
"Aku akan membalas penghinaan dari kalian. Akan aku pastikan kalian menderita dan menyesal sudah menghinaku!" kepala Wati penuh kebencian.
Tangannya mengepal erat, dengan di hatinya harus dibalas kan, itu yang ada di otaknya saat ini.
Tak ingin memejamkan mata, Wati mengambil perhiasan yang tadi disembunyikan di pakaian dalamnya, diambilnya satu persatu dan dikumpulkan ke dalam kotak.
Wati menatapnya dengan senyuman miring, perhiasan yang ada di depannya akan terjual dan dua mendapatkan uang yang banyak.
Namun sesaat matanya menyipit, pikirannya tiba tiba teringat pak Suko, yang sama sekali tidak curiga bahkan menggeledah barang bawaannya.
"Kenapa laki laki tua itu tidak curiga sama sekali, bahkan dia membiarkan kamu pergi begitu saja?
Tapi yasudah, yang penting perhiasan ini aman dan akan jadi uang yang banyak setelah terjual." Batin Wati menyeringai dan menyimpan perhiasan tersebut ke dalam tasnya, lalu di bawanya ke kasur, di taruh di bawah bantalnya.
Waktu menunjukkan pukul dua dini hari, Wati baru bisa memejamkan matanya, dan terkena bersama mimpi dalam tidurnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Wat! Wati! Ayo bangun, sudah jam sepuluh ini. Kita harus pergi menjual perhiasan itu, lalu cari kontrakan, gak mungkin kita nginap terus di hotel, bisa tekor nanti!" sungut Bu Tria sambil mengguncang tubuh anaknya yang masih bergulung di dalam selimutnya.
"Sebentar, Bu! Masih pagi ini. Toko perhiasannya juga belum buka, nanti saja sekalian kita perginya. Masih nanggung!" sahut Wati yang masih memejamkan matanya, tak mau bangun karena masih sangat ngantuk.
"Yoweslah wat, terserah kamu saja. Ibu lapar mau keluar, ambil jatah makan." balas Bu Tria kesal dengan sifat malas anaknya. Tak mau ambil pusing, Bu Tria memilih pergi untuk mengambil jatah makannya, menikmatinya sendirian hingga perutnya merasa kenyang, lalu kembali ke kamarnya lagi, dan Wati masih tertidur, membuat Bu Tria meradang dan memilih membereskan bajunya ke dalam koper.
Pukul setengah dua belas Wati bangun dan membersihkan diri ke dalam kamar mandi. Sedangkan Bu Tria terlihat tertidur kembali.
Wati sengaja membiarkan ibunya tidur dulu, sambil berganti pakaian dan menunggu jam habis.
"Bu! Bangun, ayo kita pergi, sudah jam dua belas ini, waktunya sudah habis." Wati membangunkan ibunya pelan, dan Bu Tria langsung membuka matanya.
"Kita pergi sekarang?" tanya Bu Tria sambil mengucek matanya yang masih terasa berat.
"Iya, kita pergi sekarang. Wati sudah pesan taksi, sebentar lagi pasti datang. Ayo kita turun sekarang." Wati mengambil tas yang berisi semua perhiasan, dan menggeret kopernya pergi meninggalkan kamar hotel yang diikuti Bu Tria dibelakangnya yang juga tengah menggeret kopernya.
"Kita jual dimana ini Bu?" tanya Wati hati hati, takut terdengar sopir taksi dan perhiasannya bisa saja dirampok.
"Ke toko gajah saja, kan belinya disana. Sudah ada di dalam suratnya." sahut Bu Tria yang juga sangat hati hati dalam berbicara.
"Kita harus irit Bu, kita cuma punya satu cincin ini saja, semoga bisa cukup untuk kira bertahan dalam beberapa hari." sahut Wati, e Ndan mengedipkan matanya ke arah sang ibu yang mengangguk paham dengan maksudnya.
__ADS_1
"Pak, tolong antar kami ke toko gajah ya, di jalan Delima!" Wati bicara dengan sopir taksi yang langsung mengangguk dan melajukan mobilnya ke arah tujuan.
