
"Ini uang jajan dan juga uang lesnya. Simpan baik baik, jangan sampai hilang.
Amplop satunya berikan pada adikmu. Hari Minggu ajaklah dia kerumah, ayah kangen sekali dengan kalian." Pak Suko menatap rindu pada anak laki lakinya.
Candra langsung memasukkan amplop pemberian ayahnya ke dalam tas, sebelum ibu tirinya melihatnya dan akan jadi masalah. Candra bukannya takut, tapi malas ribut dengan orang yang tidak tau malu seperti Bu Tria dan Wati.
Benar saja, tak berselang lama setelah Candra memasukkan amplop ke tasnya, Bu Tria muncul bersama Wati dengan tatapan sinisnya. Dulu Candra takut dan pasti akan langsung menunduk.
Tapi kini dia sudah dewasa dan paham seperti apa keadaan yang sesungguhnya. Candra justru tak perduli sama sekali dengan kehadiran ibu tiri dan kakak tirinya itu, terus memakan nasi dalam piringnya dengan sangat lahap.
"Wah, enak ya, datang datang langsung makan. Gak tau malu sama sekali!" sindir Wati dengan tatapan benci pada Candra yang memilih tak perduli dengan ucapannya.
Sedangkan pak Suko tidak merespon sama sekali, tetap memilih makan dengan santai, karena tau, kalau Candra sudah dewasa dan tau bagaimana caranya menghadapi Wati dan ibunya.
"Kalian ini, gak sopan sama sekali.
Kalian anggap kami ini apa, hah?
Makan tidak permisi, kami ngomong juga tidak dianggap!" teriak Bu Tria tersulut emosi karena kehadiran dan ucapan dari Wati tidak direspon sama sekali oleh pak Suko maupun Candra.
Candra mengangkat wajahnya, menatap Wati dan ibunya bergantian dengan wajah datarnya.
Lalu mengambil air dalam gelas dihadapannya dan meneguknya hingga tandas. Masih bersikap cuek dengan keberadaan Wati dan ibunya, tak perduli sama sekali.
"Lihat anakmu, Mas!
Dia tidak menghargai ku sama sekali.
Itulah hasil didikan di keluarganya kakakmu.
Membuat dia tidak menghargai orang tua dan bersikap seenaknya!" sungut Bu Tria emosi dan hanya ditanggapi senyuman miring di bibir pak Suko.
"Kenapa kamu seolah tersenyum meremehkan begitu, mas?
Apa aku salah, kalau aku ingin dihargai anak kamu!" Bu Tria tidak terima dengan sikap pak Suko yang terkesan meremehkannya.
"Wong anakmu sendiri saja tidak bisa menghargai kamu, kenapa anakku harus menghargai kalian?
Candra pulang kesini, karena ini adalah rumahnya. Mau dia makan atau bahkan dia mengusir kalian, itu haknya dia. Karena rumah ini miliknya.
Jadi jaga sikap kalian dan terutama kamu, Wati! hati hati dengan mulutmu itu, kamu bukan siapa siapa dirumah ini!" suara pak Suko meninggi, meluapkan amarah yang selama ini hanya disimpannya, dan sekarang sudah tidak ada lagi yang dia takuti dengan ancaman Bu Tria kalau akan menyebarkan Vidio porno nya, karena dulu pak Suko dijebak dalam keadaan mabuk dan melakukan hubungan badan dengan Bu Tria, semua itu dimanfaatkan Bu Tria dengan mevidiokan adegan ranjang mereka.
Sekarang merasa sudah tua, dan hartanya sudah aman karena sudah berpindah nama anak anaknya, dan mereka juga sudah nyaman tinggal sementara waktu dengan keluarga kakaknya.
"Apa?
__ADS_1
Kamu bicara kasar padaku, mas?
keterlaluan kamu!
Apa kamu lupa, kalau aku masih memegang Vidio itu, kamu ingin aku menyebarkannya dan membuat kamu malu." Bu Tria berusaha membuat pak Suko gentar dengan ancamannya.
Namun justru pak Suko tidak perduli sama sekali.
"Sebarkan saja, aku sudah tidak peduli lagi.
