Pendekar Kilat

Pendekar Kilat
Bab 9. Desa Sadang


__ADS_3

Kembali lagi kita ikuti perjalanan Bayu yang berpisah dengan kakek Pendekar pedang baja yang kembali ke padepokan nya di daerah timur, sedangkan


Bayu sendiri berjalan ke daerah selatan,


kali ini Bayu melanjutkan perjalanan dengan tidak terlalu buru buru lagi, dan tidak mengikuti arus sungai lagi dan memilih jalan lurus ke arah selatan walaupun melintasi daerah yang berbukit dan hutan hutan, tetapi semua itu bukan masalah bagi dia.


Bayu hanya seperlunya berlari yaitu kalau melintasi tebing dan jurang yang dalam, selebihnya dia memilih jalan biasa sembari menikmati suasana pemandangan alam yang tidak ternilai harga keindahannya itu.


Setelah setengah harian berjalan akhirnya Bayu menemukan sebuah perkampungan kecil, Bayu mulai memasuki perkampungan itu dia berjalan sambil memperhatikan rumah rumah penduduk di sana, pas di penghujung jalan Bayu pun menemukan warung makan yang cukup sederhana, dan satu-satunya warung yang ada di sana.


Bayu pun memasuki warung yang terlihat sepi itu dan cuma ada dua orang pengunjung di sana yang seperti nya pengembara juga seperti Bayu soalnya keduanya membawa pedang yang terselip di pinggang mereka masing-masing.


Dan Bayu memilih tempat duduk yang berada di sudut yang dekat ke jendela, tidak lama pun yang punya warung pun datang menanyakan pesanan, Bayu pun menanyakan makanan apa saja yang tersedia disini?.


"Oh ya pak ini Desa apa dan masuk Kadipaten mana,, Bayu bertanya setelah memesan makanan.


"Oh ini desa Sadang nak dan masuk Kadipaten Bantar angin, kalo mau ke kota Kadipaten butuh perjalanan setengah hari dengan berkuda nak." terang bapak itu ramah.


Oo, terimakasih pak,, sahut Bayu, dan berarti ini termasuk wilayah kerajaan Pagar lembayung karena Bayu pernah mendengar dari Eyang nya.


Sembari menunggu pesanan nya Bayu melihat empat orang pria kasar berkuda dan turun di depan warung dan setelah itu mengikat kuda kuda mereka di tambatan yang ada di depan itu, dan mereka pun masuk ke dalam warung dan memilih duduk di bangku yang dekat dengan pintu, seperti nya mereka habis dari perjalanan jauh, soalnya pakaian mereka penuh dengan debu dan kotor.


"Pelayan...... teriak salah seorang dari mereka..


Bapak tua yang punya warung pun terlihat Buru buru datang dan terlihat sangat ketakutan.


Siapkan tuak terbaik dan makanan yang paling enak disini,, teriak nya lagi walaupun Pak tua itu sudah ada di depan mejanya, Teman-teman nya yang lain tertawa semua melihat pak tua itu ketakutan.


",Maamaaff.... tuan...warung saya tidak menyediakan tuak kalo air kelapa ada tuan...kata Pak tua itu sambil menunduk tidak berani menatap ke empat orang pria kasar itu.

__ADS_1


Gubbrakkkkk.... meja yang di depan keempat orang itu patah menjadi dua,


Saya nggak mau tahu yang penting sediain kami tuak terserah kamu mau dapat nya dimana, mau ke ujung dunia harus ada! tanpa rasa bersalah dia malah memarahi Pak tua itu.


Pak tua pun makin ketakutan kaki nya sampai gemetaran,


"Ampuunnn tuan di desa ini tiada petani yang membikin tuak, ada nya cuma di kota tuan, sahut pak tua memberanikan diri itupun dengan gagap dia mengucapkan nya.


Orang itu pun semakin marah sementara ketiga teman nya pun semakin ketawa, dia pun berdiri dan memegang leher Pak tua itu, dan mengangkat nya lalu melempar hingga terlempar ke meja tempat Bayu duduk.


Sekian detik lagi Pak tua itu terbanting dan hampir menabrak meja, terlihat sebuah tangan menangkap bapak itu dan menyelamatkan nya.


"Bapak tidak apa apa,,? kata Bayu sembari memegangi bapak itu yang keliatan pucat sekali, gimana tidak sudah kebayang gimana tubuh tua nya itu melayang dan terbanting dengan keras di meja kayu itu.


Setelah bapak itu agak tenang Bayu ngomong lagi sambil tersenyum ke pada nya.


Pria yang melempar Bapak itu tadi tidak Terima ada yang menolong Bapak itu dia pun terlihat sangat marah, sementara ketiga teman itu masih tertawa mengejek nya.


