang menggoda Halwa yang masih malu malu.


"Insyaallah, satu bulan lagi! Bantuin persiapan nya ya mbak!" sahut Dafi ramah dengan senyuman manisnya.


"Pasti dong, tenang saja, kami akan mendampingi mbak Halwa, membantunya menyiapkan semuanya." sahut mbak Rika semangat dan di iyakan oleh mbak Monika yang ikut bergabung.


Saat asik ngobrol, tiba tiba Wati datang, dan mendekati Dafi dengan sikap angkuhnya.


Menatap sinis ke arah Halwa yang terkejut dengan tingkah Wati yang langsung bergelayut di lengan Dafi, namun langsung ditepis Dafi dengan raut tak suka.


"Apa apaan kamu, Wat?" Dafi tak suka dengan tingkah Wati yang sudah keterlaluan dan bisa menimbulkan kesalahpahaman antara dirinya dan Halwa.


"Tenang saja kenapa sih, Mas!


Kita kan keluarga, masak calon istrimu cemburu, kayak gak punya saudara saja!" sungut Wati tak suka dan melirik sinis pada Halwa yang hanya memilih diam. Sedangkan mbak Rika dan mbak Monika menunjukkan sikap tak sukanya pada Wati.


"Saudara ya saudara sih, tapi gak kudu nempel nempel kali. Kayak gatel pingin di garuk saja." celetuk mbak Rika tak suka dengan sikap Wati yang memang terlihat sengaja ingin membuat Halwa malu.


"Hey, kenapa kamu yang sewot. Saudara saudara aku. Lagian apa hubungan kamu dengan kami?

__ADS_1


Cuma orang gak penting!" sungut Wati angkuh dan membuat Rika juga Monika makin geram.


"Jaga mulutmu, wat!


Jangan bikin ulah di acara bahagiaku ini.


Dan jangan kamu ulangi sikapmu itu, kita bukan saudara kandung, jadi jangan main pegang seenaknya, aku gak suka!" bentak Dafi dengan wajah dinginnya. Karena Wati selalu membuat nya kehilangan mood dengan sikap gilanya.


"Halah mas, Dulu saja gak masalah tuh aku dekat dekat kamu. Jangan bilang kamu takut kalau calon istrimu marah. Belum jadi istri saja sudah banyak aturan, apa lagi jadi istri, bisa ngenes kamu diatur dia!" Wati berusaha memperkeruh suasana dengan ucapan ngawur nya, padahal dari dulu Dafi memang tak pernah suka dengan dirinya.


"Jangan bicara ngawur kamu, Wat!


Apa kamu gak malu bicara yang seperti orang bodoh, seperti wanita gak punya harga diri saja.


Aku sangat mencintai Halwa.


Dan aku tau niat jahat kamu, kamu ingin menghancurkan hubungan kita dengan mulut pedasmu itu kan?


Gak ngefek sama sekali, karena kamu bukan level ku!" Tekan Dafi geram dengan sikap Wati yang semakin terlihat memalukan.


"Dih! Kalau aku yang digitukan malu tuh, amit amit deh!" sahut Rika tertawa dengan tatapan penuh ejekan pada Wati yang langsung memerah menahan kesal ulah kata kata yang Dafi lontarkan untuknya.


"Awas saja kalian, terutama kamu, Mas!


Aku akan membuatmu jatuh dalam pelukanku, sebelum dia merebut kamu dariku !" sungut Wati dengan amarah yang sudah meletup-letup.


Dengan menghentakkan kakinya, Wati pergi meninggalkan Dafi dan yang lain.


"Siapa sih dia, Mas Dafi?


Kok aneh gitu, sepertinya suka sama mas Dafi ya?" mbak Rika bertanya dengan ekspresi penuh selidik, mewakili pertanyaan yang ada di hati Halwa saat ini.


"Anak tiri adiknya ibuku. Dari dulu aku memang tidak suka dengan tingkahnya.


Selalu mencari kesempatan untuk mendekati ku.


Semoga kamu gak salah paham dengan apa yang baru saja kamu lihat, Wa!" Dafi menatap penuh harap pada Halwa yang terlihat tenang, memasang wajah baik baik saja, meskipun hatinya sedikit terluka oleh sikap perempuan yang mengaku saudaranya Dafi.


Perasaan Halwa menjadi tak enak, firasatnya mengatakan, kalau Wati akan jadi masalah dalam hubungannya dengan Dafi.


"Gak papa, Mas! Aku paham kok.

__ADS_1


Semoga kamu bisa menjaga kepercayaan ku!" sahut Halwa kalem dengan senyuman tipis yang terukir di bibirnya yang merona.


"Alhamdulillah, Insyaallah aku akan menjaga hatiku dan menjaga kepercayaan darimu.


Untuk Wati, percayalah, aku tidak sedikitpun ada perasaan terhadapnya. Dia pasti akan terus mengganggu kita nantinya.


Kamu siapkan menghadapi dia, jangan pernah bersikap baik apa lagi memberinya celah untuk masuk dalam hubungan kita, apapun alasannya dia nantinya. Dia bukan keluargaku, dia hanya orang lain yang datang dan kebetulan ibunya dinikahi pamanku." Sambung Dafi serius, agar Halwa bisa menyiapkan diri, jika suatu saat Wati berulah.


"Iya, Mas. Insyaallah" sahut Halwa masih dengan sikap tenangnya.


"Kalau dia macam macam, bilang saja sama kami mbak, biar kita yang urus Wewe gombel itu. Perempuan seperti itu, pantas dikasih terapi, biar jera. Iya gak?" sahut Rika bersemangat dan mengedipkan matanya pada Monika yang langsung tersenyum lebar. Mereka bisa bar bar kalau terusik, namun akan sangat baik jika berhadapan dengan orang baik.


Halwa dan Dafi tersenyum dengan tingkah kedua tetangga yang terkenal centil tapi juga sangat baik dan perduli dengan orang lain.


Wati yang merasa sakit hati, menatap tak suka ke arah Halwa yang tertawa bahagia bersama Dafi dan kedua tetangganya yang menurut Wati sangat menyebalkan.


"Awas saja kamu, Mas!


Aku akan membuat hubungan kalian bermasalah. Aku tidak iklas kamu memilih perempuan itu, aku yang pantas menjadi istrimu, bukan dia!" Wati mengepalkan kedua tangannya erat, mantap benci pada Halwa dan Dafi.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️

__ADS_1


__ADS_2