
Halwa dan Dafi tersenyum dengan tingkah kedua tetangga yang terkenal centil tapi juga sangat baik dan perduli dengan orang lain.
Wati yang merasa sakit hati, menatap tak suka ke arah Halwa yang tertawa bahagia bersama Dafi dan kedua tetangganya yang menurut Wati sangat menyebalkan.
"Awas saja kamu, Mas!
Aku akan membuat hubungan kalian bermasalah. Aku tidak iklas kamu memilih perempuan itu, aku yang pantas menjadi istrimu, bukan dia!" Wati mengepalkan kedua tangannya erat, menatap benci pada Halwa dan Dafi.
"Kamu kenapa, Wat?" tiba tiba Bu Tria datang menghampiri anaknya dengan wajah mengerut.
"Aku tidak terima ini, Bu!
Mas Dafi itu milikku, dia harus menikah denganku, bukan dengan wanita itu. Aku akan menghancurkan kebahagiaan mereka!" sahut Wati penuh dengan kebencian, matanya masih menatap nyalang ke arah dimana Dafi dan Halwa tengah bercengkrama begitu bahagianya.
"Iya, ibu juga tidak suka dengan keputusan Dafi yang buru buru. Ibu lebih senang kalau kamu yang jadi istrinya Dafi, bukan wanita itu atau wanita wanita yang lain.
Dafi itu kaya dan mapan, hidupmu pasti akan terjamin kalau bisa menikahinya." Sahut Bu Imah dengan nada sumbang yang penuh ambisi dan kedengkian.
Ibu dan anak yang memiliki sifat hampir sama, dan juga mempunyai tujuan yang sama masuk dalam keluarga besarnya Dafi, harta! Ya harta dan ingin hidup enak adalah tujuan utamanya Bu Tria .aku dinikahi pamannya Dafi yang sudah tak muda lagi dan bahkan sering sakit, namun pak Suko memiliki sawah dan bengkel yang cukup besar.
"Ibu punya rencana untuk kamu bisa menghancurkan hubungan mereka!" Bu Tria membisikkan sesuatu di telinga anaknya, dan Wati langsung terkekeh senang mendengar ide dari ibunya.
"Wah, ibu ternyata pinter juga, Wati akan ikuti rencana ibu yang cerdik itu, makasih ya Bu, Wati beruntung punya ibu yang pintar seperti ibu." Wati memeluk ibunya bangga dengan tatapan tajam dan senyuman miring dibibirnya menatap ke arah Dafi yang tak sengaja menoleh ke arahnya.
"Apa yang mereka rencanakan?
Aku harus lebih berhati hati dengan mereka, karena mereka dua perempuan yang licik, yang bisa melakukan segala cara demi ambisinya." batin Dafi menatap tajam ke arah Wati yang langsung membuang pandangannya ke sembarang arah untuk menghindari tatapan Dafi yang tersirat ketidak sukaan nya.
Setelah puas berbincang dan bercengkrama, Dafi dan semua keluarganya berpamitan pulang, tanggal pernikahan sudah ditentukan sebulan lagi, dan persiapan diserahkan pada orang tua Dafi dan juga keluarga Bella sebagai pengganti orang tua dari Halwa.
Satu persatu semua pergi meninggalkan rumah Halwa, dan hanya tersisa Bella, Rika dan Monika.
Orang tua Bella juga sudah pulang, karena sudah malam.
__ADS_1
"Mbak Halwa, harus hati hati sama perempuan tadi! Sepertinya dia juga sedang mengincar mas Dafi, dari tingkah dan gelagatnya yang ganjil sudah jelas apa tujuannya." Rika mengawali obrolan dengan membicarakan sikap Wati yang dinilainya tak wajar.
"Iya, aku juga sependapat dengan mbak Rika.
Sepertinya wanita itu punya perasaan dan ambisi ke mas Dafi. Orangnya nekad dan tidak tau malu, orang kayak gitu itu lebih bahaya dari pelakor." sahut mbak Monika menimpali ucapan mbak Rika.
"Apa yang kalian maksud, perempuan yang pakai baju merah tadi, yang rambutnya sebahu dan diwarnai coklat?" tanya Bella menatap serius ke arah Monika dan Rika yang langsung mengangguk.
