
"Saat ini mungkin mereka tengah malu, atau bahkan tengah marah karena ayah berhasil menjebaknya." Sambung pak Suko dengan senyuman lebar, membuat penasaran semua yang ada diruangan.
"Maksudnya ayah?
Menjebak, menjebak gimana?" Candra semakin penasaran, dan meminta ayahnya menjelaskan maksud dari ucapannya.
Ayah memancing Tria dengan meletakkan perhiasan palsu di kotak perhiasan milik mama kalian.
Sedangkan yang asli, sudah ayah simpan di temuan yang aman!" sahut pak Suko tersenyum, dan membuat candra geleng gelang kepala , ayahnya ternyata juga pandai dan cerdik mengelabui wanita serakah itu.
"Mungkin mereka berpikir kalau akan aman aman saja setelah keluar dari rumah ini, karena bermimpi dapat uang banyak dengan menjual perhiasan itu, tapi ternyata itu palsu." sambung pak Suko meneruskan ceritanya. Membuat kedua anaknya tertawa geli dengan cerita ayahnya.
"Pasti sekarang mereka sedang merencanakan sesuatu untuk membalas sakit hatinya. kita harus hati hati!" sahut Candra yang sudah hafal seperti apa sifat Wati dan ibunya itu.
"Iya, entah apa yang akan mereka lakukan.
Tapi sepertinya mereka juga sedang bingung karena terbiasa hidup enak dan sekarang harus susah di luar sana. Biar mereka berpikir kalau hidup itu tidak mudah!" balas pak Suko santai dan dibalas anggukan oleh Candra juga Hanifah.
"Yang penting sekarang mereka sudah tidak lagi tinggal disini dan ayah sudah lepas dari jeratan mereka. Kita bisa ngumpul lagi, itu yang penting." Hanifah ikut menimpali dan tersenyum haru menatap sang ayah yang sangat di sayanginya.
"Iya nak, kamu benar!
Biar mereka mendapat karmanya atas apa yang sudah mereka perbuat." balas pak Suko yang tersenyum dan kembali menyendok kan kolak kacang hijau ke dalam mulutnya.
"Bibi sudah membersihkan kamar kalian, semua sudah bibi ganti dan kembalikan seperti semula. Kalau mau istirahat semua sudah siap." sahut Bi Sumi ikut angkat bicara.
Dari semalam bi Sumi sudah sibuk membersihkan kamar Hanifah yang selama ini di tempati Wati, dan kamar Candra yang digunakan Wati untuk menaruh barang barangnya yang sudah tidak terpakai. Bu Sumi sudah membersihkan dan menyulap menjadi seperti semula. Sangking senangnya dengan kembalinya candra dan Hanifah.
"Terimakasih, Bi! Bi Sumi selalu keren pokoknya!" balas Hanifah senang dan merangkul bi Sumi sayang.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara di kontrakan Wati merasa gerah karena ruangan yang sempit.
"Sial, kenapa kita harus keluar dari rumah itu, Bu?
Wati gak bisa istirahat, pengap disini!" protes Wati yang tak bisa tidur, merasa pengat dan gerah.
Wati sampai hanya menggunakan baju dalam nya saja. Sangat tersiksa.
"Kamu sabar sedikit kenapa sih, Wat?
Bisanya cuma protes saja!
Emang ibu juga betah tidak nggak disini?
__ADS_1
Mau gimana lagi, dari pada kita tidur di pinggir jalan." sahut Bu Tria kesal dengan anaknya yang terus saja mengomel.
"Sebenarnya apa sih rencana ibu?
Kenapa tidak sekarang saja ibu melakukan rencana ibu itu?
Wati gak betah kalau terus tinggal di tempat sempit ini!" sahut Wati yang tak mau kalah.
"Ibu mau nyebarin Vidio itu ke YouTube, cari orang yang mau membelinya dengan harga mahal. Biar tua Bangka itu kapok, karena sudah berani mengusir kita. Dia akan malu dan nama baiknya tercemar, itu akan jadi beban di sisa hidupnya." sahut Bu Tria dengan dada bergemuruh, masih sakit hati dengan perlakuan pak Suko yang sudah mengusirnya tanpa memberinya uang yang cukup.
