
Tiga bulan berlalu sejak kejadian itu.
Bu Imah tak lagi berani mengusik setelah Halwa bertindak tegas. Halwa memutuskan untuk bersikap tega agar tidak terus dimanfaatkan dan Bu Imah biar tak semakin bersikap seenaknya saja.
Tak lagi Sudi memberi bantuan apapun, sehingga Bu Imah yang terbiasa hidup enak akhirnya kalang kabut dan mendatangi anaknya dipenjara, mengeluhkan nasibnya yang terlunta lunta dan sering kelaparan karena tak punya uang untuk membeli sembako dan bayar listrik.
Yudha yang merasa iba dengan nasib ibunya, tak bisa berbuat apa apa selain pasrah dan menyarankan untuk menjual rumahnya saja, untuk membiayai kebutuhan hidup ibunya sementara saat dia masih menjalani hukumannya di penjara.
"Ibu jual saja rumah yang sekarang kira tempati, terus ibu cari kontrakan yang murah, lebihnya uangnya simpan di bank dulu. Ambil sedikit sedikit cukup untuk kebutuhan ibu sehari hari, yang penting ibu gak kelaparan dan susah kayak gini.
Setelah Yudha keluar dari penjara, Yudha janji akan bekerja dan mengembalikan keadaan kita yang seperti dulu, nyaman dan hidup cukup." sahut Yudha tenang, saat ibunya mengeluh tak punya uang dan gak tau harus bagaimana.
"Ini semua gara gara mantan istri kamu itu, dia terlalu sombong karena sudah merasa kaya.
Kalau saja dia menerima ibu ikut tinggal bersamanya, ibu gak akan seperti saat ini.
Dasar perempuan gak tau balas budi di Halwa itu, awas saja, ibu akan membalasnya." sungut Bu Imah yang justru menyalahkan Halwa dengan keadaannya yang susah, padahal Halwa tidak tau apa apa dan tak ada sangkut pautnya sama sekali dengan masalah nya.
"Sudahlah Bu, itu kita pikirkan nanti. Yudha akan mencari cara untuk bisa kembali lagi pada Halwa dan kita akan terjamin masalah keuangan, ibu gak usah khawatir, Halwa itu cinta mati sama Yudha. Buktinya dia belum juga menikah lagi." Balas Yudha dengan sangat percaya diri.
"Iya, kamu harus bisa mendapatkan hati Halwa kembali. Buat dia tunduk dan bertekuk lutut sama kamu kayak dulu. Ibu lelah hidup susah kayak gini." sahut Bu Imah mendukung rencana sang anak, seolah mudah mendapatkan kepercayaan hati perempuan yang pernah terluka oleh sikap dan perbuatan nya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan di lain tempat, Halwa tengah mengetik cerita di laptopnya, fokus dengan alur yang tengah dibuatnya, menceritakan tentang kehidupan seorang istri yang selalu di usik oleh mantan suaminya. Tekanan Dari Mantan Suami cerita bersambung yang tengah ia ketik.
Saat sedang fokus tiba tiba ponsel miliknya bergetar dan menampilkan foto laki laki tampan yang tengah tersenyum, Dafi tengah menghubunginya lewat panggilan watshap.
"Mas Dafi?
ada apa ya, kok tumben telpon Jam segini, bukankah ini masih jam kerja." Halwa mengernyit menatap layar ponselnya yang dipenuhi oleh foto Dafi yang tersenyum begitu tampannya.
__ADS_1
"Hallo Asalamualaikum." Halwa mengucapkan salam membuka obrolan dengan laki laki yang langsung tersenyum saat mendengar suaranya diseberang sana.
"Waalaikumsallm, Alhamdulillah di jawab juga." balas Dafi dengan suaranya yang terdengar senang.
"Ada yang bisa saya bantu, Mas?
Tumben jam kerja bisa telpon gini?" sahut Halwa langsung tanpa mau banyak basa-basi.
"Iya! aku lagi ada tugas lapangan ini, makanya bisa curi waktu buat telpon kamu." balas Dafi jujur, karena .emang dia sedang ada kerjaan diluar kantor, ada meeting dengan klien yang akan mengambil perumahan di mana Halwa juga mengambilnya tapi Halwa membelinya secara cash.
