
"Kamu gak usah hawatir, semua sudah mbak siapkan. Bentar mbak pesan taksinya dulu.
Ibu mau ikut?" sahut Yeni dengan matanya fokus menatap layar ponselnya, memesan taksi online.
"Ibu dirumah saja, malas melihat wajah Jarwo dan selingkuhannya. Kalian harus selesaikan urusan dengan mereka, kalau perlu buat mereka shock dan ketakutan, menyesali perbuatannya yang sudah mencurangi kita." balas Bu Imah dengan bersungut sungut, masih sangat kesal dengan Jarwo yang membohonginya.
"Ibu tidak usah hawatir, biar Jarwo Hadi urusanku. Akan ku buat dia menderita di sisa umurnya." balas Yeni penuh dengan amarah dan dendam di hatinya.
Tak berselang lama, taksi online yang dipesan Yeni sudah tiba.
Yeni dan Yudha berangkat ke sorum dan membeli mobil yang pas, sesuai dengan isi dompetnya Yeni, Avanza warna putih jadi pilihan Yeni.
Setelah menyelesaikan administrasi dan surat menyurat, Yeni dan Yudha pergi dengan langsung membawa mobilnya.
Yudha melajukan mobil menuju kontrakan Jarwo.
Dengan langkah angkuh Yeni menuju tempat Jarwo, dimana istri mudanya tengah duduk di kursi depan kontrakannya sedangkan Jarwo masih belum pulang.
Melihat kedatangan Yeni, mata Asih membeliak. Cemas kalau Yeni dan Yudha akan membuat ulah lagi, sedangkan dirinya dirumah sendirian dalam keadaan hamil.
"Mana Jarwo?" todong Yeni datar dengan tatapan penuh kebencian pada sosok perempuan yang tengah hamil dihadapannya.
"Mas Jarwo masih belum pulang, mungkin sebentar lagi!" sahut Asih dengan hati yang sudah tak karuan, pikirannya sudah dipenuhi dengan hal hal buruk tentang sikap Yeni dan Yudha.
"Telpon suamimu, dan minta dia segera pulang!" sahut Yeni ketus dengan nada penuh penekanan.
Tanpa perduli dengan wajah pucat Asih, D Ngan gemetar Asih merogoh ponsel di saku dasternya, mencoba menghubungi suaminya namun tak kunjung diangkat, karena Jarwo sedang dalam perjalanan, deru mesin motornya membuatnya tak mendengar kalau ponselnya berdering.
"Mungkin masih di jalan, telponnya tidak diangkat." Asih menatap Yeni dengan wajah pias, bukan takut dengan perempuan judes di hadapannya, tapi cemas jika terjadi sesuatu dengan kehamilannya karena ulah nekad Yeni dan Yudha seperti waktu lalu.
"Apa kamu tidak punya sopan santun dan tidak tau bagaimana menghargai tamu, hah?
Dari tadi mulutmu itu tidak juga mempersilahkan kita masuk atau sekedar duduk! Perempuan bodoh dan udik seperti ini yang lebih Jarwo pilih, rendahan sekali seleranya!" decih Yeni dengan nada sinis dan sorot mata menghina, terukir senyum miring dari bibirnya.
__ADS_1
"Silahkan masuk!" Asih memilih diam dan menutup telinganya dari hinaan Yeni, tak mau terjadi masalah sebelum suaminya kembali.
Dengan nada datar dan tanpa ekspresi Asih mempersilahkan Yeni dan Yudha masuk ke kontrakannya.
"Silahkan duduk! Akan saya buatkan minuman dulu." sambung Asih yang akan melangkah ke dapur untuk membuat teh hangat. Tapi suara Yeni menghentikan langkahnya.
"Tidak perlu, kami kesini bukan mau mengemis!
Dan kita juga gak tau apa yang akan kamu taruh di minuman itu nantinya, jangan jangan kamu memberi racun." sinis Yeni dengan nada ketus penuh penekanan. Membuat Asih hanya bisa istighfar mengurut dadanya pelan. Menghadapi Yeni memang butuh kesabaran yang. besar. Apa lagi posisinya salah, sudah jadi istri kedua dengan tanpa persetujuan Yeni. Asih memilih diam tanpa mau mendebat, meskipun dirinya sangat merasa cemas luar biasa.
