
"Sombong sekali kamu, Halwa!
Kamu akan menyesal karena sudah menolak niat baikku dan juga Yudha. Tidak ada laki laki yang mau dengan perempuan janda kayak kamu, harusnya kamu mikir itu, bukannya malah sok sok an menolak, apa mau kamu jadi janda selamanya?" sungut Bu Imah emosi dengan tatapan sinis ditujukan ke arah Halwa yang hanya diam tanpa ekspresi.
"Kata siapa Halwa akan jadi janda selamanya?"
Tiba tiba ada suara bariton yang tidak asing di telinga Halwa muncul, membuat Halwa tersenyum dan Bu Imah terperangah menatap kedatangan laki laki tampan dengan pakaian rapinya khas orang kantoran.
Sampai Bu Imah membuka mulutnya lebar dan matanya tak berkedip menatap pesona laki laki yang kini tengah berdiri di samping Halwa dengan senyuman yang memabukkan bagi siapa saja yang melihatnya.
"Kami akan menikah dalam waktu dekat.
Halwa akan jadi istriku!
Mulai sekarang, tolong jangan usik calon istriku dengan tawaran anda itu!" Dafi bicara dengan sangat tegas, matanya fokus menatap Bu Imah yang masih terkejut dan terpesona dengan kehadiran Dafi.
"Kamu siapa?" tanya Bu Imah terbata. Rasanya tak percaya kalau Halwa akan menikah d Ngan laki laki sekeren Dafi.
"Perkenalkan, saya Dafi! Calon suami Halwa!
Bukan begitu sayang?" Dafi menjawab dengan santainya, dan mengalihkan pandangannya ke Halwa yang tengah tersipu dengan sikap Dafi yang romantis.
Halwa mengangguk dengan malu malu saat Dafi menatapnya penuh binar kekaguman akan sosok perempuan yang akan dinikahinya.
"Kalian akan menikah?
Ini tidak benar! Tidak mungkin!
Mana mungkin Halwa dapat suami seganteng ini. Kalian sedang ingin menipuku kan?" sahut Bu Imah masih tak percaya dengan jawaban dari Dafi.
"Percaya silahkan!
Gak mau percaya juga silahkan!
Kami tidak punya kewajiban untuk menjelaskan pada ibu tentang hubungan kami. Yang pasti kami akan menikah dalam waktu dekat ini." kembali Dafi membalas ucapan Bu Imah dengan santainya. Namun matanya selalu menatap pada Halwa yang hanya menunduk malu. Membuat Dafi semakin tak sabar untuk menghalalkan wanitanya.
"Jadi, beneran kamu tidak ingin kembali sama Yudha, Halwa?" Bu Imah menatap Halwa dengan perasaan kecewa, harapannya untuk kembali membuat Halwa jadi menantunya dan ladang uang bagi keluarga nya musnah. Halwa sudah memiliki calon sendiri, yang lebih mapan dan juga tampan. Yudha kalah telak dari Dafi dalam segala hal.
"Aku kecewa datang dan baik sama kamu. Ternyata kamu perempuan gampangan. Baru saja cerai sudah gatal mau nikah lagi. Amit amit jadi perempuan!" sungut Bu Imah pada akhirnya, setelah dapat menguasai keterkejutannya,. Bu Imah kembali pada sifat aslinya yang menyebalkan.
Halwa mengerutkan wajahnya mendengar ucapan mantan mertua nya yang sarat dengan kebencian.
__ADS_1
Sedangkan Dafi sudah dibuat emosi dengan ucapan penghina yang dilontarkan Bu Imah pada Halwa.
"Jaga ucapanmu, Bu!
Jangan karena Halwa tidak Sudi kembali dengan anak ibu, ibu jadi melontarkan kata kata hinaan kepada Halwa.
Halwa tidak salah apa apa, dan Halwa juga tidak punya kewajiban untuk menuruti keinginan anda!
Kenapa anda harus marah dan menghina Halwa?" sahut Dafi tak terima Halwa di hina oleh Bu Imah.
"Kamu sudah dikasih apa sama Halwa?
