
"Baik Bu!
Kalau begitu saya ke toko dulu, sambil minta yang lain untuk waspada." Reni langsung keluar dan bicara dengan karyawan yang lainnya untuk waspada dan mengawasi sikap Bu Imah, jangan sampai bikin ribut dan akhirnya membuat kacau seluruh isi toko menjadi berantakan.
Halwa terdiam, memejamkan matanya.
Bosan dengan drama yang dibuat oleh ibu mantan mertuanya yang tidak pernah berubah.
Selalu mengusiknya dengan sikap gilanya.
"Semoga tidak bikin ulah lagi, aku sudah lelah berurusan dengan mereka!" gumam Halwa lirih dan beranjak dari tempat duduknya, sebelum meninggalkan ruangan, terlebih dahulu Halwa menutup laptop nya.
Melihat Reni sudah keluar dari ruangan Halwa. Bu Imah langsung mendatangi Reni dengan wajah judesnya.
"Gimana? sudah bilang sama bos kamu, kalau aku ingin bicara?" Bu Imah menodong pertanyaan pada Reni yang langsung mengerjap.
"Sudah Bu! Kata Bu Halwa disuruh tunggu sebentar!" sahut Reni sedikit bernada tak suka dan membuat Bu Imah mencebik kesal dengan tingkah Reni yang seperti tak menghargai dirinya.
"Tolong ambilkan beras yang lima kiloan tiga, mie instan yang goreng dan kuah, masing masing sepuluh. Telurnya tiga kilo, gula putih tiga kilo, sabun cuci lima, minyak goreng tiga liter, sabun mandi lima, dan jadiin satu cemilan yang sudah aku taruh di ranjang, buatkan totalan semua belanjaan tadi." Perintah Bu Imah dengan sangat lancar, membuat beberapa karyawan saling tatap bingung, karena dari yang sudah sudah Bu Imah tak ke nah bisa membayar belanjaan nya dan bikin ribut karena kesal.
"Hey, kenapa kalian bengong. Kalian itu di gaji buat kerja, bukan bengong kayak orang bodoh saja. Layani pembeli dengan baik!" Bu Imah mulai tersulut emosi, kedua tangannya ditaruh di pinggang dengan mata melotot, menatap satu persatu karyawan yang masih bergeming ditempatnya.
"Kalian tidak usah khawatir, aku punya uang buat bayar belanjaan ku. Lihat ini!" Bu Imah mengeluarkan uang lembaran merah dan biru dari dalam dompetnya. Dan Rudi juga Reni langsung menyiapkan apa yang di pesan Bu Imah dengan cekatan, sedangkan kasir langsung membuatkan bon totalan belanjanya.
"Semua enam ratus sembilan puluh tujuh ribu ." kasir memberikan rincian total semua belanjaan Bu Imah. Dan dengan sombongnya, Bu Imah membayar cash. Bibirnya terus menggerutu tak terima dengan sikap para karyawan Halwa yang sudah menyepelekannya.
"Aku sudah membayarnya lunas. Bisa tolong Carikan becak untuk mengangkut barang barang ini kerumahku. Karena aku tidak akan kuat kalau membawanya sendirian." teriak Bu imah dengan begitu angkuhnya.
Halwa yang baru saja keluar dari ruangannya, menatap ke arah Bu Imah d Ngan mengerutkan wajahnya bingung.
"Wah kebetulan kamu sudah keluar, Halwa!
Lihat tuh anak buah kamu, gak ada sopan sopannya memperlakukan pembeli. Padahal aku berniat belanja tapi mereka memperlakukan aku kayak mau maling saja." sungut Bu Imah dengan gaya yang dibuat buat dan membuat Halwa berusaha untuk tersenyum menanggapi ocehan ibu mantan mertuanya.
"Maaf Bu, kalau ada tidak nyamannya." sahut Halwa berusaha ramah.
"Semua sudah dibayar Bu, Bu Imah minta dicarikan becak untuk ngangkut belanjaannya." Dewi yang duduk di kasir menjelaskan dan disambut anggukan ringan oleh Halwa.
__ADS_1
"Rud, kamu antar belanjaan Bu Imah kerumahnya ya.!" Halwa meminta Rudi untuk mengantar belanjaan Bu Imah , dan disambut Rudi dengan sigap dan patuh.
