Pembalasan Istri Yang Terhina

Pembalasan Istri Yang Terhina
Rencana


__ADS_3

"Mereka sebentar lagi akan menikah. Jangan buang buang waktu. Jangan sampai keduluan dengan pernikahan mereka." balas Wati terus mengompori Yudha untuk dijadikan alat balas dendam nya.


"Aku tau, kamu tidak usah menceramahi ku! "sahut Yudha dingin, kesal dengan sikap Wati yang sok mengatur.


"Baiklah aku mengerti" sahut Wati singkat menahan rasa kesal di hatinya.


Kalau saja tidak butuh bantuan, mungkin Wati sudah mencaci Yudha begitu lantang.


"Ini alamat Halwa sekarang.


Tapi masuk sini tidak lah mudah, harus ijin dulu sama penjaga di pos depan komplek, karena kawasan ini sangat ketat, banyak cctv yang dipasang di sepanjang jalannya. Jadi hati hati! Jangan gegabah." Wati memperingati Yudha dan memberikan alamat Halwa dalam selarik kertas.


"Aku permisi dulu, kalau ada apa apa kamu bisa menghubungi ku, kita punya tujuan yang sama!" sambung Wati dan langsung beranjak meninggalkan Yudha yang tetap memilih diam.


Memikirkan rencana yang harus dia lakukan agar berhasil membawa Hasna dari rumah itu.


Mau telpon pun, Halwa sudah mengganti semua nomor ponselnya, baik dirinya maupun nomor milik Hasna.


"Aku harus minta bantuan ibu soal ini, pasti dia punya ide yang cemerlang." Yudha berdiri lalu meninggalkan tempat dan menuju pulang kerumahnya, akan mendiskusikan rencana nya dengan sang ibu.


Sedangkan Bu Imah tengah menjaga Yeni yang masih terlihat lemah, badannya terasa kaku dan sakit semua. Luka dan bau busuk dari tubuhnya sudah menghilang setelah mendapatkan penawar dari Mbah Muro.


"Sudah Yen! tidak usah lagi kamu main main kayang yang begini, gak usah pergi ke dukun lagi.


Sudah habis uang banyak, kamu menderita lagi. Wes, cukup! Jangan diulangi!


Masih banyak cara lain untuk membalaskan sakit hatimu!" sungut Bu Imah menasehati anaknya.


",Iya, Bu! Yeni juga kapok. Padahal Yeni sudah keluar uang banyak. Jarwo memang kurang ajar, ternyata dia bisa lolos dari kiriman itu." sahut Yeni semakin terbakar oleh dendamnya.


"Lebih baik, kamu pulihkan dulu badan kamu.


Lalu susun rencana yang lebih cerdas, pokoknya jangan pakai jasa dukun, gak iklas ibu!


Sudah tekor, eh masih juga terkena penyakitnya. Amit amit!" balas Bu Imah serius dan meminta anaknya untuk tidak lagi bermain main dengan ilmu hitam, akan fatal akibatnya.


Yeni terdiam memikirkan ucapan ibunya yang ada benarnya. Tidak lagi pergi ke dukun, hanya bikin susah dan menghabiskan uang saja.


Terdengar suara mobil berhenti. Dan Yudha langsung mencari ibunya.


"Bu! Ibu dimana?" teriak Yudha seperti orang yang sedang terburu-buru. Mendengar anaknya teriak teriak memanggil dirinya, Bu Imah langsung keluar untuk menemui Yudha!

__ADS_1


"Ada apa to Yudh?


Kenapa kamu teriak teriak begitu?" sungut Bu imah menatap heran kepada anaknya.


Yudha langsung menggandeng tangan ibunya, diajak duduk di kursi ruang tamu rumahnya.


"Yudha sudah menemukan alamat rumah Halwa, Bu!" dengan semangat Yudha memberitahu keberhasilannya mendapatkan alamat rumahnya Halwa.


"Lalu? kenapa, kamu tidak langsung datangi saja kerumahnya?


Kok malah pulang dan teriak teriak gak jelas!" sahut Bu Imah kesal, bukannya langsung ditemui malah pulang mencari dirinya.


"Bukan begitu Bu, ibu dengar dulu penjelasan Yudha. Jangan asal marah saja!" sahut Yudha yang juga kesal dengan sikap ibunya yang mudah sekali marah.


