Pembalasan Istri Yang Terhina

Pembalasan Istri Yang Terhina
memanfaaatkan


__ADS_3

Sedangkan Yeni keadaannya berangsur membaik, sudah tidak teriak kesakitan lagi, tapi tubuhnya masih banyak luka melepuh dan beraroma menyengat.


"Bu, kenapa mereka lama sekali?


Aku sudah tidak tahan dengan bau di tubuhku in!" Yeni bergumam lirih dan menutup hidungnya karena bau tak sedap dari tubuhnya sendiri.


Bahkan Bu Imah terus memuntahkan isi perutnya, kalau saja tidak khawatir dengan keadaan anaknya, Bu Imah ingin pergi meninggalkan Yeni, karena baunya benar benar mengaduk aduk perutnya.


Setelah beberapa saat terdengar suara mobil berhenti, dengan semangat Bu Imah langsung membukakan pintu. Dan benar saja yang ditunggu tunggu pun datang. Yudha dan Wulan langsung menutup hidungnya. Bau tak sedap menguat di seluruh ruangan hingga sampai keluar rumah.


Wulan mengambil masker dan menyemprot minyak wangi, lalu memakainya untuk menutupi hidungnya. Yeni harus segera di kasih air pemberian mbah Muro.


"Saya akan masuk, air ini harus segera diberikan pada Yeni, sebelum terlambat." Wulan langsung masuk ke dalam kamar Yeni, dan Bu Imah juga Yudha memilih menunggu diluar.


Terdengar erangan kesakitan dari Yeni, namun Bu Imah memilih tetap diam di tempat.


Setelah meminum air dari Mbah Muro, tidak bih Yeni semakin terasa panas dan kepalanya terasa sangat berat, serta luka luka yang melepuh di kulitnya juga teras seperti di tusuk tusuk setelah dibaluri air pemberian mbah Muro.


Cukup lama Yeni tersiksa kesakitan, hampir satu jam. Membuatnya seperti mau mati saja


Namu rasa sakitnya berlahan lahan hilang, dan luka ditubuhnya pun juga menyusut sedikit demi sedikit, hingga pada akhirnya tubuh Yeni kembali pada sedia kala, bersih dan mulus, seketika bau tak sedap juga menghilang.


Diluar Yudha dan Bu Imah tengah mengendus endus, memastikan kalau baunya sudah tidak ada lagi.


"Loh kemana bau busuk itu, apa Yeni sudah kembali baik baik saja?" Bu Imah langsung be diri dan berlari kearah kamar Yeni, saat masuk ternyata Yeni sudah duduk santai di ranjangnya dengan tubuh yang terlihat seperti semula.


"Wah dukunnya sakti juga, buktinya Yeni langsung sembuh setelah minum air yang dibawakan dari sana." Bu Imah tersenyum lebar, dan masih tak percaya dengan yang dilihatnya, padahal Yeni baru histeris kesakitan dan tidak Bunya penuh luka dan berbau, tapi dalam sekejap lesap begitu saja, bahkan bau busuk itu sudah ikut menghilang.


"Sekarang mbak Yeni sudah baik baik saja. aku akan menemui Halwa ke tokonya."


Yudha langsung keluar dari kamar Yeni dan beberapa niat ingin bertemu Halwa di toko sembako milik Halwa dengan menaiki mobil kakaknya.


Yudha langsung masuk dan akan membuka ruangan Halwa tanpa permisi. Untung dilihat oleh Rudi yang langsung mencegahnya.


"Apa yang pak Yudha lakukan?


Bu Halwa tidak ada, Bu Halwa sudah cuti tidak ke toko sampai nanti hari H pernikahannya." jelas Rudi tegas dan menghadang niat Yudha yang akan membuka pintu ruangan pribadi Halwa.


"Aku ingin masuk kedalam, berikan kuncinya." sahut Yudha sinis, merasa dirinya berhak dengan harta yang dimiliki Halwa.


"Kuncinya di bawa sama Bu Halwa sendiri.


Dan kalaupun ada, saya juga tidak akan memberikan kunci itu, karena pak Yudha tidak punya wewenang apapun di toko ini." sahut Rudi berani, karena memang Yudha bukan siapa siapa.


"Kurang ajar!"

__ADS_1


bugh!


Bugh!


Yudha memukuli Rudi dengan bringas, padahal sudah tau kalau dirinya salah.