"Nah gitu dong!
Masak lelet banget kerjanya." sungut Bu Imah dengan wajah sinis nya.
"Halwa, gimana kabar kamu nak?" Bu Imah mengalihkan pandangannya pada Halwa dan pura pura bersikap manis untuk menarik kembali perhatian mantan menantu yang dulu dibencinya.
"Alhamdulillah baik, Bu!" sahut Halwa singkat, sebenarnya malas terlibat obrolan d nan mantan mertuanya, pasti akan ada konflik nantinya.
"Yudha akan keluar dari penjara sebentar lagi.
Kalian tidak juk saja, Yudha juga masih mengharapkan mu jadi istrinya lagi." sambung Bu Imah dengan percaya diri dan membuat Halwa mengerutkan dahinya dengan apa yang didengar dari mulut mantan mertuanya.
"Kamu mau kan, kembali dengan Yudha lagi.
Yudha itu ganteng dan pinter, juga gak malas.
Kalau kalian rujuk, kamu gak perlu susah susah ngurus toko sebesar ini sendirian, ada Yudha yang akan mengurusnya, ibu juga Yeni mau kok bantu ngurus." Bu Imah bicara dengan sangat lancarnya.
"Saya tidak ada niat untuk kembali lagi dengan mas Yudha, Bu! Kami sudah tidak cocok dan tidak sejalan lagi dalam hal apapun. Jadi jangan pernah minta saya untuk kembali dengannya." sahut Halwa tegas, tidak mau lagi ditekan dan dikendalikan oleh wanita yang dulu begitu menguasainya dan menginjak harga dirinya sebagai menantu yang hanya diperlakukan hanya sebatas babu saja.
"Jangan begitulah kamu, Wa!
Yudha sudah berubah, dia menyesal pisah sama kamu. Tidak ada perempuan yang kayak kamu. Apalagi sekarang kamu sangat cantik dan juga sukses. Ibu setuju kok kalau kalian balik lagi. Kalian pasti bahagia, jadi pasangan yang serasi dan juga bisa mengembangkan usaha bersama sama. Karena tidak ada laki laki yang lebih baik dari Yudha di luar sana.
Apa kamu gak takut, kalau kamu menikah lagi, terus suami kamu itu punya niatan jahat sama Hasna, dia di perkosa gimana?
Hasna sudah gede loh.
Pikirkan itu, jangan egois kamu jadi orang tua!" balas Bu Imah sinis karena Halwa menolak keinginannya untuk rujuk dengan anak laki lakinya.
"Insyaallah, semua akan baik baik saja Bu.
Aku tau, bagaimana harus melindungi anak perempuanku, bukankah selama ini, Hasna aku yang mengurusnya sendiri. Dan Alhamdulillah, Hasna tumbuh jadi anak yang pintar dan shalihah. Dia itu cerdas dan baik. Aku yakin Alloh senantiasa akan melindunginya, karena doaku akan terus menemani di setiap langkah nya." Sahut Halwa dengan santai namun begitu tegas. Tidak ingin lagi bersikap lembut pada perempuan yang selalu mengusik ketenangan dirinya. Apalagi Bu Imah yang tidak pernah berubah, selalu ikut campur dan menuntut yang bukan jadi haknya.
"Sombong sekali kamu, Halwa!
__ADS_1
Kamu akan menyesal karena sudah menolak niat baikku dan juga Yudha. Tidak ada kaki laki yang mau dengan perempuan janda kayak kamu, harusnya kamu mikir itu, bukannya malah sok sok an menolak, apa mau kamu jadi janda selamanya?" sungut Bu Imah emosi dengan tatapan sinis ditujukan ke arah Halwa yang hanya diam tanpa ekspresi.
"Kata siapa Halwa akan jadi janda selamanya?"
Tiba tiba ada suara bariton yang tidak asing di telinga Halwa muncul, membuat Halwa tersenyum dan Bu Imah terperangah menatap kedatangan laki laki tampan dengan pakaian rapinya khas orang kantoran.
Sampai Bu Imah membuka mulutnya lebar dan matanya tak berkedip menatap pesona laki laki yang kini tengah berdiri di samping Halwa dengan senyuman yang memabukkan bagi siapa saja yang melihatnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️
__ADS_1