"Yupz, bener banget, mbak!
Perempuan aneh dan kurasa otaknya juga konslet itu." balas Rika dengan nada tak sukanya.
Sedangkan Halwa hanya diam menyimak obrolan teman temannya.
"Iya, aku rasa dia memang punya niat jelek. Tadi aku gak sengaja mendengar pembicaraan mereka, perempuan itu sama ibunya kalau gak salah, karena dia memanggil dengan sebutan Bu, sama perempuan yang tadi ngobrol dengannya." sahut Bella menceritakan apa yang tadi dia lihat dan dengarkan, saat tak sengaja lewat dan mengambil minuman yang tak jauh dari Wati dan ibunya saat sedang ngobrol.
"Emang, apa yang mbak Bella dengar dari mereka?" Monika memasang wajah penasaran nya menunggu jawaban dari Bella, pun dengan Halwa dan Rika yang langsung fokus menatap ke arah Bella yang juga memasang wajah seriusnya.
"Intinya, perempuan itu dan ibunya, tidak suka mas Dafi menikahi Halwa, karena dia menginginkan jadi istri mas Dafi, apapun caranya. Mereka seperti merencanakan sesuatu untuk menghancurkan hubunganmu dengan Dafi, Wa! Kamu harus hati hati dan jangan mudah terpancing emosi apalagi isu. Bicarakan dulu baik baik sama Dafi saat kalian sedang salah paham, oke?
Itu sih saranku, dan aku hanya bisa mengingatkan, tapi juga tidak akan tinggal diam, mereka sepertinya juga harus diberi pelajaran kalau sudah bersikap melebihi batas nantinya." ucap Bella panjang lebar mengutarakan apa yang ada di pikirannya.
"Iya, kita setuju dengan yang mbak Bella katakan, mbak Halwa harus hati hati dan lebih baik jaga jarak dengan wanita itu. Amit amit deh dengan perempuan seperti itu, gayanya itu loh, nyebelin!" sungut Rika tak suka dan membuat semua jadi tertawa melihat tingkah Rika yang berlebihan dalam mengekspresikan rasa tak sukanya pada Wati.
"Insyaallah, terimakasih banyak!
Kalian sudah mau perduli dan mengingatkan aku.
Mas Dafi juga sudah mengingatkan aku untuk tidak menanggapi Wati dan lebih baik jauhi. Tapi gak tau kenapa, aku merasa dia akan jadi sumber masalah dalam hubunganku dengan Mas Dafi nantinya. Semoga saja itu hanya firasat ku saja." sahut Halwa pasrah dan tetap ingin berpikir positif agar hatinya tetap baik baik saja.
"Waspada itu harus, meskipun segalanya harus kita pasrahkan pada yang di atas. Kalau jodoh pasti tidak akan kemana, namun ya namanya ujian hidup itu pastilah ada. Intinya sabar, iklas dan terus memohon yang terbaik. Semoga kamu dan Dafi bisa bersama hingga kalian tua nanti. Kalian pasangan yang serasi, sama sama baik dan cantik juga tampan." balas Monika bijak dengan senyuman yang begitu tulus.
"Mbak Halwa tenang saja, ada kami yang siap membantu kalau kalau wewe gombel itu berulah, gak usah sungkan untuk menghubungi kamu ya, kalau dia bikin ulah dan keributan." Rika ikut angkat bicara dengan gayanya yang menggebu gebu, jiwa bar barnya meronta ronta ingin dilampiaskan.
__ADS_1
Halwa tertawa mendengar celotehan Rika yang memang energik dan sangat semangat.
"Makasih mbak Rika, mbak Monika dan kamu Bel. Terimakasih sudah ada disaat seperti ini. Saat aku benar benar butuh teman untuk berbagi suka dan duka ku." sahut Halwa terharu menatap satu persatu wanita wanita cantik nan tangguh yang ada dihadapannya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Inilah arti dari sebuah persahabatan, Wa!
Kita akan selalu bersama dalam setiap kondisi dan tidak akan pernah meninggalkan apapun keadaannya, semoga!" sahut Bella dengan senyuman tulusnya dan langsung di iyakan oleh Rika dan Monika. Mereka pun berpelukan penuh haru dalam ikatan persahabatan yang baru.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️