
"Ya Alloh, nak! ternyata kamu ada disini. Bunda nyariin loh!" ucap Halwa sambil berjalan cepat ke arah anaknya dan memeluknya erat.
"Ih, bunda! kan Hasna dirumah, tadi pas Hasna bangun, bunda masih nyenyak tidurnya. Terus Hasna mandi, sholat, kesini deh. Di dapur lihat ibu ibu sibuk siapin makanan." jelas Hasna dengan polosnya, Halwa tersenyum dan menciumi pucuk kepala anaknya, perasaan cemas semakin melanda hatinya.
Bella menatap Halwa dengan perasaan yang juga tak tenang, seperti bisa merasakan kecemasan wanita yang sudah dianggap saudara kandungnya sendiri.
"Lebih baik kamu bersih bersih, Wa!
Sholat dan habis itu siap siap, sebentar lagi periasnya pasti datang, kamu akan di dandani, ijabnya jam delapan kan?" Bella mengingatkan Halwa, karena jarum jam sudah menunjukkan pukul lima pagi lebih.
"Asalamualaikum." terdengar suara Monika dan Fira yang mengucap salam, mereka membawa kotak kotak bingkisan untuk di bagikan pada tamu dengan di bantu suami dan beberapa pemuda.
Halwa terharu, semua tetangga barunya begitu iklas membantu, ikut sibuk menyiapkan persiapan pernikahannya.
"Ya, Alloh! maaf sudah merepotkan begini." Halwa memeluk Monika dan Fira bergantian, serta mengatupkan kedua tangannya pada bapak bapak dan juga pemuda yang telah membantunya.
"Ah, mbak Halwa ini mulai deh! kita di sini itu sudah kayak keluarga, dan yang penting kita tidak merasa di repot kan kok!" sahut Fira dengan senyuman merekah.
"Kalau begitu kita akan bantu bantu di dapur, bapak bapak biar bantu nata kursi kursinya." sambung Monika dan di jawab anggukan saja para lelaki.
Semua tetangga dekat dan juga keluarga Bella begitu sibuk menyiapkan acara pernikahan Halwa yang akan berlangsung beberapa jam lagi, sedangkan Halwa sudah mulai di dandani oleh periasnya sejak pukul enam pagi tadi.
Rencana Ijah Qabul akan dilakukan di lakukan di masjid agung, beberapa bapak bapak dan papa nya Bella sudah berangkat lebih awal untuk menyiapkan tempatnya dan juga membawa bingkisan kotak makanan dan juga oleh oleh, untuk nanti di bagikan pada tamu undangan dan keluarganya Dafi.
Saat Halwa keluar dari kamarnya dengan riasan yang begitu sempurna di wajahnya, kebaya putih elegan yang melekat di tubuh sintalnya, terlihat sangat cantik dan begitu anggunnya.
Semua mata yang melihat langsung berdecak kagum dengan penampilan Halwa. Selama ini, Halwa hampir tidak pernah memoles wajahnya dengan make up, jadi saat di dandani Halwa terlihat begitu berbeda dan mangklingi, istilah orang Jawa.
"Wow, kaku cantik banget, Wa! sampai pangling aku." Monika menatap kagum pada Halwa yang tersenyum malu malu.
__ADS_1
Pun dengan semua yang ada memuji kecantikan Halwa hari ini.
"Bunda, cantik banget." Hasna memeluk bundanya erat dan meminta untuk di foto berdua, untuk kenang kenangan.
Hasna memakai gamis warna putih dengan hijab yang senada dari brand ternama, seragam dengan Bella dan juga teman teman Halwa yang lain, seperti Monika, Santi dan juga Fira.
"Sudah siapkan?
Kita berangkat sekarang. Biar suamiku yang bawa mobilnya!" Monika segera mengajak untuk berangkat menuju masjid agung karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih tiga puluh lima menit.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Sah! Sah!
Alhamdulillah!" acara ijab Qabul berjalan dengan lancar tanpa ada halangan sedikitpun, Dafi juga tidak sedikitpun ragu mengucapkannya.
Senyum bahagia terpancar di raut wajahnya yang tampan, saat mendekati wanita yang begitu dia cintai dan kini sudah halal untuknya di sentuh.
Tanpa ada yang menyadari, ternyata Yudha dan Bu Imah sudah ikut menyelinap diantara rombongan pengantin yang kembali menuju komplek perumahan Halwa dan akan mengadakan resepsi di sana.
Halwa memang memilih mengadakan acara di rumah saja, padahal Dafi sudah mengatakan ingin mengadakan acara resepsi di hotel atau menyewa sebuah gedung. Tapi Halwa menolaknya.
Mau tidak mau, Dafi mengikuti keinginan istrinya, mengadakan acara resepsi dirumahnya Halwa.
"Akhirnya kita bisa ikut masuk semudah ini, Bu!
Rencana ibu memang luar biasa.
Tak nggak kita cari waktu untuk mendekati Hasna." gumam Yudha dengan seringai liciknya.
__ADS_1
'Tapi ibu kecewa, Halwa jadi nikah dengan laki laki itu, harusnya sama kamu." sungut Bu Imah dengan wajah masamnya.
"Emang Yudha gak kecewa? Yudha gak terima, sakit hati banget malahan. Tapi kita gak bisa apa apa, Bu! karena tidak ada yang bisa kita gunakan untuk menggagalkan pernikahan mereka. Tapi semua pasti belum terlambat, asal Hasna adalah kita. Pasti Halwa akan dengan mudah kita kendalikan." Yudha tersenyum miring dan memakai kembali maskernya, serta mengenakan kopyah agar tak ada yang curiga jika itu dirinya.
Yudha melangkah bersama ibunya diantara para tamu dan keluarga dari Dafi memasuki pelataran tenda yang sudah di dekor sedemikian indahnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️