
"Tadi aku juga sudah memvideokan selama Bu Imah ada disini, jika dia menuntut macam macam dan mengelak, Vidio ini bisa jadi bukti kalau Bu Imah menandatangani surat itu tanpa paksakan dari manapun. Ini bisa jadi senjata buat mas Jarwo nantinya." salah satu tetangga yang ikut hadir ikut angkat bicara dan menyerahkan Vidio yang sempat direkamnya.
"Terimakasih banyak pak Wahyu. Padahal saya gak kepikiran kesini, ini sangat berarti sekali. Karena Bu Imah orang yang kasar dan tak mau kalah. Salah benar harus menang!
Semoga dengan bukti Vidio ini, ketika Bu Imah tak terima dan mengelak,Vidio dari pak Wahyu bisa dijadikan bukti.
Tolong jangan dihapus dari ponsel bapak ya!
Buat jaga jaga kalau mereka akan bersikap diluar batas kembali." Jarwo tersenyum dan mengucap syukur dihatinya, karena ada tetangga yang memberikan Vidio untuk nanti dijadikan bukti jika Bu Imah dan anak anaknya kembali berulah.
Satu persatu semua pergi meninggalkan kontrakan Jarwo, hanya tinggal Jarwo, istrinya dan juga orang tuanya.
"Kamu harus hati hati, Le!
mereka itu licik dan nekad, jangan sembrono!
Menghadapi mereka tidak cukup dengan diri sendiri, tapi juga harus ada yang menemani kamu.
Kalau kamu mau ke kantor polisi untuk mencabut laporan, ajak lah teman laki laki untuk menemani kamu. Takutnya Yudha akan nekad balas dendam sama kamu." Ibunya Jarwo menatap anaknya cemas, takut kalau Yudha akan bersikap brutal lagi dan kembali melukai Jarwo.
"Ibu tenang saja, itu tidak akan terjadi, Yudha akan berpikir seratus kali, karena dia pasti tidak mau masuk penjara lagi, karena ulah kebodohan nya itu.
Dalam isi perjanjian yang ada, justru sangat memberatkan bagi mereka. Sayangnya Bu Imah tidak lahan itu, mungkin sudah terlalu bahagia karena uang lima belas juta dariku, padahal mereka harus mengembalikan sebesar dua puluh lima juta, untuk membayar kerugian. Orang jahat pantas dibalas jahat, orang licik harus dikalahkan dengan kecerdasan, agar mereka tidak lagi bersikap semena mena!" balas Jarwo panjang lebar dengan senyuman tipis di bibirnya, dengan tatapan lurus kedepan. Tiba tiba bayangan masa lalu selama menjadi menantu Bu Imah muncul, hidup tertekan dan selalu dihina karena tidak memberi uang banyak kepada Yeni.
"Iya sudah kalau begitu, ibu mengerti dan ibu meminta kamu tetap hati hati, dan jaga jarak dengan mereka, ibu gak mau kejadian kemarin terulang lagi."
"Insyaallah semua akan baik baik saja, Bu. Tenanglah dan doakan Jarwo, semoga urusan dengan mereka segera selesai, karena rasanya kekah menghadapi sikap mereka yang kadang tidak masuk akal itu." sahut Jarwo lemah, hati dan juga fisiknya sudah teramat lelah untuk berurusan dengan keluarga mantan mertuanya itu.
"Yasudah, ibu sama bapak pulang dulu. Kalau ada apa apa kabari kami. Jaga diri dan tetap berhati hati."
"Iya, Bu!
Jarwo akan selalu ingat nasehat ibu.
Ibu sama bapak hati hati di jalan, jangan ngebut." Jarwo menyalimi ibu an juga bapaknya, tak lupa Jarwo memberikan oleh oleh yang sudah disiapkan istrinya untuk dibawa pulang orang tuanya.
Istri Jarwo yang sekarang memiliki sifat yang berbeda jauh dengan Yeni.
Yang sekarang, istrinya begitu hormat dan sayang dengan keluarga Jarwo, tidak pelit dan tidak pernah menuntut. Selalu patuh dan lembut pada Jarwo dan keluarganya.
