
"Aku sudah menunggumu dari tadi! Tidak usah terpesona seperti itu melihatku, aku muak dengan ekspresi mu itu!" sungut Yeni tak suka dengan tatapan sinisnya, membuat Jarwo sadar dari keterpakuan nya dalam menatap Yeni tanpa kedip, namun masih belum menyadari kepergian Asih dengan cemburunya.
Jarwo memilih duduk di kursi kosong dan terdiam mengatur detak jantungnya yang masih sama seperti dulu, masih menyimpan rasa pada Yeni yang selalu cantik, meskipun hatinya selalu dibuat kecewa dengan sikapnya yang selalu tak mau tau dan egois.
Tanpa mau basa basi lagi, Yeni menaruh uang dalam amplop coklat sebesar dua puluh lima juta di atas meja dan menyodorkan pada Jarwo, dengan gayanya yang angkuh.
"Itu, yang dua puluh lima juta, sesuai dengan keinginan kamu, mas!
Apa kamu puas?" tekan Yeni dengan wajah datar dan penuh penekanan dalam setiap kalimatnya.
Jarwo terdiam menatap uang dalam amplop coklat di depannya.
Tak menyangka kalau Yeni akan memenuhi keinginannya dengan sangat cepat dan bahkan seolah sudah tak lagi punya perasaan apapun padanya. Padahal sebelum masuk ke dalam penjara, Yeni masih menangis dan memohon untuk Jarwo tidak menceraikan dirinya, tapi Yeni yang ada di hadapannya sekarang, memiliki kepribadian yang berbeda, penuh kebencian dan dendam, dan perasaan nya pun juga sudah hilang, tak ada lagi cinta itu di kedua sorot matanya untuk Jarwo.
"Bukankah dan hitung kembali, apa sudah cukup dengan apa yang kamu inginkan?
Aku salut dengan kelicikan kamu, Mas! Rendah sekali kamu mencurangi ibuku yang sudah tua. Harusnya kamu gunakan cara licik mu itu padaku, bukan ke ibuku. Cemen!" sinis Yeni dengan nada miring penuh ejekan.
Jarwo tanpa banyak mendebat, langsung mengambil amplop yang tergeletak di meja dan membukanya, kaku menghitungnya ulang.
"Sudah cukup, semua pas sesuai dengan nominal yang aku minta, Terimakasih!" balas Jarwo tenang meskipun dadanya berdegup begitu kencang, tak bisa dipungkiri, saat ini, Yeni terlihat begitu cantik dan anggun, perasaan cintanya mendominasi dari rasa bencinya.
"Oke! urusan kita soal perjanjian itu sudah beres kan?" tanya Yeni memastikan dengan tatapan tajamnya, Jarwo hanya bisa mengangguk pasrah dan tak bisa berkata kata lagi, sibuk dengan perasaannya sendiri.
"Kalau begitu, dengarkan keinginanku. Karena aku ingin juga meminta hakku.
Bukankah kamu sudah menceraikan aku, dan sekarang surat cerai kira masih dalam proses di pengadilan, aku harap segera keluar secepatnya, agar urusan diantara kita benar benar selesai. Aku muak dan tidak lagi Sudi berurusan dengan laki laki pezina sepertimu!" tekan Yeni, meluapkan kebencian dan kemarahannya pada mantan suaminya yang terlihat tidak berkutik. Sedangkan Yudha masih dengan mode diamnya, tak ingin ikut campur dengan apa yang kakaknya lakukan.
"Apa yang kamu inginkan?" sahut Jarwo singkat dengan wajah yang terlihat mengerut, pandangannya lekat menatap wanita yang dulu begitu dipujanya itu.
"Kamu harus bayar uang nafkah selama masa Iddah ku, selama tiga bulan sesuai dengan jumlah yang dulu kamu berikan pada setiap bulannya selama jadi istrimu.
Lima juta lima ratus selama tiga bulan, jadi total semua yang harus kamu berikan enam belas juta lima ratus rupiah.