"Tempat Halwa ini sulit untuk di kunjungi, harus ada persetujuan dulu dari pemilik rumah, karena ada pos penjagaan yang begitu ketat. Kalau Yudha yang kesana pasti Yudha akan ditolak.


Tapi kalau ibu, sepertinya tidak, tapi dengan tujuan yang membuat Halwa tidak curiga.


Ibu pura pura saja ingin bertamu dan bawakan hadiah buat Hasna, Rayu dia biar mai ikut sama ibu, terus kita sekap, untuk menakut nakuti Halwa. Yudha yakin Halwa pasti akan melakukan apapun demi anaknya, dia akan menuruti kemauan Yudha." jelas Yudha dengan tawa yang penuh rencana jahat, menganggap kalau rencana yang dibuatnya akan berjalan dengan lancar.


Bella pulang dari toko, langsung menuju kerumah Halwa. Ada sesuatu yang harus diurusnya dan harus dikatakan langsung pada sahabatnya itu.


"Asalamualaikum." Bella memasuki rumah Halwa dan terlihat Halwa tengah mengobrol dengan ibu ibu yang sedang rewang dirumahnya.


"Wa, kamu harus hati hati.


Pokoknya kamu dan Hasna jangan sampai terima tamu dan keluar rumah dulu." bisik Bella yang membuat Halwa langsung mengerutkan keningnya.


"Tadi aku pas ke toko ada Yudha disana, dia ngeyel ingin tau alamat kamu dan ingin masuk keruangan kamu, dia masih menganggap kalau dia berhak dengan kamu juga harta kamu.


Lalu aku mengusirnya kasar. Pas dia keluar dia masih terus mengumpat, dan aku mengintipnya, aku lihat dia sedang bersama Wati pergi naik mobil. Takutnya mereka sedang menyusun rencana jahat untuk kamu dan Dafi juga Hasna."


Bella menjelaskan apa yang tadi dilihatnya.


Halwa tertegun, tak habis habis keluarga mantan suaminya terus merecoki hidupnya.


"Mungkin yang mereka incar itu Hasna, agar aku menyerah kalau Hasna ada ditangan mas Yudha. Tapi tidak semudah itu, aku tidak akan mas Yudha ataupun orang lain yang menyakiti atau menyentuh Hasna. Tidak akan!" tekan Halwa dengan emosi yang tertahan. Sekarang dirinya tidak akan tinggal diam kalau keluarga mantan suaminya mengusik.


Harus dilawan!


"Kenapa kamu bisa seyakin itu, Wa?" tanya Bella heran dan menatap Halwa serius.

__ADS_1


"Karena mas Yudha tau, kalau aku sudah tidak mungkin dia ajak rujuk baik baik, dan dia paham kalau akan terus menolaknya.


Mas Yudha menganggap Hasna adalah kelemahan ku, dan aku sangat yakin, mereka pasti mengincar Hasna dengan berbagai cara untuk bisa membawa putriku itu. Tapi aku akan melindunginya dan tidak akan membiarkan orang orang itu menyentuh anakku!" sahut Halwa tegas dengan tangan yang mengepal, sudah bosan dengan sikap semena mena keluarga mantan suaminya.


"Kalau begitu, kasih tau Hasna untuk berhati hati.


Jangan sampai mau di ajak oleh siapapun keluar dari rumah. Kita harus terus mengawasi anak itu. Jangan memberi kesempatan pada Yudha dan keluarganya, apalagi si Wati gila itu!" sahut Bella ikut emosi. Dan Monika memilih diam menyimak, meskipun begitu, Monika juga tidak akan membiarkan Hasna dalam bahaya. Dia begitu menyayangi Hasna seperti anaknya sendiri.


"Lebih baik, kamu juga bicara masalah ini pada Dafi, biar dia juga bisa antisipasi dengan nanti apa yang akan terjadi. Hasna harus selalu dijaga." sahut Monika yang ikut bersuara.


"Iya, wa! Monika benar, kamu harus kasih tau Dafi masalah ini!" sahut Bella serius dan melihat Hasna yang baru saja keluar dari kamarnya, ikut bergabung dengan bunda dan tantenya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️

__ADS_1


__ADS_2