__ADS_1
Sedangkan Yeni, terlalu banyak menuntut dan merasa kurang. Selalu tidak pernah mau berkunjung ke rumah keluarganya Jarwo. Tidak mau bersikap baik dengan mertuanya. Selalu judes dan bahkan selalu bersikap kasar terhadap orang tuanya Jarwo. Yeni selalu meminta semua gajinya Jarwo tanpa mau perduli d Ngan mau dan kebutuhannya Jarwo sama sekali.
Setelah orangtuanya meninggalkan kontrakannya. Jarwo akan bertolak ke kantor polisi dengan dua orang temannya yang sudah menunggu diluar.
"Dek, aku ke kantor polisi dulu ya. Mau cabut laporan, dan meminta Yudha untuk segera membayar uang ganti ruginya. Biar mereka Laham, kalau kelicikannya bisa dikalahkan dengan kecerdasan dan kesabaran." Jarwo pamitan pada istrinya, lalu menaiki motor bersama kedua temannya menuju kantor polisi.
Setelah sampai di kantor polisi, ternyata Bu Imah sudah ada disana. Sengaja menunggu kedatangan Jarwo untuk mencabut laporannya.
"Lama sekali! Sebenarnya niat gak sih dengan perjanjian itu?" Bu Imah menatap tak suka pada Jarwo yang baru saja sampai.
Jarwo hanya diam menanggapi, karena tidak ingin membuat onar, malu dilihat oleh orang banyak.
"Maaf, Bu!" hanya kalimat singkat yang Jarwo lontarkan untuk menjawab Omelan Bu Imah yang sudah emosi.
"Setelah mencabut laporannya, Jarwo sengaja menunggu Yudha keluar. Untuk mengingatkan isi perjanjian di kertas yang belum Bu Imah baca, sangking senangnya mendapat uang lima belas juta, hingga membuatnya lupa, kalau masih ada satu kertas yang belum dibacanya namun langsung ditandatangani.
"Bu!"
Yudha memeluk ibunya haru. Mencium punggung tangan sang ibu dengan rasa lega dan bahagia, karena sudah bisa bebas dari penjara yang membuatnya sesak.
"Syukurlah, akhirnya kamu keluar juga dari penjara ini, kita tunggu Yeni sebentar, paling sebentar lagi juga dia akan dibebaskan!" Bu Imah membalas pelukan anak lelakinya bahagia, dan mengajak Yudha untuk menunggu dibebaskannya Yeni.
Yudha menatap benci kepada Jarwo yang masih betah duduk di salah satu kursi yang ada di luar kantor polisi.
"Puas kamu sudah membuat kami dipenjara, hah?" sungut Yudha emosi dan mencengkram kerah bajunya Jarwo dengan sangat kasar.
"Silahkan luapkan emosi kamu, yudh!
Tapi kamu juga harus siap masuk ke dalam penjara lagi. Dan aku sarankan kamu membaca surat perjanjian yang ditandatangani ibumu, biar kamu paham dan tau isinya.
Karena tadi ibumu hanya membaca satu lembar saja, padahal masih ada satu lembar yang belum ia baca. Takutnya kalian akan shock saat membacanya."
Yudha meminta surat perjanjian yang baru saja di tandatangani ibunya dengan Jarwo.
Lantas dengan santai Yudha membaca satu persatu isi di dalam perjanjian tersebut.
"Bu! Kenapa ibu tandatangani surat perjanjian ini?
Ini hanya memberatkan kita." Yudha menatap kesal pada ibunya. Dan tangannya terlihat mengepal menatap Jarwo nyalang.
__ADS_1
Namun justru Jarwo bersikap sangat tenang, selain masih di kantor polisi, isi surat perjanjian juga membuat Yudha di posisi yang sulit.
"Maksud kamu apa to, Yudh?
Wong kita untung dari uang ganti rugi yang diberikan Jarwo. Lima belas juta loh, Yudh!
Lima belas juta! bayangkan! Uang segitu bisa buat modal Yeni nantinya." sahut Bu Imah berapi api, belum menyadari jika isi perjanjian tersebut begitu membebani dirinya dan anak anaknya.
Yudha memejamkan matanya untuk meredam emosi di hatinya. Tak bisa menyalahkan ibunya yang memang tak begitu paham. Jarwo lebih cerdik dan rapi dalam membalas tuntutan dari Bu Imah.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️
__ADS_1