
"Pulanglah! Karena di jalan kalian akan menemukan gangguan, tapi abaikan dan terus saja berjalan, jangan sampai berhenti apapun yang terjadi. Ingat pesanku, kalau kalian mau selamat keluar dari tempat ini." sambung Mbah Muro penuh dengan tekanan dengan suara seraknya.
"Baik Mbah! Kamit pamit pulang dulu.
Terimakasih banyak untuk bantuannya." sahut Yudha berusaha bersikap tenang, meskipun hatinya telah dilanda ketakutan yang luar biasa setelah matanya menangkap makhluk tinggi besar dengan mata merah yang berdiri di depan pintu ruangan yang tadi di masuki Mbah Muro untuk semedi.
"Nanti selama diperjalanan pulang dari sini, kita akan menemukan hal hal diluar nalar kita, yang tak bisa kita jangkau dengan akal sehat. Karena dulu aku juga mengalami. Jangan sampai kita berhenti atau bersuara. Kalau takut lebih baik tutup mata saja." ucap temannya Yeni serius, membuat Yeni dan Yudha saling tatap dalam ketakutan.
"Apa kamu yakin bisa mengendalikan diri, Yudha!" sambung perempuan usia lebih dari empat puluh tahun di depannya dengan tatapan ragu.
"A aku, i itu, eeem i tu!" sahut Yudha terbata,asih terbayang rupa makhluk yang tadi menampakkan diri di hadapannya.
"Biar aku yang bawa mobilnya, Yen! Kamu duduk disamping ku, dan jangan bicara apapun kalau kamu melihat sesuatu, kamu juga Yudha. Tahan diri untuk tidak bersuara dan lebih baik tutup mata kalian, kalau merasa ketakutan."
Yeni hanya mengangguk dan mengikuti apa kata temannya, begitu dengan Yudha yang terlihat pasrah, badannya sudah tidak punya tenaga lagi, ketakutan dan cemas terus menyambangi pikirannya.
Mobil berjalan berlahan, meninggalkan hutan yang masih terkesan wingit, rumah Mbah Muro masih jauh dari pemukiman warga, meskipun masih satu desa. Bahkan tidak ada satupun warga yang berani mendekati daerah kekuasaan Mbah Muro, takut kalau lelaki itu murka dan mencelakai mereka.
Suasana benar benar mencekam, suara suara ganjil pun mulai terdengar jelas. Yeni langsung gemetaran tapi ingat pesan dari temannya untuk tidak mengeluarkan suara apapun, begitu dengan Yudha yang sudah berkeringat dingin dan gemetar menahan rasa takutnya.
"Tutuplah mata kalian, dan jangan bicara apapun setelah ini." perempuan cantik yang membawa mobilnya Yeni bersuara kembali untuk memperingatkan Yeni dan Yudha untuk tetap diam.
Gangguan gangguan mahkluk tak kasat mata terus bermunculan, namun sama sekali tidak digubris oleh Wulan, Wulan terus fokus menggunakan hatinya untuk melajukan arah mobilnya. Di abaikan nya gangguan gangguan yang terus menakuti dirinya. Sedangkan Yeni maupun Yudha memilih menutup rapat mata dan telinga nya.
Setelah tiga puluh menit berlalu, mobil sudah bisa keluar dari hutan kematian, hutan dimana Mbah Muro berada.
"Bukalah mata kalian, kita sudah aman!" Wulan membuka suaranya, terlihat keringat sebesar biji jagung membasahi wajahnya.
__ADS_1
"Kita sudah keluar dari hutan, Lan?" tanya Yeni dengan menahan sesak, tubuhnya seperti tak punya tenaga, perasaan takutnya begitu menguras energi di dalam tubuhnya, begitu juga dengan Yudha yang sudah berani membuka mata dan bernafas lega kala melihat jajan beraspal dan kendaraan berlalu lalang.
"Kita lanjutkan perjalanan, jangan berhenti sebelum melakukan perintahnya Mbah Muro." Wulan terus menjalankan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi, karena hari sudah mulai larut malam.
Hampir dua jam lebih, Wulan baku hantam dengan jalanan, sampai akhirnya sampai tak jauh dari kontrakkan Jarwo pada pukul sebelas malam lebih dua puluh dua menit.
"Cepat lakukan, Yen! biar aku dan Yudha yang mengawasi keadaan sekitar." Wulan meminta Yeni segera turun dan menanam jimat yang tadi diberikan mbah Muro padanya.
Yeni mengambil cetok yang sudah ia siapkan di dalam mobil. Dengan jalan mengendap endap, Yeni sampai di halaman samping rumah Jarwo, menggali tanah beberapa centi dan memasukkan bungkusan warna putih, lalu menutupnya dengan pot bunga, agar tidak ada yang curiga.
Setelah selesai dengan niatnya, Yeni kembali lagi ke mobil, masih dengan mengendap endap.
"Ah, akhirnya. Besok kita akan lihat apa yang akan terjadi dengan penghuni rumah itu. Semoga kalian tersiksa dan merasakan sakit selama sisa umur kalian." lirih Yeni dengan nafas ngos ngosan.
Yudha ganti mengambil alih kemudi, lalu pergi meninggalkan pelataran rumahnya Jarwo.
"Kita cari makan ya, mbak?
Aku laper sekali, dan pingin minum yang dingin dingin." Yudha menoleh ke arah kakaknya, dan Yeni mengiyakan ucapan Yudha dengan menganggukkan kepalanya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara Bu Tria dan Wati, berada di dalam kamar hotel, sedang merebahkan tubuhnya melepaskan lelah juga amarahnya.
Wati tak bisa memejamkan matanya, pikirannya selalu ingat dengan apa yang dilakukan Halwa dan juga Monika terhadap dirinya. Rasa benci terus memaksa hatinya untuk membalas kan sakit hatinya itu dengan cara menghancurkan pernikahan mereka. Sedangkan Bu Tria sudah terlelap di alam mimpinya dari sejam yang lalu.
"Aku akan membalas penghinaan dari kalian. Akan aku pastikan kalian menderita dan menyesal sudah menghinaku!" kepala Wati penuh kebencian.
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1
Happy ending ❤️