
Sementara itu di dalam gedung Kadipaten Bantar angin siang itu terlihat sang adipati mondar mandir di ruangan nya sendiri mungkin sudah ada dua jam beliau begitu, akhirnya terdengar suara ketukan halus di pintu.
"Tuan adipati di depan ada dua orang tamu utusan dari Kerajaan,,, terdengar seruan pelan dari luar
Cukup lama sang adipati terdiam, dia sudah menduga lambat laun utusan dari Kerajaan pasti akan datang juga kepada nya.
" Suruh mereka tunggu sebentar, saya mengganti pakaian dulu,, ucap adipati separuh baya itu
__ADS_1
Kemudian terdengar langkah kaki menjauhi pintu ruangan tempat adipati itu berada lalu adipati itu pun kembali melamun kali ini cukup lama, sebenarnya ada masalah apa sampai membikin sang tuan adipati begitu gelisah nya,,?
Utusan dari Kerajaan yang datang itu adalah orang kepercayaan dari baginda raja Kerajaan Pagar lembayung yaitu Baginda raja Durataka, utusan itu menunggu jawaban dari adipati pagar lembayung ini terkait masalah lamaran dari sang raja terhadap putri dari adipati ini, sudah tiga bulan berlalu dari semenjak kedatangan pertama utusan ini, dan sekarang mereka pun datang lagi menunggu keputusan dari sang adipati Bantar angin ini.
Sebenarnya bukan masalah punya menantu seorang raja, siapapun orang nya pasti berharap putri nya menjadi istri dari sang penguasa, hanya orang yang bodoh yang menolak hal seperti itu. Sekarang yang jadi masalah bagi sang adipati dan menjadi buah pikiran dia selama tiga bulan ini adalah karena baginda raja Durataka ini mempunyai kebiasaan yang sangat buruk dan gila terhadap wanita, jauh berbeda dengan sifat nya sri Baginda yang terdahulu yaitu ayahandanya sendiri yang telah meninggal dunia semenjak dua tahun yang lalu.
sekarang situasi di Kerajaan Pagar lembayung mengalami kemunduran pesat dalam dua tahun pemerintahan Baginda Durataka ini, rakyat sungguh menderita di bebani pajak yang tinggi, dan makin banyak peraturan yang merugikan rakyat nya, akibat nya banyak rakyat yang mengungsi dan mencari tempat yang lebih aman untuk berlindung. Dan bukan itu saja para panglima perang yang dulu sangat di segani oleh Kerajaan tetangga sekarang banyak yang mengundurkan diri begitu pun dengan para pejabat istana, soalnya tidak ada yang cocok satupun dengan raja nya ini. apalagi yang menjabat sebagai penasihat Kerajaan sekarang adalah guru dari raja Durataka ini sendiri yaitu datuk Sidipono yang terkenal dengan gelar Datuk harimau besi, seorang dedengkot dari aliran hitam yang mempunyai kebiasaan sama dengan sang Baginda Durataka yang sangat doyan terhadap wanita-wanita muda.
__ADS_1
Dan dalam dua tahun ini juga terjadi beberapa kali pemberontakan terhadap pemerintahan Raja Durataka ini, salah satu nya adalah dari adipati Kadipaten Muara Jadi yang tidak Terima dengan kebijakan sang raja waktu itu, otomatis terjadi lah pertempuran besar dan berakhir dengan tewasnya sang adipati itu dan semua keluarga dan pengikut setia nya di hukum mati tanpa ada nya persidangan terlebih dahulu. Banyak dari panglima dan pejabat istana yang menyesalkan tindakan raja yang terlalu berlebihan itu akan tetapi mereka tiada memiliki keberanian untuk mengutarakan nya.
Atas dasar inilah adipati Kadipaten bantar angin ini tiga bulan belakangan tidak bisa tidur nyenyak, dan alasan dia bisa mengulur waktu sampai sekarang ini adalah karena putri nya tidak berada di sini, dan dia pun tidak mau putri nya jadi korban dari raja yang lalim itu, cuma yang jadi pikiran nya adalah seandainya dia menolak bakal terjadi pertumpahan darah yang besar, rakyat nya sendiri yang paling menderita. Sebenarnya adipati ini mendapat dukungan penuh dari para senopati dan seluruh rakyat nya seandainya dia melakukan kudeta terhadap pihak kerajaan. dan melihat dari segi kekuatan Kadipaten bantar angin ini cukup kuat, walau cuma memiliki dua ribu prajurit tapi segenap rakyat nya siap selalu mengangkat senjata untuk membela adipati yang di cintai mereka itu, belum lagi ditambah dengan kesediaan dari padepokan padepokan yang berada di sekitar Kadipaten itu.
Akhirnya tekadnya sang adipati sudah bulat, setelah merenung cukup lama dia pun melangkah keluar dari ruangan nya itu, tekad nya sudah bulat dia menolak lamaran dari sang baginda dan dia pun sudah memikirkan dengan matang akibat dari penolakan nya tersebut, walaupun di anggap sebagai pemberontak dia sudah siap. Perlahan dia pun sampai di beranda depan tempat kedua utusan Kerajaan itu menunggu.
Bersambung....
__ADS_1