Kok sampai bela dia segitunya. Halwa dan Yudha sudah punya anak, Hasna sudah tumbuh jadi anak gadis. Wajar sebagai neneknya aku meminta mereka rujuk, karena semua demi kebaikan dan keselamatan Hasna.
Kalau sama bapak baru, bisa saja keselamatan Hasna terancam." sahut Bu Imah dengan nada sinis, menatap tak suka pada Dafi yang justru tersenyum menatap Bu Imah.
"Apa maksud ibu, saya akan melakukan perbuatan sehina itu?
Saya mencintai Halwa jadi saya juga harus menerima Hasna sebagai anak saya, bagi saya Halwa sudah cukup menyejukkan hati dan membuat saya jatuh cinta. Jadi tidak perlu khawatir kalau saya akan menyakiti ataupun berbuat buruk sama Hasna, itu tidak akan pernah terjadi. Karena saya masih punya iman dan hati nurani." jawab Dafi tenang, namun dengan nada yang penuh penekanan.
'Heleh, itu kan sekarang.
Nanti kalau ada kesempatan, siapa yang tau!" sungut Bu Imah tak mau kalah, membuat Dafi sedikit terpancing emosi. Tapi Halwa buruan menenangkan Dafi dengan mengusap lembut lengannya.
Lagian Halwa sudah bertunangan dan kami akan menikah dalam waktu dekat ini. Hasna sudah merestui kami dan dia tidak keberatan sama sekali.
Hasna anak yang pintar dan cukup cerdas dalam menilai sesuatu. Jadi ibu tidak usah khawatir." kembali Dafi mengeluarkan kalimat penekanannya, agar Bu Imah tidak lagi memperumit dengan sikapnya itu.
"Sejak kapan ibu perduli pada Hasna?
Bukankah dari Hasna lahir, ibu dan juga mas Yudha menolaknya.
Kenapa baru sekarang ibu seolah perduli dengan nasib putriku?" sahut Halwa yang sudah tak tahan dengan ocehan Bu Imah yang seolah olah perduli dengan nasib Hasna, yang bahkan kehadirannya tidak pernah mereka anggap ada.
Bu Imah gelagapan dengan pertanyaan Halwa.
Dan berusaha untuk mencari jawaban yang pas untuk mempertahankan egonya.
"Hey, kamu lupa ya?
Hasna itu juga cucuku, wajar aku perduli padanya. Terutama keselamatannya." sahut Bu Imah dengan nada sombong, matanya tertuju pada Dafi yang hanya diam memperhatikan.
__ADS_1
"Oh cucu ibu?
Tapi kenapa ibu tidak pernah menggendong Hasna sewaktu dia masih bayi?
Bahkan ibu selalu marah marah saat mendengar tangis Hasna.
Padahal ibu tau, Hasna sedang lapar karena susunya habis. Sedangkan yang gaji mas Yudha ibu semua yang pegang. Apakah itu yang ibu namanya perduli?" jawab Halwa mengingatkan kisah masa lalunya, rasa sakit di hatinya masih begitu terasa oleh perlakuan jahat mertuanya.
Bu Imah terdiam, tidak menyangka kalau Halwa akan mengungkit semua itu. Niatnya ingin memojokkan justru dia sendiri yang terpojokkan.
Dengan hati kesal Bu Imah meninggalkan perdebatannya dengan Halwa. Karena memang dialah yang terlihat salah.
Bu Imah meninggalkan toko dengan emosi meletup letup, mulutnya terus mengomel tidak berhenti. Segala sumpah serapah dan kebencian terlontar dari bibir perempuan setengah baya yang berjalan menyusuri gang menuju rumahnya d Ngan perasaan marah.
"Awas saja kalian, kalau Yudha sudah keluar dari penjara, kalian akan mendapatkan balasan yang setimpal. Aku tidak iklas kalau Halwa menikah dengan laki laki itu, enak saja. Harta Halwa dinikmati orang lain. Yudha jauh lebih berhak, karena kesuksesan Halwa saat masih jadi istri Yudha. Aku tidak akan tinggal diam, mereka harus gagal menikah. Dan Halwa harus menikah lagi dengan Yudha." Bu Imah terus bicara sendiri disepanjang jalan, tak perduli dengan tatapan dari para tetangganya yang melihatnya tak suka.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️