
"Enak ya jadi orang kaya, bisa beli apapun yang kita mau tanpa ada beban uang habis!" hahahaaa, Yudha tertawa besar saat perjalanan menuju ke arah pulang.
"Makanya ajak Halwa untuk rujuk. Kamu harus cerdas dan bisa berbuat licik untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan.
Halwa itu aset berharga, kalau kamu bisa rujuk dengannya, hidup kita semua akan terjamin dan tidak perlu bekerja keras." sahut Yeni mengompori sang adik.
Yudha kembali semangat untuk menjalankan aksinya, pikirannya sudah menyusun rencana sejak di dalam penjara, jika mengajak baik baik tidak berhasil, maka Yudha ingin gunakan Hasna untuk membuat Halwa tak berdaya, karena dari dulu Hasna itu kekuatan sekaligus kelemahan Halwa.
"Apa kamu sudah punya rencana, yudh?" Yeni menatap adiknya lekat, adik kakak tersebut memiliki karakter sifat yang mirip, sama sama ambisius dan licik.
"Sudah!
Setelah besok kita dari Lamongan, aku ingin menjalankan rencana ku, mbak Yeni dan ibu tolong bantu aku.
Karena aku juga sudah membantumu, mbak!" sahut Yudha serius sambil tetap fokus melihat ke arah jalanan.
"Oke! kamu gak usah khawatir, aku pasti bantu kamu. Karena aku juga berharap kamu kembali sama Halwa, hidup kita akan enak dan cukup, karena sekarang Halwa sudah sukses. Apalagi denger denger sudah beli rumah mewah di perumahan elit.
Nanti kita semua harus pindah kerumah itu, biar seperti orang orang kaya beneran." sahut Yeni dengan senyuman lebar, membayangkan akan hidup berkecukupan tanpa kudu bekerja keras. Mengandalkan harta Halwa seperti dulu.
"Tenang saja, pasti Yudha tidak akan lupa sama ibu dan mbak Yeni. Kita akan sama sama hidup enak dengan menikmati semua harta milik Halwa, kita akan menguasainya seperti dulu lagi." Hahahaaa, Yudha demam Yeni tertawa senang, pikirannya sudah melayang terbang tinggi, rencananya akan berjalan sesuai dengan yang mereka inginkan, tanpa mau tau jika Halwa tidaklah bodoh seperti dulu yang hanya memilih diam saat di perlakukan seenaknya, Halwa sekarang akan melawan dan menyerang jika merasa dirinya terganggu dan merasa tak nyaman.
"Akhirnya sampai juga!" gumam Yudha yang menghentikan mobilnya di depan halaman rumah ibunya.
Bu Imah yang mendengar ada mobil berhenti di depan rumahnya, langsung keluar untuk melihat siapa yang datang
Mulutnya ternganga, melihat kedua anaknya turun dari dalam mobil dan mengeluarkan begitu banyak belanjaan.
"Wah, ternyata kalian toh?
Itu belanjaan siapa, kok banyak banget?" tudung Bu Imah dengan ekspresi tak percayanya.
"Ya belanjaan kita lah Bu, tadi Yeni mampir dulu ke mall buat belanja ini, biar ibu senang!
Yeni juga beli makanan yang enak enak di restoran, nanti kita makan bareng!" sahut Yeni bangga dan menenteng beberapa kantong belanjaan untuk dibawanya masuk, lalu di susul Yudha yang juga tangannya penuh membawa kantong belanjaan.
Bu Imah sangat senang dan mengikuti langkah anak anaknya dengan senyuman sumringah.
Setelah sampai di dalam, Bu Imah langsung membongkar satu persatu isi kantong, dan mulutnya tak berhenti berdecak kagum.
"Wah kamu belanja banyak banget Yen, dan ini harganya mahal mahal semua, untuk sepuluh hari kedepan kita bakalan makan enak tetep nih.
Dan ini baju siapa saja?
Kok banyak sekali!" tuding Bu Imah dengan wajah yang masih tak percaya.
"Ibu tenang saja, uang Yeni masih banyak.
Tadi Yeni dapat uang dari mas Jarwo enam belas juta, Yeni menuntut yang nafkah selama masa Iddah. Ya itu uangnya buat belanja, habis enam jutaan.
__ADS_1
Itu baju juga ada yang buat ibu, cari saja pasti ibu suka. Yudha tadi yang pilih." sahut Yeni santai sambil membuka cemilan dan memakannya dengan lahap.