"Hentikan!" tiba tiba Bella datang dengan wajah memerah, tak suka dengan kehadiran Yudha yang selalu bikin masalah.


"Apa yang terjadi, kenapa kamu pukuli Rudi?


Mau aku laporkan kelakuan kamu ini ke polisi, karena tempat ini sudah di pasang cctv, jadi akan sangat mudah menjebloskan kamu ke penjara lagi!" teriak Bella emosi, selalu saja Yudha dan keluarganya yang mencari masalah.


Yudha melengos dan tak merasa bersalah sama sekali, lagaknya sudah seperti pemilik toko saja.


"Memangnya siapa kamu?


Jangan pernah ikut campur dengan urusanku.


Kamu bukan siapa siapa di toko ini!" herdik Yudha sinis, bibirnya miring sebelah dengan tatapan mengejek.


"Halwa sudah menyerahkan tanggung jawab toko ini ke aku selama dia sibuk mengurus pernikahannya. Jadi aku berhak mengusir siapa saja yang mengganggu keamanan di toko ini, tak terkecuali kamu, Yudha!" Bella menekan kalimatnya dan membalas tatapan Yudha dengan tajam.


Yudha langsung mengusap wajahnya kasar, langkahnya terlambat, Halwa sudah mau menikah.


"Katakan, dimana Halwa?


"Halwa ada di tempat yang aman, dia sedang bahagia, karena sebentar lagi akan menikah dengan laki laki yang jauh lebih baik segalanya dari kamu!


Jadi jangan pernah berpikir untuk mengusiknya lagi, karena kamu juga sudah bukan siapa siapa untuk Halwa!" balas Bella dengan senyuman sinis, menatap tajam pada Yudha yang terlihat terbakar amarah.


"Pergilah! Sebelum aku minta satpam untuk mengusir kamu!" tekan Bella dalam, tak ingin terlalu banyak berdebat dengan orang seperti Yudha, hanya akan membuat masalah makin runyam saja.


"Katakan, dimana Halwa tinggal sekarang!


Aku masih punya hak pada Hasna, dia anakku. Jadi jangan halangi aku untuk bertemu dengannya." Yudha mencari alasan yang tepat agar bisa menemui Halwa dan menjalankan rencananya untuk menculik Hasna, agar Halwa menyerah dan mengikuti maunya, Yudha sangat paham dengan kelemahan Halwa.


"Tidak akan aku kasih tau, karena bukan ranahku masuk dalam urusan kalian.


Lagian selama ini, kamu juga tidak pernah mengakui Hasna itu anak kamu, bukan begitu?" sahut Bella tajam dan memilih pergi masuk keruangan Halwa untuk mengecek pengeluaran dan pemasukan toko hari ini.


"Rud! Suruh laki laki itu pergi, kalau gak mau, minta bantuan satpam untuk mengusirnya.


Jangan sampai dia bikin ribut lagi, muak dengan drama mereka." Bella menutup pintu dan menguncinya dari dalam, puas sudah bisa menghina Yudha dengan kata katanya.


Yudha yang terlanjur emosi dan tidak terima dengan ucapan Bella pun murka. Yudha menggedor gedor pintu dan terus mengumpat dengan bahasa kasar.Taoi Bella tak perduli sama sekali.

__ADS_1


Sedangkan Rudi memanggil satpam yang tengah berjaga di luar untuk membantunya mengusir Yudha agar tidak membuat onar.


"Kurang ajar!


Aku tidak akan tinggal diam.


Akan aku balas sikap kurang ajar kalian padaku.


Dasar sampah! Keparat!" teriak Yudha penuh dengan amarah, tak terima dirinya diperlakukan seperti penjahat.


Namun Rudi dan dua satpam tak perduli dan terus menyeret tubuh Yudha agar keluar dari toko.


"Aaaaaaaargh." teriak Yudha kesal, frustasi karena Halwa sangat sulit untuk ditemui, bahkan dimana tempat tinggalnya sekarang saja ya dua tidak tau.


Sedangkan tak jauh dari toko Halwa, ada seseorang yang tengah memperhatikan kemarahan Yudha.


Dengan senyuman licik, Wati menyusun rencana untuk menjadikan Yudha alat balas dendamnya.


"Sepertinya laki laki itu punya tujuan yang sama denganku! Aku akan memanfaatkannya. Selaku ada jalan untuk membalas rasa sakit hati ini." gumam Wati tersenyum senang dengan rencana yang sudah tersusun rapi di otaknya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️


__ADS_2