Aku tunggu sekarang, karena itu sudah jadi kewajiban kamu!" Yeni menatap sinis ke arah Jarwo yang membulat, tak percaya kalau Yeni akan meminta uang nafkah s kama masih dalam iddah.
__ADS_1
"Kenapa, Mas?
Kamu keberatan?
Itu kewajiban kamu yang harus kamu berikan padaku, karena kamu sudah mentalaqku dan aku juga sudah bukan istrimu lagi!" sambung Yeni masih bicara dengan begitu lancarnya.
"Apa tidak diberikan tiap bulan saja, Yen?" tanya Jarwo dengan ekspresi tak rela kalau uangnya kembalikan diambil oleh Yeni.
"Tidak bisa, karena pasti kamu tidak akan memberikan nantinya.
Berikan sekarang dan ambilkan dari uang itu!
Masih sisa banyak kan?
Dua puluh lima juta hanya diambil enam belas juta lima ratus.' sahut Yeni tegas dan tak mau mengalah lagi.
Dengan terpaksa, Jarwo mengambil uang dalam amplop dan memberikannya pada Yeni sesuai jumlah yang Yeni sebutkan.
Yudha tersenyum miring melihat kecerdasan kakaknya yang membuat lawannya mati kutu bahkan tidak mampu mendengar lagi selain harus menurutinya.
Oh iya, bilang istrimu untuk dandan dan kasih dia uang yang banyak biar bisa ke salon, kasihan penampilannya sudah kayak membantu saja!" Yeni meraih yang enak belas juta yang Jarwo sodorkan, dan memasukkan nya ke dalam tas miliknya. Lalu mengajak Yudha untuk pergi, meninggalkan Jarwo yang masih shock dengan sikap mantan istrinya yang lebih cerdik dari dirinya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Mbak Yeni hebat, bisa buat Jarwo tak berkutik dan langsung menuruti keinginan kamu, mbak! " Celoteh Yudha saat sudah berada di dalam mobil, dan Yeni pun tertawa lirih dengan sikapnya sendiri.
"Mbak yakin, mereka pasti akan berantem setelah kita pergi! Istrinya pasti tidak terima karena tidak diberikan jatah belanja yang sama seperti diriku dulu. Bayangin mereka adu mulut gitu, hatiku sudah sangat senang sekali." sahut Yeni tertawa terbahak, senang karena bisa melumpuhkan lawan tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga.
"Ini kita kemana, mbak?" Yudha mengalihkan pandangannya pada sang kakak yang terlihat sumringah karena berhasil membuat Jarwo tak berkutik bahkan akan terkena masalah dengan istri barunya.
"Kita ke mall saja, belanja dan cari makan paling enak! Nanti ibu dibungkusin saja!" sahut Yeni yakin dan membenahi duduknya dengan menyender santai sambil menatap ke arah depan melihat jalanan.
Yudha langsung melajukan kendaraannya sedikit kencang, hanya butuh lima belas menit sudah sampai di parkiran mall.
Yeni belanja bermacam kebutuhan dapur tanpa mengirit seperti dulu. Lalu membeli baju untuknya, Yudha dan juga ibunya. Tak perduli dengan harga di bandrol yang cukup mahal. Pikirannya hanya ingin bersenang-senang tanpa terbebani apapun.
__ADS_1
Setelah puas belanja, Yeni mengajak Yudha mencari restoran yang paling enak menu menunya, membungkus berbagai macam menu untuk di makan bersama dirumahnya bersama sang ibu.
"Enak ya jadi orang kaya, bisa beli apapun yang kita mau tanpa ada beban uang habis!" hahahaaa, Yudha tertawa besar saat perjalanan menuju ke arah pulang.
"Makanya ajak Halwa untuk rujuk. Kamu harus cerdas dan bisa berbuat licik untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan.
Halwa itu aset berharga, kalau kamu bisa rujuk dengannya, hidup kita semua akan terjamin dan tidak perlu bekerja keras." sahut Yeni mengompori sang adik.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1
Happy ending ❤️