
Duarrrrrr.......
Terjadi ledakan yang cukup keras dan terlihat sesosok tubuh yang hancur berkeping-keping.
Sepertinya ganderwo yang wanita terlambat untuk menyadari, pukulan yang di lepas kan Bayu begitu cepat sehingga dia tidak sempat untuk menghindar cuma memalangkan tongkat nya menyambut pukulan jarak jauh yang di lepas kan oleh pemuda itu, dia tidak sadar kalau pukulan itu mengandung kekuatan panas yang begitu besar yang diterima nya itu, batu karang saja hancur terkena pukulan itu apalagi cuma tubuh manusia yang hanya terbuat dari seonggok daging.
Sementara itu ganderwo yang laki-laki sangat terkejut dan langsung berlari ke arah istri nya yang meledak tadi membuat dia begitu histeris dan menangis sejadi-jadinya, dia pun terduduk di depan sisa sisa tubuh istri nya itu yang telah menjadi debu cukup lama dia menangisi kematian istri nya.
Bayu pun tidak mau menyerang Ganderwo yang satunya itu, walau gimana dia masih mempunyai sifat seorang jantan yang tidak akan menyerang musuh nya yang lagi tidak siap seperti itu, itulah kadang kelemahan nya Bayu yang ke depan nya kalau tidak di rubah bakal menyulitkan nya sendiri.
Kesempatan itu dipergunakan Bayu untuk memulihkan tubuh nya, gimana pun pertempuran ini begitu menguras stamina dan tenaga nya, apalagi dia telah dua kali melepaskan pukulan menyongsong matahari yang sangat menguras tenaga dalam dia pun merogoh pinggang dan mengambil sebuah tabung kecil dan mengeluarkan dua butir pil berwarna hijau sebesar beras, lalu dia pun menelan nya.
Untung dia membawa bekal obat sewaktu turun gunung kemarin, obat itu adalah racikan dari Kakek nya sendiri dengan memanfaatkan tanaman obat yang ada ditanam di sekeliling gubuk nya di lereng gunung Singgalang itu,
perlahan efek pil obat itu mulai terasa, tubuh Bayu pun terasa segar kembali, sembari melihat ke arah Ganderwo yang laki-laki yang masih terduduk lemas menangisi terbunuhnya sang kekasih hati nya.
Hampir setengah jam Ganderwo yang laki-laki itu terduduk di sana menangisi sang istri tercinta, perlahan dia mulai berdiri dan menatap ke arah Bayu, matanya merah semua dan dari tengkorak di kepala tongkat nya itu keluar asap hitam yang bau nya sangat busuk seperti nya mengandung racun yang sangat kuat.
Dia pun melompat dan menerjang ke arah Bayu sembari mengayunkan tongkat hitam nya itu, Bayu sedari tadi memang sudah menunggu dan cukup waspada terhadap laki laki itu.
__ADS_1
"Kematian mu qu bikin lebih sakit dari yang di rasakan istri qu,,, Ucap nya setelah bertukar beberapa jurus dengan Bayu.
Bayu pun cuma tersenyum sambil berkelit menghindari tiap serangan Ganderwo itu, memang harus di akui asap hitam yang keluar dari kepala tongkat itu racunnya cukup keras terasa orang biasa yang mencium nya pasti langsung pingsan, tapi bukan masalah bagi Bayu yang kebal terhadap semua jenis racun apapun.
Sedari kecil dia telah meminum berbagai jenis ramuan dan tanaman anti racun dan yang sudah menyatu dengan aliran darah di tubuh nya.
Setelah pertukaran puluhan jurus, terlihat walaupun Bayu lebih unggul dan lebih banyak memasukkan pukulan, tetapi ketahanan tubuh ganderwo ini sangat kuat mungkin karena dendam istri nya yang terbunuh itu menjadikan tenaga nya berkali-kali lipat, Bayu pun bersiasat dia pun berniat menguras tenaga musuh nya itu terlebih dahulu dan dia lebih banyak menghindar mengandalkan kelincahan dan ilmu peringan tubuh nya,
sang Ganderwo makin marah melihat tingkah Bayu itu apalagi asap hitam dari tongkat nya pun tidak berpengaruh apa apa bagi musuh nya biasanya jarang musuh yang bertahan dari asap nya ini.
Dia pun mulai membaca siasat dari pemuda itu yang menguras tenaga nya ,diapun meloncat mundur ke belakang,
seperti nya dia mau melepaskan ajian simpanan nya, sangat jarang dia mengeluarkan ajian ini, perlahan tangan kiri nya mendekap ke dada dan tangan kanan yang memegang tongkat terangkat ke atas, kaki kiri nya pun menekuk ke belakang,,
Bayu pun tidak tinggal diam diapun memusatkan nalar nya kedua tangan nya pun menyilang di dada, sembari menyongsong serangan ganderwo itu.
Tongkat yang berwarna hitam dan tangan Bayu yang bersinar biru itu pun beradu di udara.
"Duarrrrr,,,, buummmmmm.......
__ADS_1
Sebuah ledakan besar terjadi, pohon dan tanah di sekitar nya berhamburan dan tumbang, seperti gempa bumi, sungguh dasyat adu ilmu antara dua generasi ini.
Bayu pun terlempar dan baru berhenti ketika menabrak pohon yang cukup besar, perlahan dia mencoba bergerak,, dada nya begitu sakit dan kepala nya terasa pening.
dengan memaksakan bergerak dia mencoba untuk duduk dan merogoh pinggangnya mengambil tabung kecil yang berwarna ungu mengambil tiga butir dan menelan nya, ternyata Bayu punya cukup banyak pil obat kalo yang warna ungu untuk obat luka dalam yang sudah parah dan hijau tadi untuk menambah stamina dan memulihkan tenaga dalam.
Setelah itu dia pun bersemedi mencoba menyerap khasiat dari pil tadi itu.
Dan bagaimana dengan kondisi ganderwo hutan tengkorak tadi,?
Ternyata keadaan dia lebih parah dari Bayu, setelah ledakan pukulan itu tongkat nya hancur berkeping-keping dan dia sendiri terlempar cukup jauh menabrak pepohonan dan baru berhenti setelah terhempas di sebuah batu yang cukup besar,cuma mengeliat sebentar dan diam tidak bergerak untuk selamanya,
kondisi tubuh nya hitam semua seperti habis terbakar.
Bayu pun berhenti dari semedi nya ketika cahaya matahari hari pagi menyinari seluruh tubuh nya, perlahan dia bangkit memandang ke sekeliling nya sungguh dasyat kerusakan yang terjadi akibat pertarungan dia semalam, pohon pohon banyak yang hancur dan tumbang.
Sakit di dada dan pening di kepala nya pun sudah hilang, sungguh mujarab khasiat pil obat yang di kasih kakek nya.
Dia pun mulai mencari keberadaan musuh nya semalam, dia cukup yakin si Ganderwo pasti terluka parah juga, setelah berjalan sebentar dia melihat seorang terkapar di bawah sebuah batu besar, Bayu menghampiri kesana dan ternyata benar itu mayat dari ganderwo yang laki-laki kondisi tubuh nya gosong semua.
__ADS_1
Setelah mengubur kan ganderwo hutan larangan Bayu pun meninggal kan hutan itu, dia melanjutkan kembali perjalanannya yang sempat tertunda kemarin.
"Bersambung...