"Apa setiap hari penampilan kamu seperti ini?
Pakai daster lusuh dengan rambut digelung, bahkan tanpa makeup begitu, seperti seorang pembantu yang tengah menunggu majikan. Memalukan!" tanya Yeni penuh dengan hinaan dan nada merendahkan, Asih memejamkan matanya, menahan rasa sakit hati dari hinaan Yeni. Sedangkan Yudha memilih diam saja tanpa mau ikut campur dengan urusan kakaknya untuk menjatuhkan mental wanita perusak rumah tangganya.
"Oh iya, kamu dikasih uang belanja betapa sama si Jarwo? kok sampai dandanan kamu seperti wanita yang tidak bisa merawat diri.
Paling cukup untuk yang dapur saja ya?
"Aku saja yang bertahun tahun jadi istrinya mas Jarwo, tidak pernah tuh berpenampilan buluk kayak kamu, setiap bulan selalu bisa nyalon, dengan yang belanja lima juta lebih, itu belum uang lemburan nya. Bisa beli perhiasan dan baju sesuka aku. Jadi istri itu harus pandai merawat diri, cantik dan wangi saja masih diselingkuhi apa lagi buluk dan tak terawat kayak kamu, bisa bisa di buang begitu saja.
Coba deh pikirin, kalau dia beneran cinta sama kamu, pasti donk dia akan berikan semua gajinya untuk kamu pegang, kayak aku dulu saat masih jadi istrinya. Jangan jangan kamu dinikahi karena Jarwo hanya ingin punya anak saja, kasihan ya!" Yeni terus membuat asih terluka dengan semua ucapannya, membuat Asih seperti wanita yang tidak dicintai sepenuhnya, dan itu berhasil, Asih mulai terpengaruh dengan apa yang Yeni katakan, karena semua ucapan Yeni memang benar adanya, Jarwo hanya memberinya uang ala kadarnya, hanya cukup untuk makan sehari hari.
Yeni tersenyum miring melihat ekspresi Asih yang mulai terpengaruh dengan apa yang dia ucapkan.
"Rasain! Selamat bertengkar setelah ini, indah sekali!" batin Yeni yang duduk dengan bersilang kaki begitu anggunnya. Dengan wajah mulus, kulit putih, rambut lurus yang diwarnai, Yeni terlihat begitu cantik dan lebih muda dari usianya. Membuat Asih cemburu dan iri dengan perlakuan Jarwo yang berbeda terhadap dirinya dalam soal uang nafkah.
Terdengar suara deru mesin montor berhenti di teras rumah.
Jarwo yang baru saja turun dari motornya dibuat terkejut dengan keberadaan Yeni dan Yudha yang sudah duduk di ruang tamunya bersama istri mudanya.
Jarwo sesaat terpana menatap Yeni yang masih sangat terlihat cantik dan terawat seperti dulu, saat masih menjadi istrinya. Asih yang menyadari sikap lain suaminya, mata yang menatap rasa kagum dan binar rindu merasa sangat cemburu dan sakit hati, hingga memilih pergi meninggalkan semau orang yang ada diruang tamu.
Jarwo yang masih terpana dengan kecantikan mantan istrinya tak menyadari kepergian Asih yang membawa luka cemburunya. Memilih terisak di dalam kamar dan mengunci rapat pintunya dari dalam. Tak perduli lagi dengan apa yang akan terjadi di dalam ruang tamu.
__ADS_1
"Aku sudah menunggumu dari tadi! Tidak usah terpesona seperti itu melihatku, aku muak dengan ekspresi mu itu!" sungut Yeni tak suka dengan tatapan sinisnya, membuat Jarwo sadar dari keterpaduannya dalam menatap Yeni tanpa kedip, namun masih belum menyadari kepergian Asih dengan cemburunya.
Jarwo memilih duduk di kursi kosong dan terdiam mengatur detak jantungnya yang masih sama seperti dulu, masih menyimpan rasa pada Yeni yang selalu cantik, meskipun hatinya selalu dibuat kecewa dengan sikapnya yang selalu tak mau tau dan egois.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️
__ADS_1