
"Baiklah, aku restui niat baik kalian. Semoga kamu tepati janjimu pak Tarman." sahut Bu Tria datar dan menatap haru pada anak perempuannya yang terlihat tersenyum senang.
"Terimakasih, Bu! Wati janji akan berusaha mencari cara agar ibu segera bebas dari sini. Dan kita akan hidup bahagia bersama.
Mas Tarman, gak keberatan kan, kalau nanti ibu ikut tinggal dirumah kita?" Wati memeluk sayang Bu Tria dan mengalihkan pandangannya pada calon suaminya yang tersenyum dan tak merasa keberatan kalau nanti ibu mertuanya ikut tinggal bersama dengan mereka.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Yudha kelabakan, bingung harus melakukan apa untuk menggagalkan pernikahan mantan istrinya dengan pria lain.
Wati yang dianggapnya bisa membantu dan memperlancar rencananya, ternyata sudah tidak tertarik lagi dan tidak mau ikut campur, apa lagi membantunya.
"Besok pernikahan Halwa, bisa gak bisa kita harus bawa Hasna, Bu!" dengus Yudha dengan suara berat, ingin menjadikan Hasna sebagai alat untuk membuat Halwa tunduk dan mengikuti kemauannya.
"Apa yang kamu rencanakan, Yudha?" tatap Bu Imah dengan mimik penasaran. Mendukung apapun yang akan dilakukan Yudha demi bisa mendapatkan Halwa dan hartanya.
"Kita akan datang ke acara pernikahannya Halwa besok, pura pura saja bersikap baik dan biasa saja, agar tidak ada yang curiga.
Ibu dan aku harus bisa mempengaruhi Hasna untuk mau ikut dengan kita, apapun caranya.
Sedang mbak Yeni, lebih baik dirumah saja, siapin gudang rahasia yang ada di balik dinding garasi, tolong mbak bereskan agar tempatnya bersih, kita akan sekap Hasna sementara waktu disana, sampai Halwa mau menyerah, berikan hartanya atau dia tinggalkan laki laki itu dan kembali denganku." jelas Yudha panjang lebar, dan membuat Bu Imah juga Yeni mengangguk, menyetujui rencananya Yudha.
Sedangkan, dilain tempat. Semua persiapan pernikahan, Halwa dan Dafi sudah matang. Hanya menunggu besok, Halwa akan melepas masa jandanya dan menjadi istri dari Dafi, duda tampan tanpa anak.
"Calon pengantin sepertinya tidak bisa tidur nih!" canda Bella yang sengaja menggoda Halwa.
"Perasaan aku gak enak, Bel!
__ADS_1
Entahlah, seperti ada yang mengganjal gitu, tapi aku gak ngerti itu apa." sahut Halwa dengan mimik cemas dan hati yang mendadak tidak tenang.
"Mungkin aku kepikiran dengan acara besok, berpikir positif dan siapkan hatimu. Insyaallah, semua akan baik baik saja." sahut Bella berusaha menenangkan sahabatnya yang terlihat cemas.
"Besok titip Hasna ya, jaga dia. Aku maunya dia ikut temani aku di pelaminan saja. Biar bisa terus awasi dia. Entahlah, perasaan aku mengatakan kalau mas Yudha akan punya rencana buruk sama kami." sahut Halwa dengan tatapan nanar dan jantung yang berdebar hebat.
"Besok Hasna biar aku minta untuk di dandani, dan menemani kamu di pelaminan. Kamu tenang saja. Yudha tidak mungkin datang. Lagian dia juga tidak diundang kan, karena yang bisa masuk di acara, orang yang bawa undangan saja." sahut Bella serius, dan memahami kecemasan yang di alami sahabatnya.
Halwa terlihat mengangguk, tapi firasatnya mengatakan kalau akan terjadi sesuatu dan itu apa, dirinya sendiri juga belum tau. Hanya merasakan kecemasan luar biasa.
"Kamu istirahat saja, capek kan, tadi seharian habis melakukan ritual agar glow up di acara besok." Bella tersenyum, berusaha untuk membuat sahabatnya tenang dan tak lagi terlalu cemas.
"Berdoalah, dan tetap berpikiran positif, oke!" Bella mengacungkan dia jempolnya dengan senyum yang dibuat ceria.
Halwa berusaha mengubur perasaan cemasnya, dan beristighfar tiada henti di dalam hatinya, memohon jika perasaan yang kini dirasakan tidak ada artinya, dan semua akan tetap baik baik saja.
Halwa membaringkan tubuhnya di samping Hasna, memandangi wajah polos anak satu satunya, melekukkan senyuman manis dan mengulas doa doa kebaikan untuk kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan putrinya.
"Semoga, kamu kelak, menemukan laki laki yang tulus menyayangi kamu, nak. Yang mampu menjaga kamu dalam segala keadaan. Kamu pintar, baik dan juga lembut. Insyaallah, jodohmu kelak, juga laki laki baik nan Sholeh. Aamiin!" gumam Halwa dalam hatinya.
Halwa terlelap dalam kegelisahan, hingga suara adzan subuh berkumandang. Halwa terbangun dan sudah tak mendapati Hasna di tempatnya.
"Hasna! kamu kemana nak?" Halwa mencari Hasna dengan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan di kamar, namun tak ada tanda tanda sang anak. Halwa langsung beranjak dan keluar kamar, mencari keberadaan putrinya yang ternyata sudah ada di dapur, gabung dengan ibu ibu yang tengah menyiapkan bingkisan dan nasi kotak untuk dibagikan ke tetangga sebelum acara ijab dimulai.
"Ya Alloh, nak! ternyata kamu ada disini. Bunda nyariin loh!" ucap Halwa sambil berjalan cepat ke arah anaknya dan memeluknya erat.
"Ih, bunda! kan Hasna dirumah, tadi pas Hasna bangun, bunda masih nyenyak tidurnya. Terus Hasna mandi, sholat, kesini deh. Di dapur lihat ibu ibu sibuk siapin makanan." jelas Hasna dengan polosnya, Halwa tersenyum dan menciumi pucuk kepala anaknya, perasaan cemas semakin melanda hatinya.
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1