Pembalasan Istri Yang Terhina

Pembalasan Istri Yang Terhina
Kedatangan Wati ke toko


__ADS_3

"Apa yang akan kamu lakukan padaku, aku tidak perduli. Tapi jika kamu berani mengusik mas Dafi dengan apa yang tidak diketahuinya, kamu akan menyesal Yudha. Jangan pernah berani mengancam ku dan mencoba bermain main denganku, aku bukan Halwa yang dulu, aku akan membuat kamu mendekam ke dalam penjara sekali lagi, jika berani mengusikku." sahut Halwa tegas dan menatap tajam pada Yudha yang hanya menanggapi dengan senyuman miring dibibirnya, seolah ancaman Halwa tak berarti apa-apa baginya.


"Kamu yang akan menyesal karena sudah mengancam ku, Halwa!


Lihat saja apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu tunduk padaku lagi." setelah bicara demikian, dengan entengnya Yudha pergi meninggalkan Halwa yang masih terbakar emosi.


Tak habis pikir, kenapa bisa berurusan dengan manusia seperti Yudha dan keluarganya. Mereka selalu saja menciptakan masalah yang membuat hidup tidak tenang.


Halwa melangkah pergi keruangannya, setelah mengatur nafasnya agar dirinya kembali lebih baik.


Meredam emosi di hatinya. Dan mulai memikirkan cara agar tak lagi berurusan dengan keluarga mantan suaminya itu.


"Aku harus bicarakan ini sama mas Dafi. Siapa tau dia punya solusinya. Aku benar benar lelah menghadapi manusia manusia seperti mereka. Selalu saja bikin masalah yang membuat hidupku kacau." gumam Halwa dengan menyenderkan kepalanya di bahu sofa. Lelah dan frustasi itulah yang kini dirasakannya, menghadapi keluarga Yudha tidaklah mudah, karena mereka orang orang yang tidak tau malu dan nekad.


Halwa mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Dafi.


Menceritakan semua yang baru saja dia alami dengan kedatangan Yudha ke tokonya.


"Untuk sementara, lebih baik kamu tidak perlu pergi ke toko, Wa! Demi kenyamanan dan keselamatan kamu.


Toko bisa kamu pasrahkan saja Bella atau orang yang kamu percaya. Aku tidak mau kamu kenapa kenapa karena kenekatan mantan suami kamu itu.


Dan untuk Wati, aku sudah bilang ke pos penjaga, siapa siapa saja tamu yang di ijinkan masuk dan siapa siapa yang tidak di ijinkan masuk ke komplek. Agar mereka tidak bisa mengganggu kamu dan Hasna." Dafi mencoba memberikan solusi dengan meminta calon istrinya untuk tatap anteng dirumah saja, dan Halwa adalah tipe wanita yang penurut, tanpa banyak bicara, Halwa mengiyakan nasehat Dafi dan akan menurutinya.


"Baiklah, mulai besok aku tidak lagi keluar rumah.


Setelah ini aku akan menjemput Hasna ke asrama dengan mbak Monika. Lalu langsung pulang setelah membelikan Hasna baju dan sepatu seperti yang dia inginkan." Sahut Halwa jujur dengan rencananya siang nanti.


"Iya, kamu hati hati dan segera hubungi aku kalau ada apa apa. Kita akan menikah, kamu sudah jadi tanggung jawabku mulai saat ini. Percayalah aku akan berusaha untuk melindungi dan menjaga kalian, kamu dan Hasna ajan jadi prioritas ku." balas Dafi yakin dan ingin Halwa percaya dan kembali merasa nyaman setelah begitu banyak masalah yang menerpa hidupnya selama ini.


"Terimakasih, Mas!


Semoga Alloh mudahkan niat baik kita ini. Bismillah!" sahut Halwa dengan senyuman tipis di bibirnya, hatinya menghangat mendengar setiap kalimat yang Dafi lontarkan, selalu mampu menenangkan saat mulai merasakan tekanan dalam hidupnya. "Semoga kamu jodohku, mas!" gumam Halwa di dalam hatinya.


"Yasudah, aku mau lanjut kerja dulu. Kamu nanti hati hati." sambung Dafi menutup obrolan setelah mengucap salam dan dijawab oleh Halwa.


"Sudah siap, yuk berangkat!" Monika yang baru datang menghampiri Halwa ke toko, sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan Hasna. Gadis remaja yang tumbuh begitu cantik dan lembut seperti ibunya.


