
Tak lama kemudian mobil polisi datang, Yudha dan ibunya diserahkan ke pihak berwajib.
Sedangkan Hasna langsung di bawa kerumah sakit terdekat.
"Maafkan bunda sayang, maaf!" Halwa terus saja mendekap tubuh putrinya, air mata terus mengalir membasahi wajah cantiknya.
Mobil yang di kendarai Dafi sudah sampai di salah satu rumah sakit terdekat, tanpa diminta Dafi langsung membopong tubuh putri sambungnya dengan wajah cemas.
Perawat langsung bergerak cepat dan membaringkan tubuh lemas Hasna di ranjang, Bukan karena luka yang memuat Hasna lekas dan shock tapi perbuatan ayah juga neneknya yang begitu tega mencelakai dirinya.
Jiwanya benar benar terguncang dan sakit dihatinya semakin membuatnya membenci ayah dan neneknya.
"Gimana keadaan anak saya dok?" tanya Halwa saat Dokter selesai memeriksa keadaan Hasna.
"Luka nya tidak terlalu parah Bu, insyaallah setelah minum obat pereda nyeri, putri ibu akan baik baik saja, dan kami pun juga sudah menutup lukanya dan tak ada yang serius.
Tapi sepertinya putri ibu mengalami shock dan juga trauma. Dampingi dan buat dia merasa nyaman, ya Bu!" balas dokter yang menangani Hasna dengan ramah.
Halwa menarik nafasnya dalam, sedikit lega karena putrinya tidak terluka parah karena perbuatan Yudha.
"Sayang, ada bunda! Hasna jangan takut lagi ya!" peluk Halwa menghampiri putrinya yang masih bergeming dan menatap kosong.
Dafi memilih diam dan membiarkan ibu dan anak itu saling berpelukan, sedangkan dokter sudah berlalu pergi untuk memeriksa pasien yang lain.
"Ayah jahat, bund! Dia jahat!
Hasna benci, Hasna tidak mau punya ayah kayak dia! huhuhuu" Hasna menangis histeris dan di peluk erat oleh Halwa, berusaha memberi ketenangan dan kenyamanan untuk gadis remajanya.
"Bunda janji, akan melindungi kamu nak!
Dan kejadian ini, tidak akan terulang lagi.
Ayah juga nenek sekarang sudah di tangani pihak berwajib, semoga mereka tidak membuat ulah lagi." sahut Halwa sambil mengusap rambut putrinya sayang.
"Kita akan pindah kerumah papa setelah ini, disana jauh lebih aman untuk kalian.
Kamu gak keberatan kan sayang, pindah kerumahku?" tanya Dafi penuh harap, niatnya untuk melindungi Halwa dan Hasna begitu kuat, tak ingin kecolongan lagi dengan sikap nekad keluarga mantan suaminya Halwa.
"Lalu bagaimana dengan rumahku, mas?" tanya Halwa yang masih ragu ikut tinggal dirumah suaminya.
"Biarkan saja dulu untuk sementara, yang penting kalian aman. Dan kamu tidak perlu khawatir, kita akan tinggal di rumah pribadiku, bukan rumah orang tuaku. Jadu insyallah kalian akan nyaman tunggal disana!" sahut Dafi menjelaskan, seolah tau kecemasan dan rasa tak nyaman istrinya jika harus tinggal bersama keluarganya.
"Hasna mau kan, nak?" tanya Halwa menatap lembut wajah sembab putrinya, dan Hasna hanya membalasnya dengan anggukan kepala. Dafi pun bernafas lega. Karena mulai saat ini tanggung jawab dua wanita di hadapannya ada pada pundaknya.
"Kalau begitu, aku akan urus administrasi dulu ya.
__ADS_1
Karena tadi dokternya bilang, Hasna tidak perlu dirawat, karena lukanya juga tidak terlalu parah. Dia hanya butuh menyembuhkan rasa takutnya, dan kita akan membuatnya nyaman tinggal di rumah yang baru, jauh dari jangkauan keluarga si Yudha!" sambung Dafi yang di iyakan Halwa.
Setelah mengurus administrasi dan Nebus obat, Dafi mengajak Halwa juga Hasna untuk pulang kerumah yang sudah ia siapkan jauh jauh hari.
Rumah yang lebih besar dan mewah dari rumahnya Halwa.