Aku sudah tua, dan hartaku juga sudah aman di tangan Dafi. Lagian di Vidio itu bukan hanya aku, tapi juga kamu. Sebarkan saja sesuai dengan keinginan kamu itu. Aku sudah tidak perduli!" sahut pak Suko abai dan memilih pergi meninggalkan Tria dan Wati yang shock mendengar jawaban dari pak Suko yang tidak pernah diduganya.
"Bu, gimana ini?
Sepertinya suamimu itu sudah tidak mempan lagi dengan ancaman ibu!
Kalau dia menceraikan ibu gimana?
Kita mau tinggal dimana?" Wati cemas dan langsung lemas dengan sikap pak Suko yang berubah berani menentang ibunya, bahkan ancaman yang selama ini digunakan untuk membuat pak Suko tidak berkutik, sudah tidak mempan lagi.
"Sial!
Kenapa jadi begini, kita belum dapat apa apa, tapi sudah kalah duluan. Kamu harus bisa mendapatkan Dafi apapun caranya, Wat! karena itu satu satu cara buat kita tetap di keluarga ini dan bisa menikmati kemewahan mereka." Bu Tria langsung mengusap wajahnya, menatap lekat pada putrinya yang terlihat cemas dan pias.
Candra tersenyum melihat ayahnya yang kembali bersikap tegas seperti dulu. Ancaman itu kini sudah tidak berpengaruh sama sekali bagi pak Suko.
Sikap tegas ayah pasti membuat mereka shock dan tidak lagi berkutik.
Jangan mau lagi di tindas karena ancaman itu, ayah!
Ayah harus tegas dan berani melawan mereka.
Beri mereka pelajaran dan jangan turuti lagi kemauan mereka. Biar mereka kalang kabut karena hidup susah!" Candra menatap lekat pada ayahnya yang hanya diam dengan ocehannya.
Pak Suko tau kalau selama ini terlalu lemah menghadapi sikap semena mena Wati dan ibunya itu, hanya karena takut kalau Vidio nya disebar dan menjatuhkan harga diri dan mama baiknya yang jadi taruhannya.
"Ayah sudah bersikap salah selama ini.
Terlalu lemah menghadapi Perempuan itu.
Harusnya ayah melawan dari dulu. Karena mempertahankan harga diri ayah, ibumu harus meninggal karena tidak sanggup dengan kehadiran mereka. Maafkan ayah!" sahut pak Suko dengan suara bergetar, Candra memeluk ayahnya yang bahunya sudah terguncang karena isakan.
"Sudahlah ayah, itu sudah takdir.
Yang penting, sekarang ayah harus berubah tegas dan jangan mau diperalat mereka.
__ADS_1
Mereka punya niat jahat pada mas Dafi, Ayah!"
Candra menenangkan ayahnya dan memberitahu niat jahat mereka pada Dafi.
Pak suko geram saat mengetahui rencana mereka terhadap Dafi, keponakan kesayangannya.
Candra mengirimkan rekaman suaranya Bu Tria dan Wati ke ponsel ayahnya.
"Apa kamu sudah mengirimkan ini ke Dafi, nak?" tanya pak Candra menegang, rahangnya mengeras, geram dengan dua perempuan ular yang ada dirumahnya, otaknya hanya ada uang dan uang saja. Sehingga bisa menghalalkan segala cara demi ambisinya itu.
"Sudah, tadi Candra langsung mengirimkan rekaman itu pada mas Dafi. Dan mas Dafi berterimakasih, semoga mas Dafi bisa lebih waspada dengan sikap mereka.
Aku juga akan ikut mengawasi tingkah wanita itu.
Aku gak iklas kalau dia menggagalkan pernikahan mas Dafi dan mbak Halwa, mbak Halwa itu baik dan sangat lembut. Mas Dafi berhak bahagia, karena mas Dafi sangat mencintai mbak Halwa.
Aku tidak akan membiarkan si Wati menghancurkan impian mas Dafi!" Candra mengepalkan kedua tangannya, tak rela kalau sampai Wati menjadi duri dalam kebahagiaan Dafi yang sudah Candra anggap sebagai kakak kandungnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1
Happy ending ❤️