"Owh gitu!" sahut Halwa bingung harus bagaimana menimpali ucapan Dafi. Kaku dan terkesan seperti dipaksakan, karena memang Halwa bukan tipe orang yang mudah beramah tamah dengan laki laki.
"Aku boleh ngomong sesuatu?" balas Dafi mengumpulkan keberanian akan niatnya untuk mengulang kembali lamarannya yang sempat tertunda karena dulu Halwa masih masa Iddah.
"Boleh, silahkan!" sahut Halwa dengan dada yang langsung berdebar, entah kenapa perasaan nya mendadak tak karuan.
"Aku akan mengulang kembali niatku untuk melamar kamu secara sah dengan orang tuaku, bukankah sekarang kamu sudah lepas dari masa Iddah, benar begitu?" Balas Dafi yakin padahal dadanya tengah bergemuruh begitu hebatnya.
"Iya, Mas! masa Iddah aku sudah berakhir dari tiga Minggu yang lalu.
Aku ini janda yang sudah punya anak gadis loh.
Dan aku juga bukan perempuan dari keluarga kaya, aku juga sudah tidak punya orang tua, hidupku sebatang kara. Apa kamu sudah benar-benar siap dengan keadaanku yang seperti ini?" sahut Halwa yang mengatakan kebenaran tentang dirinya Tania sedikitpun dikurangi atau ditambahi.
Halwa benar benar ingin memastikan siapa laki laki yang akan menikahinya, tulus atau hanya sekedar modus. Karena tak ingin gagal lagi dalam berumah tangga.
"Insyaallah aku sudah yakin dan memantapkan hati dengan pilihanku ini. Aku yakin, kamu itu wanita yang luar biasa, tangguh dan sangat mandiri. Tapi tujuanku bukan karena itu, aku kagum dengan keteguhan dan ketegasan kamu. Aku bahkan tak perduli dengan masa lalu dan hartamu. Aku tulus menyukaimu, Halwa.
Menikahlah denganku, karena aku akan berikan kebahagiaan dan kenyamanan untukmu juga anak mu, insyaallah gajiku tidak akan mengecewakan kamu. Insyaallah bisa mencukupi kebutuhan kita.
Maaf, aku mengatakan ini bukan bermaksud apa apa, aku hanya sekedar ingin kamu tau, bahwa aku akan bertanggung jawab penuh padamu dan juga putrimu, itu saja." balas Dafi panjang lebar dengan terus meyakinkan pada Halwa tentang ketulusan niatnya dalam mencintai dan menyayanginya.
__ADS_1
Halwa menatap lekat pada jendela kamarnya yang terbuka, memejamkan matanya, mencari jawaban di sudut hatinya. Karena bagaimanapun ini tentang nasibnya ke depan. Sekali saja salah menentukan pilihan, hidupnya pasti akan kembali tak baik baik saja. Apalagi ada Hasna yang sudah beranjak dewasa dan mulai memahami apa itu hidup dalam kehidupan ini.
"Aku akan bicarakan dulu pada putriku, karena ini bukan tentang hidupku lagi, tapi juga tentang perasaan dan kenyamanan anakku.
Dan apakah Mas Dafi juga sudah bicara pada keluarga Mas, tentang siapa diriku?
Karena aku gak mau, nantinya akan ada masalah hanya karena status dan kasta.
Aku ingin punya kehidupan yang tenang dan nyaman dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Aku yakin Mas Dafi paham dengan yang aku maksud ini!" sahut Halwa pada akhirnya. Tak mau serta Merta langsung mengiyakan Tania meminta persetujuan sang anak dan juga tak mau menutupi keadaannya pada keluarga Dafi yang sudah ia tau jika Dafi dari keluarga yang cukup terpandang di kampung nya.
Terkadang cinta tak memandang kasta seseorang, hati jika sudah bicara, keyakinan dan keinginan seolah harus berjalan sesuai harapan.
Cinta itu tidak rumit, yang rumit adakah segala aturan yang kadang dibuat buat untuk membuat rumit sebuah hubungan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
Happy ending ❤️