
"Kenapa sih pak?
Kenapa kamu lebih pilih membela janda itu Tinimbang sama anak sendiri?
Wati lebih pantas jadi istrinya Dafi, bukan janda gatel itu!" sungut Bu Tria tak suka.
"Apa?
Apa aku tidak salah dengar?
Wati bukan anakku, tapi anakmu!
Yang gatel bukan Halwa, tapi anakmu itu.
Jaga mulutmu, dari pada kamu malu sendiri.
Kalian kenapa juga masih disini?
Bukankah aku sudah menjatuhkan talak tiga ke kamu, kamu bukan istriku lagi.
Cepat kemasi barang barang kalian, dan pergilah!"
Teriak pak Suko sangat tegas dan penuh amarah.
"Apa?" teriak Wati dan Bu Tria terkejut. Tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Pak Suko dengan entengnya mengusir Wati dan ibunya.
"Apa suaraku tidak cukup jelas di telinga kalian, hah?
Cepat kemasi barang kalian, dan pergilah dari rumah ini!
Aku tak Sudi lagi melihat wajah kalian!" teriak pak Suko tegas dan tak lagi gentar.
"Kamu berani mengusir kami, mas?
Jangan salahkan aku jika Vidio itu tersebar dan menghancurkan nama baikmu dan membuat anak anakmu malu!" sahut Bu Tria dengan ancamannya, karena selama ini hanya itu senjatanya untuk membuat pak Suko tunduk dengan kemauannya.
"Silahkan!
Bahkan aku sudah tidak perduli, aku hanya kamu jebak dendam obat itu. Anak anakku sudah dewasa, dia sudah tau bagaimana menyikapinya, jadi aku tidak hawatir lagi. Jadi silahkan sebar Vidio itu, lagi pula bukan hanya aku yang malu, tapi juga kamu!
Wajahmu jauh lebih jelas daripadaku!" sinis pak Suko dengan menyerang balik Bu Tria, yang langsung terpaku. Tidak menyangka kalau pak Suko sudah tidak mempan sama sekali dengan ancamannya.
"Bu! Bagaimana ini?
Kita akan tinggal dimana?" rengek Wati yang sudah cemas dan takut kalau harus tidur di jalanan.
"Pergilah!
Aku kasih waktu satu jam untuk kalian membereskan barang barang kalian.
Jangan buat aku semakin emosi dengan kelakuan kalian itu!" sambung kak Suko dengan emosi meletup.
Pak Suko melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya, namun sebelum itu pak Suko memanggil bi Sumi untuk mengawasi Tria dan Wati.
Wati terus bertanya pada ibunya, harus pergi kemana dan harus gimana. Membuat Bu Tria semakin tertekan dan buntu.
"Kamu bisa diam dulu gak sih, Wat?
__ADS_1
Ibu juga sedang memikirkan caranya agar tidak pergi dari sini. Tapi ibu buntu. Suko sudah menceraikan ibu.
Aaaah sialan!" teriak Bu Tria frustasi dan membuat Wati semakin kalut.
"Lalu kita akan pergi kemana, Bu?" Wati menatap lesu ke arah ibunya yang masih duduk santai di pinggir ranjangnya.
Tak bisa melakukan apapun, karena mereka hanya menikah secara siri.
Dan Bu Tria tidak bisa menuntut apapun dari pak Suko, karena selama mereka menikah, pak Suko tidak sekalipun meminta haknya sebagai suami. Pak Suko tidak pernah menyentuh Bu Tria sama sekali.
"Ibu juga gak tau, kita tidak punya rumah lagi.
Dan kamu sendiri tau, kalau keluarga kita tidak ada satupun yang menyukai kita.
Ibu buntu!" Bu Tria terduduk lesu, sambil menatap koper di depannya. Tidak rela meninggalkan rumah mewah pak Suko .
"Terus kita harus bagaimana ini Bu?
Wati gak mau kita Luntang luntung di jalanan, malu!
Apa ibu tidak punya tabungan sama sekali?" sahut Wati cemas dan nampak begitu shock dengan pengusiran yang dilakukan pak Suko.
'Ibu selalu menghabiskan uang dari mas Suko selama ini, dan tidak pernah kepikiran kalau dia akan setega ini.
Uang ibu tidak cukup untuk menyewa apartemen atau mengontrak rumah."
Ucap Bu Tria lesu, pikirannya mengembara kemana mana.
