Pembalasan Istri Yang Terhina

Pembalasan Istri Yang Terhina
kembali pada yang mengirim


__ADS_3

"Yang sabar ya mbak Asih!


Bismillah semoga semua baik baik saja.


Jangan sungkan kalau butuh bantuan, datang saja kerumah, insyaallah istri dan saya akan berusaha membantu selagi kami mampu."


"Alhamdulillah, Terimakasih, pak! Bu!" sahut Asih terbata dan sangat merasa bersyukur karena mempunyai tetangga yang begitu baik baik, perduli dan saling membantu.


Akhirnya satu persatu tetangga pamitan pulang kerumah masing masing, hanya tinggal Asih dan Jarwo, yang saling diam. Masih belum mampu mencerna apa yang baru saja dialami, seperti mimpi namun itu nyata.


"Asih, tolong ambilkan mas, minum!" pinta Jarwo lirih, tubuhnya masih terasa kaku dan sakit semua.


Dan tenggorokannya terasa kering.


Dengan sigap, Asih langsung mengambilkan air putih satu gelas besar, Jarwo meneguknya rakus, seperti orang yang kehausan karena tidak minum seharian.


"Terimakasih!


Maafkan aku, Sih!


Karena aku, kamu juga harus mengalami semua ini.


Aku juga minta maaf kalau sikapku sudah banyak menyakitimu.


Aku tidak bermaksud pelit sama kamu, aku hanya tidak ingin, kejadian bersama Yeni terulang kembali..Aku percayakan gajiku padanya, tapi justru dia tidak mau perduli padaku." lirih Jarwo merasa bersalah karena semalam sempat adu mulut masalah itu.


Asih merasa Jarwo tidak tulus padanya, karena tidak bisa royal soal gajinya, cenderung pelit dan meminta Asih untuk terus berhemat.


Asih hanya diam saja, tidak ingin membalas ucapan Jarwo. Karena hatinya terlanjur kecewa, namun meskipun demikian, Asih masih begitu menyayangi Jarwo karena Jarwo pria pilihannya.


"Aku tidak akan lagi mengulangi dan membatasi keinginan kamu. Mulai besok, aturlah keuangan kita, aku akan kasihkan semua gajiku padamu.


Tapi aku harap, kamu bisa membaginya dengan baik. Demi masa depan kita dan anak anak kita kelak." Sambung Jarwo dengan mata berkaca kaca.


Namun Asih masih tetap memilih diam dan tak ingin menimpali ucapan Jarwo.

__ADS_1


"Kenapa kau diam saja, Sih?" tanya Jarwo dengan suara bergetar, sedih karena Asih tak kunjung merespon nya.


"Aku sedang tidak ingin membahasnya, mas!


Sudahlah!" sahut Asih dengan ekspresi datar.


Asih benar benar terluka dengan ucapan yang dilontarkan Yeni.


Secara tidak sengaja, Yeni sudah sangat menghinanya, dan itu semua karena sikap Jarwo.


"Baiklah, aku paham.


Aku minta maaf, semoga kamu mendengar penjelasanku tadi." balas Jarwo dengan suara yang tersendat.


"Aku yakin, ini adalah ulah Yeni. Dia ingin aku celaka dan kita bertengkar." sambung Jarwo dengan sorot mata kecewa dan juga marah.


"Siapa kalau bukan mantan istrimu, wanita yang selalu membuatmu terpesona. Meskipun dia sudah jahat, tapi kamu tetap mencintainya, kan?" sinis Asih dengan senyuman miris, karena Asih sempat mendengar saat Jarwo memuji kecantikan Yeni, dan itu membuat dadanya sesak, dan selalu terngiang di pikirannya.


Jarwo hanya bisa terdiam, menyesali sikapnya yang masih menyimpan rasa pada Yeni, yang bahkan tega membuatnya celaka. Sedangkan Asih begitu patuh dan menerimanya apa adanya, tanpa banyak menuntut, dan cenderung taat. Tapi Jarwo sudah menggoreskan luka di hati istri yang kini tengah mengandung anaknya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sedangkan dirumahnya Bu Imah sedang terjadi kekacauan, karena Yeni yang tiba tiba kejang dengan mata melotot.


Membuat Bu Imah dan Yudha panik.


Yeni terus meraung dan menjerit kesakitan.


"Yudh, ada apa dengan mbak mu?


Kenapa dia bisa seperti ini?


Sebaiknya kamu cari bantuan, Yeni terlihat kena guna guna." Bu Imah histeris dan meraung sedih melihat tubuh anaknya yang sudah berubah, kulitnya seperti melepuh dan mulutnya tak pernah berhenti menjerit kesakitan.


"Cari bantuan kemana Bu?

__ADS_1


Yudha tidak tau harus bagaimana?" sahut Yudha cemas dan tidak ingin mencari bantuan, karena merasa sudah cukup dan tak butuh bantuan orang lain.


"Kamu ya yudh!


Kakaknya kesakitan gini, masih saja kamu mengedepankan egomu itu. Gak suka ibu dengan sikap kamu ini!" sungut Bu Imah kesal.


Dan Yudha hanya menanggapi cuek, tak memperdulikan ocehan ibunya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

__ADS_1


Happy ending ❤️


__ADS_2