Pendekar Kilat

Pendekar Kilat
Bab 36 Gerombolan Serigala merah 5


__ADS_3

Rombongan Serigala merah yang berkuda itu pun cukup terkejut melihat tiga orang teman mereka yang hanya dalam sekejap terlempar dari kuda nya itu, dan setelah mereka semua mencabut senjata, mereka pun serempak bergerak menyongsong Pemuda yang telah berani membuat ketiga teman mereka itu terlempar dan tidak mampu untuk bangkit berdiri lagi itu.


Tetapi ternyata Pemuda itu malah yang bergerak duluan dari pada mereka dengan kecepatan yang sangat tinggi menyongsong kedatangan mereka dan akibatnya nya cukup fatal dalam sekali gebrakan saja dua orang teman mereka pun terlempar cukup jauh tanpa mampu untuk bangkit lagi karena jantung mereka pecah terkena pukulan Pemuda misterius yang bergerak seperti angin tornado kecepatan nya.


Alhasil dalam beberapa kali gebrakan jumlah gerombolan Serigala merah itu menjadi susut secara drastis, gerakan Pemuda tersebut malah semakin cepat hingga membuat para gerombolan itu kebingungan susah untuk membedakan mana kawan dan lawan nya.


Kepanikan pun terjadi di antara mereka karena musuh yang tadi mereka kejar tidak kelihatan di mana posisi nya, yang terjadi malah kawan mereka satu persatu habis terlempar dari kudanya dan tidak bisa untuk bangkit lagi karena tanpa ampun bayangan Pemuda yang tidak terlihat itu menghabisi nya dengan sekali pergerakan.


Sengaja Bayu mengerahkan kecepatan nya untuk menghabisi semua kawanan Serigala merah itu, karena dia tidak mau terlalu lama berada di sana dan dia ingin secepatnya memberantas semua kawanan yang sangat berbahaya bagi masyarakat di sekitar situ, dan dia berniat untuk memberantas mereka sampai ke akar akarnya.

__ADS_1


Tidak butuh lama bagi Bayu untuk menghabisi ke semua gerombolan Serigala merah yang berkuda itu di sana, terlihat mayat yang bergelimpangan di sana sini dan kuda tunggangan mereka tadi itu pun telah lari kocar kacir entah kemana, Bayu pun diam sebentar di sana dan mendongak ke arah timur melihat cahaya fajar yang sudah mulai kelihatan tamaran warna redupnya.


Masih ada waktu pikir nya, tetapi terlihat dia agak ragu karena di satu sisi dia ingin segera secepatnya menyamperi markas gerombolan itu sementara hati kecilnya juga tidak tega melihat begitu banyak nya mayat anggota gerombolan itu yang berserakan di sana yang belum di kuburkan, walaupun semasa hidupnya mereka itu selalu melakukan kejahatan tetapi mereka tetap seorang manusia yang patut di kuburkan dengan layak bukan seperti binatang.


Akhirnya Bayu pun mengambil keputusan untuk menyamperi markas gerombolan itu dahulu, masalah mayat para gerombolan itu disini bisa di urus nanti pikir nya dan diapun meninggal kan pesan lewat tulisan yang di tulis di sebuah batang pohon yang paling besar di sana kepada penduduk kampung tadi seandainya mereka sampai kesini agar menguburkan semua mayat itu, tulisan itu cukup kelihatan karena berada di pohon yang dekat dengan para mayat itu.


Bayu pun akhirnya melesat dengan cepat dari sana untuk mencari markas Gerombolan Serigala merah itu yang kata penduduk dan lurah Saketi bilang berada tidak terlalu jauh dari kampung itu yang berada di sebuah bukit yang di penuhi Batu karang di puncak nya dan sarang mereka itu berada di sebuah gua yang ada di kaki bukit itu dan cukup mudah untuk mengenali bukit karang itu, begitu penjelasan tentang markas gerombolan itu yang Bayu Terima.


Dan sekarang mereka di kaget kan dengan bunyi suara kuda yang begitu banyak yang sedang mengarah ke sana, mereka pun makin siaga dengan memegang erat senjata yang ada di tangan mereka masing-masing, adrenalin mereka pun berpacu karena suara kuda kuda itu makin dekat dengan arah mereka berada, walau sebagian di antara merasa sangat ketakutan tapi demi membela kampung mereka itu mereka pun menguatkan tekad untuk melawan walau apapun yang terjadi nanti terhadap mereka.

__ADS_1


Setelah agak dekat maka terlihat lah belasan kuda yang berlari ke arah mereka tanpa ada penunggang satu pun di atas nya dan mereka pun baru bisa bernafas lega, atas perintah lurah Saketi mereka pun menangkap dan menjinakkan kuda kuda yang berlari ketakutan itu.


Akhirnya setelah semua kuda kuda itu berhasil di jinakan, maka lurah Saketi pun mengumpulkan para penduduk nya untuk di ajak berunding, dan setelah semua berkumpul maka dia pun mengatakan kepada semua warga nya itu agar membantu Pemuda pendekar yang jadi Dewa penolong mereka itu, setidaknya meringankan beban nya dan kita pun tidak boleh selalu berpangku tangan kepada orang lain, karena Pemuda itu pun tidak akan selamanya berada di sini, begitu panjang lebar lurah Saketi memberi semangat kepada warga nya itu.


Dan akhirnya semua laki-laki penduduk kampung yang berada di sana itu pun setuju dengan usul pemimpin nya itu, mereka pun menjadi bersemangat untuk mempertahankan kampung yang mereka cintai itu walaupun harus mengorbankan nyawa mereka telah siap.


Lurah Saketi pun memilih beberapa orang laki-laki yang di rasa cukup kuat dan memiliki sedikit ilmu beladiri untuk ikut bersama nya ke sarang gerombolan Serigala merah untuk membantu pendekar muda penyelamat mereka itu. Sengaja lurah itu tidak membawa semua orang di situ karena kuda yang tersedia tidak cukup banyak untuk membawa mereka semua, itupun sebagian adalah kuda kuda yang berhasil di tangkapi mereka tadi dan kuda bekas gerombolan yang tadi berhasil mereka bunuh di rumah lurah Saketi.


Akhirnya berangkat lah sekitar empat puluh orang penduduk kampung itu yang di pimpin langsung oleh lurah Saketi sendiri, dengan berkuda rombongan itu pun bergerak meninggalkan desa kecil itu memecah keheningan penghujung malam yang sepi dan sunyi itu karena semua mahkluk penghuni alam di sana masih terbuai dalam tidur panjang mereka.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2