"Kalau kita di tuntut bagaimana? mereka punya uang banyak, apalagi Dafi itu orang yang pintar!" sahut Wati ragu, takut kalau ibunya akan dipenjara karena sudah menyebarkan Vidio porno dirinya dengan pak Suko.
"Itu tidak akan terjadi, ibu sudah memikirkan semuanya. Kamu tenang saja.
Sekarang kira tidur, besok ibu mau pergi menemui teman ibu yang mau beli Vidio ini dengan harga yang lumayan mahal.
Kamu rayu pemilik kontrakan, ambil uangnya, manfaatin dia." tegas Bu Tria dan di iyakan Wati, dengan terpaksa Wati merebahkan tubuhnya meskipun dirinya sangat tidak nyaman.
Wati bertekad akan merayu pemilik kontrakkan dan minta untuk diberi rumah yang layak dan nyaman.
Wati sudah tidak perduli lagi dengan dirinya, lagian Wati juga sudah tidak virgin, Wati pernah melakukan hubungan intim dengan mantan pacarnya dulu, lalu pacarnya meninggalkan Wati begitu saja setelah bosan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Pagi pagi Jarwo, menjerit kepanasan, seluruh tubuhnya terasa terbakar, bahkan lehernya seperti ada yang mencekik.
"Mas! Mas Jarwo kenapa?
Kenapa tiba tiba seperti ini mas?
Ya Alloh kenapa dengan mas Jarwo?" Isak Asih histeris dan bingung, karena semalam Jarwo masih sehat dan baik baik saja, tapi tiba tiba seperti ini saat bangun tidur.
Asih panik dan meminta bantuan pada tetangganya.
Pak Rustam, tetangga sebelah, datang ikut kerumah asih untuk melihat keadaan Jarwo
Pak Rustam membeliakkan matanya, melihat keadaan Jarwo yang tidak wajar.
"Wah ini ada yang tidak beres!
Mbak Asih atau mas Jarwo punya musuh?" ucap pak Rustam serius, pak rustam sangat paham ciri ciri sakit yang ada pada Jarwo.
"Gak ada pak, tapi akhir akhir ini, mas Jarwo sedang ada masalah dengan keluarga mantan istrinya." Sahut Asih hati hati dan tak bisa membendung air matanya melihat keadaan suaminya yang semakin parah.
"Baiknya, kita panggil ustadz Roziq.
__ADS_1
Mas Jarwo harus segera ditolong!" pak Rustam menyarankan dan akan pergi sendiri untuk meminta bantuan salah satu orang yang sangat disegani. Dan sebelum pergi, pak Rustam meminta istrinya untuk menemani Asih.
Warga yang mendengar suara tangis asih dan jerit kesakitan Jarwo pada heboh keluar rumah dan berbondong bondong kerumah Jarwo untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Yang sabar mbak Asih, insyaallah mas Jarwo akan selamat, kita tunggu ustad Roziq!
Mari kita baca Alquran sama sama. Agar mas Jarwo tidak semakin kesakitan." Bu Ririn berusaha menenangkan Asih yang histeris dan menemaninya agar kuat menghadapi ujian yang saat ini menimpa suaminya.
Kasak kusuk warga kian santer, mereka saling menerka, dan banyak yang mengira Jarwo kena kiriman dari musuhnya.
Ibu ibu kasihan melihat Asih yang terus menangis.
"Apa mbak Asih semalam tidak mendengar sesuatu dirumah mbak?" tanya seseibuk yang merupakan tetangga kontrakan.
Asih menggeleng dan mencoba mengingat sesuatu.
"Biasanya, orang yang mengirim ilmu untuk menyakiti lawan, akan menanam sesuatu tak jauh dari sekitar rumah.
Tapi baiknya kita tunggu dulu pak Rustam dan ustadz Roziq." sahut bapak bapak yang ikut datang melihat keadaan Jarwo.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️