Oh rupa nya ada pahlawan kesiangan ya! Bocah yang masih ingusan lagi,


hehe, ucap salah seorang teman nya yang agak kurus memanasi kawan nya yang melempar bapak tua itu.


Pria itu pun berjalan ke arah Bayu, dan tanpa basa basi dia langsung mengayunkan pukulan ke arah kepala nya Bayu yang posisi nya berdiri membelakangi pria itu, soalnya Bayu masih memperhatikan Bapak tua yang yang baru berjalan ke belakang setelah di suruh nya tadi.


Sejengkal lagi pukulan nya mendarat di kepala Bayu, pergerakan pria itu terhenti dan malah dia melayang membentur dinding dan terlempar cukup jauh keluar dan mendarat di dekat mereka tadi mengikatkan kudanya dengan posisi yang terlentang, dia pun mencoba berdiri namun tidak kuat dan terjatuh lagi.


Ternyata tadi sebelum pukulan nya menyentuh kepala Bayu, secepat kilat sebuah tendangan kaki kiri Bayu bersarang di dadanya terlebih dahulu, dia pun cukup kaget karena terlalu menganggap remeh lawan nya, dan semua itu sudah terlambat terasa beberapa tulang dada nya ada yang patah.


Ketiga kawan nya pun bangkit berdiri dan tidak terima kawan nya di perlakukan seperti itu, sambil menghunus golok mereka pun langsung meloncat ke arah Bayu sembari mengayunkan golok mereka serempak menebas leher dan perut nya Bayu.

__ADS_1


Dan hanya dengan bergerak sedikit Bayu pun menghindari tiap tebasan ketiga orang itu, dan sambil berputar Bayu pun membagi tendangan kepada mereka, hingga ketiga orang itu tidak sadar kalau mereka terlempar keluar, menjebol lagi dinding warung seperti kawan nya yang pertama tadi, pergerakan Bayu tadi sungguh sangat cepat dan sulit di ikuti oleh mata biasa.


Bayu pun perlahan melangkah keluar dan menghampiri keempat orang pria kasar itu, yang terlihat mulai berdiri sambil memegangi dada mereka yang sakit dan di bibir mereka pun mengalir darah, nampak nya mereka cukup terluka di dalam, wajah mereka yang tadi nya sombong dan angkuh sekarang berganti dengan muka yang penuh ketakutan tidak sesuai dengan omongan besar nya sewaktu memasuki warung itu tadi.


Sementara orang orang mulai rame berkumpul di sana karena suara keributan yang terjadi di warung itu.


"Gimana masih bisa kita lanjutkan tuan tuan? sapa bayu tegas, setelah jarak di antara mereka sudah dekat.


Dan dasar pengecut keempatnya pun malah berlutut di depan Bayu, karena tahu lawan nya memiliki ilmu jauh di atas mereka, ternyata mereka salah memilih lawan masih ada langit di atas langit.


Mereka pun memohon mohon minta ampun dan berjanji akan mengubah sikap mereka selama ini dan mereka pun mengganti rugi kerusakan yang terjadi di warung itu, setelah menyerahkan sekantong uang perak mereka pun dengan menunduk menghampiri kuda kuda mereka dan terus pergi dari desa itu.


Berhubung hati nya Bayu lagi baik makanya dia melepaskan ke empat orang itu, dan orang orang yang menonton pun pada bubar semua,.


"Huu tidak jadi nonton pertunjukan deh,, ucap salah satu penduduk kepada teman nya sembari melangkah pergi dari situ.


Bayu pun memasuki warung lagi dan dia di kagetkan dengan sikap Pak tua pemilik warung yang bersujud di depan nya sambil mengucapkan terimakasih.


Bayu pun mengangkat bahu bapak itu biar berdiri lagi, dia merasa tidak enak dengan sifat yang terlalu berlebihan dari bapak itu.


" Sudah kewajiban sesama manusia untuk saling membantu pak,, Bayu pun menghibur bapak itu.


"Sekarang saya minta tolong sama Bapak pesanan saya tadi masih bisa di bikin kan?, soalnya perut saya sudah bunyi dari tadi...imbuh Bayu sambil tersenyum, dan menyerahkan sekantong uang perak kepada bapak itu, untuk memperbaiki kerusakan warung nya.


Bapak tua itu cukup terkejut melihat uang yang segitu banyak nya , cukup buat hidup setahun bagi dia, dan tadinya bapak itu tidak mau menerima uang itu tapi di paksa terus sama Bayu.


Setelah menyelesaikan makan dan istirahat di situ secukupnya, Bayu kembali melanjutkan perjalanan tujuan nya adalah ke kota Kadipaten Bantar angin, dia pun sangat ingin melihat gimana keramaian kota itu, lagian daerah yang terdekat dari desa Sadang ini pun cuma kota Kadipaten itu.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2