Pembalasan Istri Yang Terhina

Pembalasan Istri Yang Terhina
badut tua pemilik kontrakan


__ADS_3

"Bu lari!


Kita pergi saja dari sini, dari pada kita mati sia sia!" Yudha mengajak Bu Imah langsung pergi, sebelum mereka mengeroyoknya dan berakhir di rumah sakit.


Dengan tergesa gesa Bu Imah Yudha pergi begitu saja dan di ikuti oleh pak Andi yang sedari tadi menahan tawanya karena melihat tingkah Bu Imah dan Yudha ketakutan.


"Ah, sial,! benar benar sial!" Yudha mengepalkan tangannya erat,. Masih belum sadar dengan kesalahannya juga.


"Kita harus bisa membuat Halwa itu kembali sama kamu yudh!


Ibu GK ikhlas kalau dia nikah sama laki laki lain, kalau masih jelek dan miskin kayak dulu sih gak masalah, sekarang dia kan sudah kaya, cantik lagi!" ucap Bu Imah saat sudah memasuki mobil, dan mereka menahan kekesalan di hati karena sudah gagal membawa Hasna.


"Aku akan hubungi Wati, siapa tau dia punya ide dan bisa membantu kita untuk bawa Hasna." sahut Yudha sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya.


"Wati?


Siapa Wati?" tanya Bu Imah penasaran.


"Wati itu perempuan yang suka sama calon suaminya Halwa. Dia juga punya niat ingin menghancurkan hubungan Halwa dan Dafi." bekas Yudha sambil fokus mengetuk pesan di hapenya.


"Oh, gitu. Dia cantik gak?


Apa dia juga kaya?" Tanya Bu Imah semakin penasaran.


"Kenapa ibu nanya begitu?" Yudha mengerutkan wajahnya menatap heran pada wanita yang sudah melahirkan nya.


"Kalau Wati itu cantik dan kaya, mending kamu dekati dia saja. Dari pada susah susah membujuk Halwa tapi dia tetap gak mau." sahut Bu Imah santai, membuat Yudha menahan kesal dengan pemikiran ibunya itu.


"Masih cantik Halwa dan masih kaya Halwa.


Orang pas ketemu, dia saja naik ojek." sahut Yudha jujur apa adanya sambil menahan kesal.


"Oh kirain juga orang kaya!" balas Bu Imah merasa tak bersalah dan meminta anaknya untuk kembali pulang. "Kira pulang saja, pikirkan lagi dirumah, rencana sayang bagus untuk merebut Hasna dan membuat Halwa lemah dan mau menuruti keinginan kita." sambung Bu Imah sambil menyenderkan kepalanya.


Tanpa menjawab, Yudha langsung melajukan mobilnya ke arah pulang. Namun pikirannya terus tertuju pada Halwa yang makin terlihat muda dan cantik. "Kamu harus jadi milikku lagi, Wa! Harus!" batin Yudha sambil menyeringai jahat.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sedangkan Wati yang jenuh dan meras bosan tinggal di kontrakan yang sempit, berusaha menggoda yang punya kontrakkan.


Tanpa pikir panjang mereka menjalin hubungan dan Wati mendapatkan keuntungan, tinggal gratis dan selalu di kasih uang dalam jumlah yang lumayan. Hari ini saja, hanya menemani ngopi dan ngobrol Wati di kasih uang tuju ratus ribu. Lumayan pikir Wati, ternyata membodohi badut tua pemilik kontrakkan sangatlah gampang.

__ADS_1


Sedangkan Bu Tria yang baru saja pulang dari rumah temannya, terlihat heran melihat anaknya yang senyum senyum sendirian.


"Kenapa kamu senyum senyum begitu, Wat?" tanya Bu Tria penasaran, sambil meletakkan tasnya sembarangan, lalu merebahkan tubuhnya di kasur.


"Ibu dari mana kok lama sekali pulangnya?" Wati bukannya menjawab makah ganti bertanya pada ibunya.


"Dari rumah temannya ibu, bikin akun fake buat menyebar Vidio itu, dengan bantuan teman ibu, wajah ibu bisa di blur, yang jelas hanya wajah si tua Bangka itu, biar tau rasa.


Dan kamu tau, baru beberapa jam saja, Vidio itu sudah dilihat jutaan orang. Ibu pasti dapat uang banyak, ini saja tadi ibu di kasih uang sejuta sama teman ibu." sahut Bu Tria bangga dan puas karena bisa membalas sakit hatinya pada pak Suko yang pasti sebentar lagi akan kena malu.


