
" Bagus! Kalian memang anak ibu. Cepat berkemas, sebelum ada yang curiga. Lakukan senatural mungkin." Perintah Bu Imah menyeringai. " Kamu tidak lebih pintar dariku Jarwo." Senyum tipis tersungging di wajah keriputnya Bu Imah.
Yudha juga Yeni, langsung berkemas, membereskan baju dan barang yang sekiranya penting untuk di bawa. Setelah dirasa cukup, dua koper dan satu tas jinjing di masukkan kedalam garasi mobil.
"Bu, kami pamit. Restui perjalanan kami ini Bu. Ibu hati hati dirumah." Pesan Yudha pada ibunya, meskipun usianya sudah tua, tapi Bu Imah begitu pemberani, cerdik dan kuat.
" Iya, kalian juga jaga diri, hati hati dijalan. Jangan dulu kabari ibu. Biar nanti ibu yang lebih dulu menelpon kalian setelah membeli nomor baru. Jaga kakakmu Yudha." Balas Bu Imah sedih, karena harus berpisah dengan kedua anaknya. Dan harus rela hidup sendiri demi menyelamatkan anak anaknya dari jeruji besi. Pergilah, sebelum polisi menjemput kalian."
Baru satu langkah mereka mengayunkan kaki, suara bel berbunyi. Dan itu membuat Yudha maupun Yeni langsung memucat.
" Siapa yang bertamu, jangan jangan ada polisi yang menjemput kita? Bagaimana ini?". Rengek Yeni cemas sambil bersembunyi di belakang ibunya.
" Sudah kalian tenang saja, biar ibu yang lihat ke depan." Sahut Bu Imah yang tak kalah tegang.
Sebelum membuka pintu, Bu Imah terlebih dahulu mengintip dari tirai jendela. " Ternyata bukan polisi." Gumam Bu Imah lega.
" Dewi, kamu bikin ibu cemas tadinya. Ayo cepat masuk." Sambut Bu Imah dengan wajah yang masih terlihat tegang.
" Memangnya ada Bu? Dimana mas Yudha?" Sahut Dewi tidak mengerti maksud ucapan calon mertuanya.
Melihat kedatangan Dewi, wajah tegang berlahan hilang di wajah Yudha maupun Yeni, dan berganti senyum lebar dari bibir Yudha.
" Untung, bukan polisi. Huuuf aman deh." Sambung Yudha merasa lega.
" Sudah, sudah. Lebih baik kalian pergi sekarang, sebelum benar benar para polisi itu datang kemari." kata Bu Imah menimpali.
" Tapi Bu, bagaimana dengan Dewi?" Balas Yudha tak rela meninggalkan kekasihnya.
__ADS_1
" Dewi urusan ibu, biar ibu jelasin sama dia. Nanti dia biar nyusul kesana. Sekarang yang penting kalian harus aman dulu." Bu Imah menjawab tegas dan meminta anaknya untuk segera pergi dari rumah.
"Ini ada apa sih? Kenapa pada takut, dan kenapa dengan polisi?" Sahut Dewi tak mengerti, bingung dengan apa yang di obrolin keluarga pacarnya.
" Sudah, jangan banyak tanya dulu. Biar Yudha dan Yeni berangkat dulu. Nanti ibu akan jelasin ke kamu." Jawab Bu Imah dengan raut wajah cemas yang masih sangat kentara.
Yudha dan Yeni langsung menuruti perintah ibunya, meskipun dengan hati berat Yudha melajukan mobilnya menjauh dari rumah dimana dia dibesarkan selama ini. Sedangkan Dewi masih bingung menatap tak percaya.
" Bu, ada apa sebenarnya? Kenapa mas Yudha pergi terburu buru begitu." Dewi menautkan kedua alisnya menatap penuh selidik pada Bu Imah.
"Ayo kita bicara di dalam saja." balas Bu Imah dan menggandeng Dewi menuju ruang tamu dirumahnya.
Dewi mengikuti langkah wanita calon mertuanya, dan ikut duduk di kursi ruang tamu.
" Kemarin Yudha sudah menghajar suaminya Yeni sampai babak belur, mereka tidak terima dan melaporkan anak anakku ke kantor polisi. Mau berkelit itu tidak mungkin, karena Jarwo sudah terluka parah akibat dihajar Yudha. Jadi jalan satu satunya mereka harus kabur, pergi yang jauh dari sini." Jelas Bu Imah panjang lebar dengan mata menatap nanar ke arah luar.
" Terus, mereka mau kemana itu Bu, bagaimana aku bertemu mas Yudha, duh kenapa harus ribet gini sih, padahal kami hampir mau menikah loh." Sungut Dewi kesal.
"Kenapa mbak Yeni tidak melaporkan balik mantan suaminya itu, dengan tuduhan perselingkuhan? kan sudah jelas itu buktinya, kalau suaminya menikah lagi tanpa sepengetahuan mbak Yeni, itu bisa dipidanakan loh sekarang." balas Dewi yakin dan menatap Bu Imah dengan tatapan menyelidik.
"Benar itu, Wi?
Ibu kok gak tau, bahkan gak paham. Kali begitu biar nanti ibu bicara lagi sama Yeni dan juga Yudha." sahut Bu Imah berbinar dan mulai ada harapan untuk bisa membalas sikap Jarwo.
"Iya, sejarang perselingkuhan bisa dipidanakan kok, gertak aja Jarwo kembali. Pasti dia akan .ikut untuk meneruskan tuntutannya, kalau bisa peras uangnya sekalian biar tau rasa." balas Dewi semangat dan menatap Bu Imah yakin.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1
Ting Tong Ting Tong, kembali suara bel berbunyi.
" Jangan jangan " gumam Bu Imah lirih. Dan seketika suasana berubah tegang. Melihat calon mertuanya gelisah, Dewi semakin tidak nyaman. Belum menikah saja, sudah banyak sekali masalah yang di hadapi. Dewi beranjak pergi, berniat tidak lagi meneruskan hubungannya dengan yudha, di pikirannya sudah tak bisa lagi jika harus ikut masalah di keluarga Yudha yang tidak ada habisnya. Cinta ya memang cinta tapi untuk ikut sengsara sih jangan. Bisik Dewi dalam hatinya.
Melihat Dewi melangkah pergi, membuat Bu Imah meradang.
"Mau kemana kamu, Wi? kok ninggalin ibu begitu saja." cegah Bu Imah sedikit cemas dan merasa kesal.
"Dewi mau pulang, Bu! lagian disini juga gak ada mas Yudha. Dewi permisi dulu ya. Asalamualaikum." Dewi melangkah keluar dan berniat untuk pergi meninggalkan cinta dan harapannya dirumah ini, rumah yang menurutnya banyak masalah. Sebelum terlambat dan membuat hidupnya sengsara, Dewi memilih mengakhiri kisahnya dengan Yudha.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️