Dafi berhenti di depan rumah mewah yang berpagar tinggi menjulang lalu memencet klakson mobil miliknya, tak lama ada pria perih baya yang langsung membukakan gerbang dan menyambut sopan kedatangan Dafi.
Setelah mobil Dafi memasuki halaman, kembali pria paruh baya itu menutup rapat layar besi yang terlihat kokoh.
"Selamat datang, tuan Dafi!" sambut pak Handoko hormat dengan senyuman ramahnya.
"Terimakasih, pak!
Kenalkan ini istri dan anak saya.
Bu Halwa dan ini Hasna, tuan putri kami!" sahut Dafi tersenyum memperkenalkan Halwa juga Hasna pada penjaga rumahnya, sekaligus sopir pribadinya.
"Pak Handoko, tolong Carikan saya satu orang scurity untuk menjaga rumah, biar nanti pak handoko ada temannya. Karena sekarang tugas pak Handoko menghantar kemanapun istri dan anak saya mau pergi, saat saya gak ada dirumah.
Bisa kan?" sambung Dafi serius dan langsung disambut baik oleh pak Handoko.
"Siap, pak!
"Jangan lupa, harus yang amanah!" balas Dafi dengan senyuman.
"Siap, Pak!" pak Handoko sekali lagi menyanggupinya karena sudah tau apa yang harus dilakukan, tidak sulit baginya mencari orang yang tepat sesuai keinginan atasannya.
Dafi mengajak Halwa dan Hasna masuk ke dalam, dan mbok Kinah sudah menyambutnya di depan pintu dengan tatapan haru.
"Selamat datang, Le!
Mbok, bahagia sekali den Dafi memboyong Bu Halwa dan non Hasna kerumah ini.
Semoga mbok tidak mengecewakan dalam memberi pelayanan dirumah ini nantinya." sambut mbok Kinah berkaca kaca. Mboh Kinah adalah wanita paruh baya seusia mamanya Dafi, dia yang selama ini setia menjaga Dafi dan selalu ikut kemanapun Dafi tinggal.
Dafi juga sudah begitu menyayangi mbok Kinah, karena wanita itu selalu memperlakukan Dafi seperti anaknya, diusia tuanya, mbok Kinah sudah tidak punya siapa siapa lagi. Anaknya pergi merantau sepuluh tahun lalu, dan sampai kini tak ada kabar.
"Mbok, sudah siapkan kamar buat Hasna kan?" tanya Dafi lembut setelah mencium punggung tangan wanita yang dia hormati, meskipun mbok Kinah hanya pembantu, tapi Dafi selalu memperlakukan perempuan itu seperti keluarganya.
"Sudah, semoga non Hasna suka!
Seharian, mbok sama pak Handoko menyulap kamar non Hasna biar seperti kamar anak perempuan yang indah, dan berharap non Hasna betah dan menyukainya!" sahut mbok Kinah semangat dan dengan binar bahagia.
Halwa tersenyum dan kagum dengan suaminya yang begitu baik memperlakukan orang yang hanya berstatus pembantu.
__ADS_1
"Ayo neng, mbok Kinah antar ke kamar neng Hasna, yuk!" ajak mbok Kinah dan menggandeng Hasna lalu menuju kamar bernuansa pink, rapi dan sangat nyaman.
Mbok Kinah dan pak Handoko sudah menyulapnya sesuai dengan kriteria Hasna yang kabut dan feminim.
"Wah, ini beneran mbok yang bikin semua jadi seperti ini, bagus sekali.
Hasna suka, nak?" tanya Dafi menatap putri sambungnya lembut dan penuh kasih sayang.
"Bagus, dan ini terlalu besar.
Tapi Hasna menyukainya!" sahut Hasna lirih dan masih merasa sungkan dengan Dafi yang baru dikenalnya.
Halwa mengusap lembut bahu putrinya, kaku menciumnya penuh kehangatan, berusaha untuk membuat Hasna merasa nyaman dan melupakan traumanya akibat ulah Yudha!
"Alhamdulillah, mbok senang kalau non Hasna suka kamarnya." sahut mbok Kinah tersenyum sumringah dan membuat Dafi semakin kagum dengan cara kerja mbok Kinah dan pak Handoko.
"Makasih ya, mbok!" sambung Halwa sambil tersenyum ramah pada mbok Kinah.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1