"Kenapa kamu senyum senyum sendiri tadi oss ibu masuk? pertanyaan ibu belum kamu jawab!" Bu Tria mengulangi pertanyaannya lagi dan menatap Wati yang langsung tersenyum lebar.


"Ternyata badut tua pemilik kontrakan, mudah banget di rayu. Masak Wati mau nemenin minum kopi saja sudah dia kasih tuju ratus ribu.


Dan tadi juga bilang, kita boleh tinggal disini tanpa harus bayar.


Lumayan lah Bu, bisa beli bedak!" sahut Wati meringis menampilkan giginya yang tidak rata.


"Nah gitu, pinter dikit manfaatin keadaan. Badut itu kelihatan kalau tergila gila sama kamu.


Jadi ya manfaatin saja. Yang penting uangnya turun, Jan beres. Hidup ini butuh uang." Bu Tria bicara seolah mendukung kekakuan anaknya itu.


"Kalau bisa, kamu harus minta tempat tinggal yang lebih besar, biar kita nyaman. Gak usah terlalu fokus sama Dafi, yang jelas jelas ogah sama kamu.


Gak papa tua dan jelek, yang penting duitnya dulu.


Kamu tau sendirilah, kontrakan nya berjejer banyak, belum lagi ada beberapa rumah dan ruko juga yang di kontrakan, kalau kamu bisa menikahi laki laki itu, enak hidup kita. Tapi kamu harus bisa ambil alih kontrakan nya." Sambung Bu Tria semangat dan sangat berambisi untuk menjadikan anaknya umpan agar hidupnya tercukupi.


"Tapi Wati mana bisa tidur sama laki laki tua itu, Bu?


Sudah tua, gendut, hitam, bau lagi.


Masak ibu tega, nyuruh Wati menikah dengan orang yang seperti itu." sungut Wati tak terima, kalau hanya menggoda dan sekedar ngobrol Wati mau, tapi kalau harus menikah sepertinya Wati masih belum siap dan tidak kuat.


"Kamu ini, jadi anak kok bodoh banget.


Jaman sekarang itu serba mudah kalau ada uang.


Kamu tinggal rawat badut tua itu. Bawa ke salon, belikan krim pemutih. Dan suruh dia rajin mandi dan lake minyak wangi, gampang lah itu!" sahut Bu Tria berapi api dan Wati hanya bisa pasrah dengan ide ibunya.


"Dari pada kamu terus ngejar Dafi tapi tidak ada hasil, mendingan ya sama yang ada di depan mata dan jelas jelas punya rasa." sungut Bu Tria dengan entengnya.

__ADS_1


"Iya! Iya!


Wati akan coba dekati dan pepet bos kontrakkan ini. Tadi Wati juga sudah cari tau, berapa penghasilan tiap bulan dari kontrakkan ini.


Yang harga lima ratus ada sepuluh kamar, jadi lima juta, yang enam ratus lima puluh ada sebelas kamar, jadi tujuh juta seratus lima puluh.


Belum ada yang per rumah, satu tahun ada yang enam sampai sepuluh juta, ruko nya juga begitu.


Jadi gak masalah sih Wati nikah sama orang tua, asal hartanya untuk Wati, dan dia mau perawatan, biar gak dekil dan bau.! Sahut Wati menjabarkan apa yang tadi diketahuinya dari pemilik kontrakan yang memang sangat menginginkan Wati jadi istrinya.


"Bagus!


Tumben kamu bisa berpikir cerdas." sahut Bu Tria mengejek anaknya yang langsung mencebik kesal.


"Ya karena Wati mau balas rasa sakit ini, karena mas Dafi sudah menolakku mentah mentah mentah, kalau ada uang kan gampang!" balas Wati tenang dan membuat Bu Tria tersenyum kecut. "Terserah kamu saja kah, Wat! pokok jangan sia siakan kesempatan untuk mendapatkan harta melimpah dari kontrakan ini. Urusan dendam kamu itu, Nusa dipikirkan nanti dulu. Fokus saja mendekati si badut tua itu " Bu Tria terus mengompori anaknya untuk bisa mendekati dan menikah dengan pemilik kontrakkan. Agar hidupnya kembali mudah dan enak karena banyak uang lgi tanpa harus kerja keras.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️


__ADS_2