"Wah, terimakasih! kalau kita bisa sering sering begini pasti enak ya?" balas Bu Imah sambil membuka satu persatu isi paper bag, dan mencari baju yang buat dirinya.
"Yudh! Ambilkan tempat buat menaruh makanan ini, kita makan sama sama di sini saja, lebih enak." perintah Yeni pada adiknya. Dan Yudha langsung menuruti ucapannya. Melangkah ke dapur, mengambil beberapa piring juga sendok untuk menuang makanan yang tadi dibelinya.
Bu Imah dan kedua anaknya makan sangat lahap, seperti orang yang tidak pernah makan enak. Hingga tidak ada sisa sedikitpun.
"Sumpah enak banget ini, kamu belinya dimana?" Bu Imah dengan mulut penuh masih saja bertanya ini itu pada anaknya.
"Di restoran dekat mall, jelas enak lah Bu! harganya saja sangat mahal." sahut Yudha yang sangat kekenyangan dan menyenderkan tubuhnya di pinggir sofa.
"Nanti kalau Yudha rujuk sama Halwa, kita pasti tiap hari bisa makan kayak begini. Uang Halwa kan banyak banget. Apa lagi kalau Yudha yang pegang keuangan tokonya, kita bisa minta uang kapanpun untuk beli barang dan makanan yang kita mau." sahut Yeni tanpa merasa canggung sedikitpun dan langsung di iyakan oleh Bu Imah.
"Makanya yudh! kamu kudu pinter ambil hati Halwa, kalau masih sulit, ya gunakan cara yang lain yang bikin Halwa tak berkutik. Cilik Hasna dan kita jadikan dia umpan, agar Halwa tidak bisa berkutik lagi, karena takut anaknya kita apa apain. Iya gak?" hahahaaa, tawa Yeni dan Bu Imah menggema, Yudha hanya melihatnya saja dengan senyuman miring penuh pikiran licik di otaknya.
"Kita akan lakukan itu bersama sama besok.
Setelah Yudha antar mbak Yeni ke Lamongan.
Tugas ibu cari alamat perumahan Halwa. Biar nanti kita mudah untuk menjalankan rencana kita!" Yudha bicara tanpa ekspresi, seolah Hasna tidak ada artinya buat dirinya, padahal Hasna adalah darah dagingnya. Tapi sedikitpun tidak ada rasa wekas asih seorang ayah darinya untuk sang anak.
Yang ada hanya ambisinya untuk menaklukkan Halwa demi bisa menguasai harta milik Halwa.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Wati pulang dalam keadaan kacau, rambutnya sudah acak acakan, matanya memerah karena menahan malu dan amarah.
"Ada apa sama kamu, Wat?
Kenapa kamu berantakan seperti itu, wajahmu mengerikan!" mendengar ucapan ibunya, Wati semakin emosi dan kembali kesal.
"Ibuuuuuuu!!"
Wati berteriak kesal, tidak terima kalau ibunya juga ikut mengatainya.
"Heh, jaga mulutmu!
Anak perempuan kok teriak teriak gitu, kamu kenapa?" balas Bu Tria sambil menutup telinganya, kesal dengan sikap Wati yang tidak langsung menjawab pertanyaannya.
"Ini semua karena ulah Halwa, janda kurang ajar itu. Dia sudah mempermalukan aku di depan umum, Bu! pokoknya aku tidak terima.
Mas Dafi harus membatalkan pernikahan nya dengan perempuan gila itu." teriak Wati dengan bersungut sungut.
Suaranya yang kencang membuat pak Suko penasaran dan keluar dari kamar.
"Jangan pernah kamu membuat masalah dengan Dafi dan calon istrinya. Mereka akan menikah!
Kamu tidak berhak melarang atau menghentikannya!" bentak pak Suko tajam dengan matanya yang mendelik tak suka menatap ke arah Wati yang langsung melengos.
__ADS_1
"Kenapa sih pak?
Kenapa kamu lebih pilih membela janda itu Tinimbang sama anak sendiri?
Wati lebih pantas jadi istrinya Dafi, bukan janda gatel itu!" sungut Bu Tria tak suka.
"Apa?
Apa aku tidak salah dengar?
Wati bukan anakku, tapi anakmu!
Yang gatel bukan Halwa, tapi anakmu itu.
Jaga mulutmu, dari pada kamu malu sendiri.
Kalian kenapa juga masih disini?
Bukankah aku sudah menjatuhkan talak tiga ke kamu, jamu bukan istriku lagi.
Cepat kemasi barang barang kalian, dan pergilah!"
Teriak pak Suko sangat tegas dan penuh amarah.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️