"Sepertinya sudah gak sabar saja, mbak!" sahut Halwa tertawa melihat Monika yang begitu bersemangat ingin menjemput gadisnya.

__ADS_1


"Iya, ingin segera meluk Hasna. Entahlah, Hasna selalu mengingatkan aku pada putriku." balas Monika yang mendadak berubah sendu. Dan Halwa langsung merangkul pundaknya, mengajaknya berangkat agar Monika tidak larut dengan kesedihannya karena mengingat almarhumah anaknya.


"Tunggu! Aku ingin bicara!" tiba tiba Wati muncul dan menghadang langkah Halwa dengan tatapan nyalang.


"Ada apa?


Aku sedang buru buru!" sahut Halwa santai dan berusaha untuk tetap tenang. Sedangkan Monika sudah siap dengan kamera ponselnya.


"Jangan sok sibuk kamu!


Aku tidak akan lama. Aku hanya ingin mengingatkan kamu untuk menjauhi Dafi. Dia akan menikah denganku, bukan denganmu. Janda sepertimu tidak pantas jadi istri Dafi, gak level!" ucap Wati dengan angkuhnya, namun Halwa memilih tetap bersikap biasa saja, bahkan tidak perduli dengan apa yang di ucapkan Wati.


Halwa sudah tau rencana Wati dari Vidio dan rekaman tang dikirimkan Dafi kemarin.


"Bilang saja ke mas Dafi langsung.


Kalau dia bersedia menikah denganmu dan lebih memilih kamu jadi istrinya, aku akan mundur dan iklas dia menikahi kamu!" sahut Halwa tanpa beban sedikitpun, karena untuk menghadapi orang seperti Wati tidak perlu dengan emosi, cukup bersikap santai dan tak memperdulikan nya, pasti akan kesal sendiri.


"Aku bicara sama kamu, harusnya kamu paham bahasaku. Aku memintamu untuk menjauhi Dafi, bukannya malah bersikap sok tak butuh seperti ini!" sungut Wati tak suka mendengar balasan dari Halwa yang begitu tenang.


"Aku tidak akan mundur, jika bukan mas Dafi yang memintaku pergi. Pernikahan kamu tinggal hitungan hari, jadi sangat aneh saja kalau aku tiba tiba mundur hanya karena menuruti kamu yang bukan siapa-siapa. Maaf aku bukan wanita yang bodoh, yang mau saja diperintah oleh orang gak jelas sepertimu." sahut Halwa tegas dan menatap penuh ke arah Wati dengan sorot matanya yang tajam.


"Jaga sikapmu, ondel ondel!


Jangan buat ulah disini, atau aku akan suruh satpam untuk mengusir mu!" tekan Monika dengan kasar menghempaskan tangan Wati.


"Jangan pernah ikut campur urusanku, kamu bukan siapa-siapa disini!


Jangan jadi sok pahlawan kamu!" sungut Wati dengan muka yang sudah memerah, emosi karena niatnya dipatahkan begitu saja dengan Halwa dan Monika.


"Jika menyangkut mbak Halwa, itu akan jadi urusanku juga. Jadi tidak usah sok mengatur disini.


Mas Dafi sudah bilang jika kamu bukan siapa siapa baginya, hanya benalu yang menumpang hidup nyaman di keluarga mas Dafi. Jadi jangan sok berkuasa. Mana mau mas Dafi dengan perempuan seperti ondel ondel kayak kamu ini, huh!" balas Monika dengan wajah mengejeknya, membuat Halwa menahan tawa dengan sikap wanita cantik di sampingnya.


"Siapa yang ondel ondel?


Apa matamu sudah buta, tidak bisa melihat wanita secantik dan seseksi aku. Kalau dibandingkan dengan janda yang di sampingmu, masih banyak aku kemana mana. Sudah janda, sok cantik dan sombong!" sungut Wati dengan tatapan benci pada Halwa yang justru menahan tawa karena ucapan percaya diri yang terlontar dari Wati.


"Apa kamu bilang, kamu cantik?

__ADS_1


Seksi?


Kaca mana kaca?


Wajah buluk kayak gitu cantik dari mana?


Seksi? Badan kurus kayak triplek kok seksi, yang ada kering dan tak ada menarik menariknya.


Ih amit amit, hello bangun woy bangun, mimpinya jangan tinggi tinggi. Jatuh patah tulang tau rasa!" sahut Monika dengan gaya bar barnya, orang orang yang ada disekitar menahan tawa mendengar ucapannya, dan menatap Wati dengan pandangan mengejek.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️

__ADS_1


__ADS_2