Wati membayar taksi dan turun dengan ibunya di terik panasnya matahari sambil menggeret kopernya, banyak mata yang memperhatikan mereka, namun Wati maupun ibunya berusaha bersikap cuek cuek saja, dan terus melangkah menuju toko gajah, sesuai yang tertera di surat perhiasan yang di curi Bu Tria dari kamarnya pak Suko.
"Mbak, Saya mau jual perhiasan saya." Bu Tria menyodorkan beberapa perhiasan sesuai dengan suratnya, dua cincin dan satu gelang.
Pegawai toko langsung menerima dan mengeceknya.
"Maaf Bu, ini perhiasannya imitasi, bukan dari toko ini.
Suratnya saja sudah beda, mungkin yang di maksud toko gajah yang ada di depan sana, yang menjual perhiasan Cuping." pegawai toko menyerahkan kembali perhiasan serta suratnya ke Bu Tria yang langsung shock, kalau ternyata perhiasan yang diambilnya palsu.
"Ibu gimana sih, kok bisa salah gini?
Palsu lagi, kan malu Bu!" sungut Wati kesal dan terlihat mukanya sudah memerah karena malu.
"Apa perhiasan ini palsu semua? Duh bagaimana ini?" Bu Tria langsung panik dan cemas, kalau ternyata palsu semua, maka tamatlah riwayatnya, pasti hidupnya akan Lantung lantung karena gak punya tempat tinggal.
"Yasudah yuk kita ke toko gajah yang sebelah sana saja, lumayan meskipun harganya gak seberapa setidaknya bisa buat ongkos taksi." akhirnya Bu Tria dan Wati mendatangi toko perhiasan Cuping, dan menjual semua perhiasan yang ada, hanya mendapatkan uang lima ratus ribu, dari sekian banyak perhiasan yang ada.
Ada satu cincin yang memang asli mas, tapi di toko berbeda, dan Wati menjualnya, laku enam ratus ribu.
"Sekarang tinggal dua cincin berlian ini, Bu!
"Itu taksinya, ayo Bu!" Wati mengajak ibunya naik mobil yang baru saja dipesannya.
Mereka menuju toko perhiasan yang ada di salah satu mall terbesar di kota.
Dengan sumringah Bu Tria menyerahkan dua cincin beserta surat suratnya kepada pegawai yang ada di toko.
"Ini hanya satu juta harga satu cincinnya, karena ada potongan tiga puluh persen." wanita cantik yang melayani Bu Tria berucap dengan sangat ramah, membuat Wati dan ibunya saling tatap dengan membulatkan matanya shock.
"Satu juta mbak?
Apa mbak gak salah lihat?
Ini berlian loh, mbak. Jangan coba coba nipu kami ya!" sungut Bu Tria tidak terima, membuat pegawai toko tersenyum dengan tingkah Bu Tria dan Wati.
"Apa ini cincin punya ibu sendiri?
__ADS_1
Atau ibu ...?" sahut pegawai toko curiga dengan tatapan menyelidiki.
"Ya punyaku sendirilah, wong perhiasan sama suratnya ada sama saya. Gimana to kamu itu, nuduh orang sembarangan." sungut Bu Tria tak suka dengan wajah kesalnya.
"Kalau ini yang beli ibu sendiri, kenapa ibu gak tau kalau ini hanya berlian palsu, yang harganya murah? Kan sudah tertulis di dalam suratnya, harga yang harus dibayar sewaktu membelinya." sahut pegawai toko tak mau kalah.
Bu Tria gelagapan, karena memang salahnya yang tidak melihat harga yang tertulis di kertas tersebut.
"Yasudah, berikan uangnya! Jadi dua cincin, dua juta ya?" sahut Bu Tria sinis sambil menahan kesal karena merasa di jebak oleh Suko.
"Siaaal!
Benar benar sial, laki laki brengsek itu sudah mempermainkan ku, awas saja kamu, Suko!" teriak Bu Tria marah, sedangkan Wati sudah merasa lesu dan bingung dengan nasibnya kedepan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️