"Jadi ibu benar benar tidak ada uang simpanan?" tanya Wati dengan mata berkaca kaca, pikirannya sudah kacau duluan.
"Ada, tapi tidak banyak!
Hanya sekitar lima hingga tujuh juta saja.
Bu Tria mengambil kotak bludru berwarna maron, saat di buka, Mata Wati membeliak tak percaya, karena isinya sangat menakjubkan.
Begitu banyak perhiasan di dalamnya dengan berbagai model. Bahkan ada dua buah cincin berlian yang masih begitu berkilau.
"Bu! ini kan berlian?" tunjuk Wati sambil mengambil cincin bermata berkilau yang memiliki bentuk berbeda sendiri.
Wati membuka kotak paling kecil, dan di dalamnya tertera surat pembelian cincin berlian dengan harga yang sangat fantastis.
"Bu ini ada suratnya, lebih baik kita cepat tinggalkan rumah ini, sebelum pak Suko menyadari perhiasan istrinya hilang dan yang nyuri ibu.
Kita jual semua, uangnya bisa beli rumah bahkan masih sisa." Wati menatap serius ke arah ibunya dan mengangguk senang dengan senyuman lebar di bibirnya.
"Bagaimana kalau Suko menggeledah tas kita, pasti kita akan ketahuan?" Bu Tria bingung, takut kalau ketahuan dan berakhir di penjara.
"Ibu tenang saja, biar itu jadi urusan Wati.
Wati tau caranya menyembunyikan perhiasan itu tanpa pak Suko curiga.
Lagian mana mungkin dia menggeledah tas yang kita bawa." Sahut Wati santai, dan mulai mengambil perhiasan untuk di gulung ke pakaian dalamnya, satu persatu agar tidak terlihat.
Bu Tria yang melihat kelakuan anaknya tersenyum geli dan bangga dengan kecerdikan Wati.
"Kamu memang selalu bisa diandalkan, Wati!" seringai Bu Tria dan mulai kembali bersikap tenang, karena merasa hidupnya akan aman aman saja pas keluar dari rumahnya pak Suko, karena membawa harta yang bisa menopang kehidupannya diluar.
"Ibu akan temui laki laki tua itu dulu. Mau meminta uang untuk ganti rugi karena dia sudah mengusir kita, kamu tenang saja, dia itu bodoh pasti akan memberikan apa yang ibu mau!" Bu Tria tersenyum miring dan melangkah keluar dari kamarnya, mencari pak Suko, yang ternyata sedang duduk di ruangan tengah dan membaca koran.
__ADS_1
"Aku akan pergi meninggalkan rumah ini!
Tapi berikan aku uang untuk di jalan dan cari kontrakkan, hitung hitung uang selama masa Iddah!" Bu Tria tanpa merasa bersalah dengan entengnya meminta uang pada pak Suko.
Pak Suko hanya diam membisu dan melirik saja pada Bu Tria.
"Kamu dengar gak sih mas?
Bukankah perempuan setelah diceraikan dia masih mendapatkan hak yang belanja selama masa iddahnya?
Jadi berikan uang itu, masa Iddah hanya tiga bulan. Jadi berikan uang belanjaku selama tiga bulan. Setelah itu aku akan pergi dan tidak lagi menginjak rumahmu ini!"
Bu Tria sangat kesal karena pak Suko tak meresponnya. Dan dengan nada tinggi Bu Tria kembali meminta haknya.
"Aku akan kasih uang itu!
Tapi kamu harus menandatangani surat perjanjian.
Kalau kamu tidak lagi menganggu keluargaku, dan tidak akan menginjakkan kakiku di sini.
Kalau perjanjian itu di langgar, maka penjara yang akan bicara! Bagaimana?"
"Apa sih, mas?
Kenapa pakai surat perjanjian segala! bikin ribet!" sungut Bu Tria tak suka sekaligus cemas, karena akan menyulitkan rencananya.
"Kalau gak mau yasudah, aku juga gak mau memaksa.
Kamu dan anakmu itu orang licik, kalian kalau tidak diberi peringatan dan pelajaran akan terus berbuat seenaknya.
Kalau kamu mau menandatangani surat perjanjian yang aku buat, aku akan memberimu dua puluh juta, anggap saja itu sebagai yang sumbangan dariku!" sahut pak Suko dingin dan tak lagi perduli dengan kemarahan Bu Tria.
"Apa aku ini pengemis, ha?" teriak Bu Tria tak terima, tapi pak Suko memilih abai dan tak bergeming sedikitpun.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️