
"Inilah arti dari sebuah persahabatan, Wa!
Kita akan selalu bersama dalam setiap kondisi dan tidak akan pernah meninggalkan apapun keadaannya, semoga!" sahut Bella dengan senyuman tulusnya dan langsung di iyakan oleh Rika dan Monika. Mereka pun berpelukan penuh haru dalam ikatan persahabatan yang baru.
Hasna sudah tertidur pulas, tidak menghiraukan suara gaduh di luar, Halwa asik bercerita dengan Bella, Monika dan Rika, hingga larut malam.
Kebetulan suami Monika sedang ada tugas ke luar kota, dan Rika tidak ada janji dengan suami sirinya.
Jadi mereka memutuskan untuk menginap di rumah Halwa sambil bercerita panjang lebar membahas pernikahan Halwa yang tinggal sebentar lagi.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Bu Imah dengan semangat akan menemui Jarwo hari ini, setelah orang yang ingin melihat mobilnya Yudha datang.
"Semoga cocok dan mobilnya cepat laku. Biar aku tidak bingung terus soal keuangan." Batin Bu Imah penuh harap.
Pukul sepuluh pagi, laki laki seumuran Yudha yang di bawa suaminya Bu Sarah datang untuk melihat kondisi mobilnya Yudha.
Setelah di cek, Pak Ilham merasa cocok dan sreg dengan mobilnya Yudha, akhirnya setelah proses tawar menawar harga yang tidak terlalu alot, pak Ilham memutuskan untuk membeli mobil Yudha dengan harga pasaran nya.
Bu Imah sangat senang, dan terus mengucapkan banyak terimakasih pada Bu Sarah dan suaminya.
Bahkan Bu Imah sudah menyiapkan uang di dalam amplop sebagai ucapan terimakasihnya, tapi Bu Sarah dan suaminya menolak, beralasan kalau iklas membantu. Bu Imah sangat bersyukur dengan kebaikan Bu Sarah juga suaminya.
"Ya Alloh, terimakasih banyak loh Bu sarah, kalau bukan karena bantuan Bu Sarah dan suami. Saya tidak tau gimana cara menjual mobil itu.
Tapi kenapa Bu Sarah tidak mau terima uang ini, saya iklas kok Bu, Itung itung sebagai ucapan terimakasih saya karena Bu Sarah sudah banyak membantu saya." ucap Bu Imah terharu dan terus mengucapkan banyak terimakasih.
"Gak papa Bu Imah, saya dan suami iklas bantu Bu Imah. Uangnya bisa Bu Imah gunakan untuk keperluan Bu Imah." sahut Bu Sarah sopan dengan senyuman ramah.
"Sekali lagi terimakasih banyak ya Bu Sarah, Pak Ari. Terimakasih sudah bantu saya!" Bu Imah sampai menitikkan air matanya sangking terharunya dengan kebaikan Bu Sarah dan suaminya.
"Bu Imah kok nangis, ada apa?" Bu Sarah mengerutkan wajahnya menatap bingung pada Bu Imah yang meneteskan air matanya.
"Saya terharu Bu, padahal hampir semua tetangga mengucilkan saya, tapi Bu Sarah masih mau bersikap baik sama saya. Terimakasih ya Bu!" Bu Imah terisak, terharu pada tetangganya yang sudah begitu baik padanya, disaat yang lain tak lagi mau mengenalnya.
__ADS_1
"Sebagai sesama kita harus saling bantu Bu." sahut Bu Sarah dengan senyuman.
"Saya gak tau, seperti apa nasib saya kalau tidak ada Bu Sarah, mungkin rumah saya sudah terjual. Dan saya bingung harus kemana." balas Bu Imah dengan tatapan sayu, pandangannya kosong dan terlihat ada gurat kesedihan disana.
"Alhamdulillah, itu gak terjadi Bu! Disyukuri masih punya tempat tinggal. Semoga setelah ini, Bu Imah diberikan kemudahan." balas Bu Sarah dengan lembut dan tak pernah mau menghakimi kesalahan orang lain, sekalipun orang itu terlalu banyak salah.
