Pembalasan Istri Yang Terhina

Pembalasan Istri Yang Terhina
sepasang mata


__ADS_3

"Awas saja kalian, kalau Yudha sudah keluar dari penjara, kalian akan mendapatkan balasan yang setimpal. Aku tidak iklas kalau Halwa menikah dengan laki laki itu, enak saja. Harta Halwa dinikmati orang lain. Yudha jauh lebih berhak, karena kesuksesan Halwa saat masih jadi istri Yudha. Aku tidak akan tinggal diam, mereka harus gagal menikah. Dan Halwa harus menikah lagi dengan Yudha." Bu Imah terus bicara sendiri disepanjang jalan, tak perduli dengan tatapan dari para tetangganya yang melihatnya tak suka.


"Uh kesal sekali rasanya, sudah dibelain belanja habis banyak, ternyata Halwa sudah punya calon dan tidak perduli Yudha sama sekali.


Yudha harus segera keluar dari penjara. Biar dia yang urus masalah nya dengan Halwa, Yudha harus segera melancarkan rencananya." Bu Imah terus saja menggerutu dan bicara sendiri, sambil memindahkan semua barang belanjaannya ke dalam rumah.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


"Mas!" kok kesini gak bilang bilang dulu.


Mas Dafi gak ke kantor?" Halwa menatap lekat pada Dafi yang tengah tersenyum menatap dirinya.


"Ke kantor, tapi ini kan jam istirahat, perasaan aku gak enak, pingin ketemu kamu. Ternyata disini ada ibu mantan!" sahut Dafi santai sambil menatap pada Halwa yang langsung mengerutkan dahinya mendengar penuturan Dafi.


Halwa menghembuskan nafasnya dalam, menatap kosong, pikirannya kembali pada masa dia masih jadi menantu Bu Imah, berharap diperlakukan dengan baik dan diterima sebagai menantunya, tapi justru dirinya hanya dijadikan pembantu gratisan dan dipaksa memenuhi semua kebutuhan keluarga itu. Perasaan nyeri itu teras kembali di hati Halwa kala pikiran masa lalu kembali terekam.


"kok ngelamun?


Sudah, jangan dipikirkan, yuk kita makan siang bareng." Dafi berusaha membuat Halwa kembali ceria melupakan masa lalunya yang pahit.


"Dimana?" sahut Halwa lemah dengan wajah terlihat tak bersemangat.


"Kamu maunya makan apa?


Aku ngikut saja." sahut Dafi dengan menatap wajah cantik calon istrinya.


"Gak tau mas, apa saja boleh. Aku ngikut mas Dafi saja!" balas Halwa dengan membalas tatapan Dafi dengan senyuman tipis yang terukir di bibirnya.


"Yasudah, yuk!" Dafi tak ingin banyak menghabiskan waktu untuk berdebat soal tempat dimana menentukan pilihan makan.


Halwa masuk ke ruangannya, mengambil dompet dan juga ponselnya.


Mereka pergi bersama dengan naik mobilnya Dafi.


Dafi mencari rumah makan terdekat, aneka sambel dengan berbagai macam pilihan lauk pauknya.


Dafi sangat tau, kalau Halwa sangat menyukai makanan pedas, makanya Dafi membawa Halwa di salah satu rumah makan yang terkenal dengan kelezatan sambalnya.

__ADS_1


"Kita makan disini ya?


Kamu kan sangat menyukai yang pedas pedas, kamu bisa pesan aneka macam sambal yang ada disini."


"Iya, Mas! Makasih ya, kamu tau apa yang aku inginkan. Makan makanan pedas memang perlu untuk membuat hatiku kembali baik baik saja." sahut Halwa tanpa sadar mengeluhkan perasaannya dan membuat Dafi menahan senyum dengan tingkah Halwa yang unik.


"Kamu itu unik, masak makan pedas bisa kembalikan mood yang berantakan. Nanti kalau kamu jadi istriku, pas lagi marah, aku bikinin sambel yang pedas biar ilang marahnya." Dafi menggoda Halwa yang langsung terlihat memanyunkan bibirnya karena dari tadi Dafi terlihat senyum senyum melihat tingkah Halwa.


"Tau ah, mas Dafi sudah nyebelin." Halwa keluar dari mobil dan langsung mencari meja yang kosong.


Sementara Dafi masih dibuat tertawa dengan tingkah calon istrinya yang punya sisi unik.


"Kamu duniaku saat ini, Halwa!


Apapun tingkah dan sifatmu, bagaimanapun itu, aku akan selalu berusaha untuk memahaminya.


Karena aku mencintaimu apa adanya kamu. Kamu memang wanita yang unik dan tangguh!" Dafi bergumam sendirian sambil memarkirkan mobilnya, lalu menyusul Halwa masuk kedalam rumah makan yang terlihat sangat bersih tempatnya.


Benar saja, Halwa sudah memesan beberapa macam sambel dan lauknya, Dafi hanya ikut saja dengan apa yang Halwa mau. Dan berusaha untuk menyenangkan hati calon istrinya, agar moodnya kembali lagi.


"Sudah ya, aku takut perut kamu sakit, karena kebanyakan makan sambel." sambung Dafi dengan mimik khawatir.


"Gak perlu cemas, mas! aku sudah biasa makan sambel kayak gini dari kecil. Alhamdulillah perutku baik baik saja kok selama ini. Percayalah!" Sahut Halwa jujur, karena memang Halwa sudah terbiasa makan sambel dalam jumlah banyak, mungkin bagi yang tak biasa terlihat berlebihan, namun bagi Halwa sudah hal yang biasa, karena sejak kecil Halwa sudah suka dengan makanan pedas.


"Baiklah, aku percaya!


Tapi kok ngeri lihat kamu makan sambel sampai segitu banyaknya. Aku saja sudah kepedasan." balas Dafi yang masih menatap Halwa khawatir.


"Insyaallah gak papa, ini belum seberapa. Biasanya aku kalau bikin sambel sendiri, lebih keras dari ini." sahut Halwa mengatakan kebiasaannya, dan membuat Dafi membulatkan matanya tak percaya.


"Nanti kalau aku jadi suami kamu, apa aku akan di masakin sepedas itu?" Dafi menatap dalam pada Halwa yang langsung tersenyum lebar dengar pertanyaan yang dilontarkan olehnya barusan.


"Gak lah mas! aku paham kok, kalau mas Dafi gak doyan pedas, Hasna juga gak suka pedas.


Ya nanti masaknya sendiri sendiri, gak masalah buat aku. Jangan khawatir, aku gak akan meracuni kamu sama cabe kok, mas!" Halwa tertawa dengan apa yang baru saja ia katakan, demikian juga dengan Dafi yang ikut tertawa dan menggelengkan kepalanya dengan jawaban Halwa.


Mereka sangat menikmati momen kebersamaan, sudah tidak lagi ada rasa canggung seperti awal awal pertemuan. Halwa maupun Dafi sudah sama sama merasa nyaman dengan satu yang lain.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata uang menatap penuh benci ke arah mereka.


Mata yang sedari tadi tak pernah lepas dari memperhatikan keberadaan Halwa dan Dafi.


Kebencian dan rasa tak sukanya kian menggerogoti hati wanita yang dilanda rasa cemburu yang begitu hebatnya.


Ada rasa tidak terima dan ingin menghancurkan hubungan diantara Dafi dan Halwa, bagaimanapun caranya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️

__ADS_1


__ADS_2