Pak Ari hanya diam menyimak, tidak ingin banyak ikut berkomentar. Niatnya hanya ingin membantu tetangga yang sedang kesusahan tanpa embel embel apa pun.
"Yasudah kalau begitu saya mau pamit pulang dulu ya Bu Sarah. Dan ini uang yang kemarin saya pinjam, sesuai dengan janji saya, saya akan kembalikan kalau mobilnya laku." Bu Imah menyodorkan uang satu juta pada Bu Sarah, uang yang kemarin sempat dipinjamnya. Dan Bu Sarah menerimanya.
"Makasih ya Bu Imah, semoga rejekinya Bu Imah lancar." Bu Sarah menerima uang dari Bu Imah dengan sopan dan mendoakan kebaikan untuk Bu Imah.
Bu Imah pamit pulang dengan perasaan campur aduk, antara senang, dan juga terharu.
Hatinya sangat senang karena sudah mempunyai uang banyak lagi, Namun Bu Imah tak lagi ingin boros, hanya mengambil sedikit uang untuk jadi pegangan makan sehari hari, sisanya dimasukkan ke dalam rekeningnya untuk jaga jaga dan modal Yudha buka usaha saat nanti keluar dari penjara.
Sering ngobrol dengan Bu Sarah, membuat Bu Imah sedikit jauh lebih baik, cara berpikir Bu Sarah yang bijak, dan dengan kebaikan dan ketulusan Bu Sarah membuat Bu Imah sedikit berpikir untuk berubah.
Menjelang sore, Bu Imah memutuskan untuk pergi menemui Jarwo. Memintanya untuk mencabut tuntunannya pada Yudha dan juga Yeni.
Karena Bu Imah akan mengancam untuk melaporkan balik dengan tuduhan perselingkuhan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Tok tok tok
"Jarwo keluar kamu! Jarwo!" teriak hu Imah tak sabar dengan terus menggedor pintu kontrakan Jarwo.
Jarwo yang baru saja pulang kerja hampir tersulut emosi karena kegaduhan yang ditimbulkan ibu mertuanya itu.
"Jangan teriak teriak Bu, saya tidak budhek!" sungut Jarwo kesal saat membukakan pintu untuk Bu Imah.
Tanpa menunggu dipersilahkan masuk, Bu Imah langsung nyelonong dan duduk di kursi yang ada diruang tamu. Melihat sikap ibu mertuanya yang tak pernah berubah, membuat Jarwo menggelengkan kepalanya pasrah.
"Kamu harus cabut tuntutan kamu pada Yudha dan juga Yeni. Kalau tidak, aku tidak akan segan meminta Yeni untuk menuntut kamu balik, melaporkan kamu dengan tuduhan perselingkuhan. Tak perlu aku jelaskan hukumnya seperti apa, aku kira kamu juga sudah paham!" gertak Bu Imah yang tak ingin basa basi lagi.
__ADS_1
Jarwo langsung kaget dan tak percaya, kalau ibu mertuanya paham dengan itu semua.
Jarwo menikah saat masih berstatus suaminya Yeni, dan sampai saat ini, gugatan di pengadilan juga belum turun surat cerainya.
Ditambah lagi istri muda Jarwo tengah hamil tua, pasti kalau Yeni ganti melaporkan dirinya, Jarwo maupun istri mudanya juga bisa kena pasal dan mendekam dipenjara.
"Apa mau ibu sebenarnya?" jawab Jarwo pada akhirnya, setelah beberapa saat diam memikirkan langkah yang harus diambil.
"Aku hanya ingin kamu mencabut tuntutan kamu pada anak anakku, keluarkan mereka dari penjara. Dan satu lagi, aku minta ganti rugi, karena ulahmu hidupku jadi susah!" sahut Bu Imah bersungut sungut, matanya melotot tajam pada Jarwo yang tak bisa mengelak lagi.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️