
Sebelah selatan kerajaan Indra jaya tepatnya di Kadipaten Lembah datar yang masih dalam wilayah kerajaan Indra jaya sendiri, malam itu empat orang pria terlihat berunding dari tadi dilihat dari muka ke empat orang itu raut mukanya sangat kusut dan seperti nya mereka menghadapi suatu masalah yang besar.
Keempat pria itu bukan lah orang sembarangan dilihat dari pakaian yang mereka pakai dua orang diantaranya adalah dari pihak kerajaan sementara dua orang nya lagi yang sudah agak tua dari golongan pendekar.
Ya ternyata salah satunya adalah Adipati Lawu tungkal yang memimpin di Kadipaten Lembah datar ini yang berumur sekitar empat puluh tahunan dan yang duduk di sebelah nya adalah seorang panglima dari kerajaan Indra jaya yang bernama Adi gombang yang masih berusia sekitar tiga puluh tahun.
Sementara golongan tua yang duduk bersebrangan dengan mereka adalah para tokoh tua golongan hitam yang dulu membantu Baginda raja Aria lelono dalam merebut tahta dari ayah nya sendiri sekitar lima belas tahun dulu ketika terjadi petaka berdarah terbesar di kerajaan Indra jaya, dan semenjak sepuluh tahun ini para golongan hitam yang dulu cukup punya taring di kerajaan telah disingkirkan oleh Baginda raja itu sendiri hingga semua dari golongan hitam yang dulu punya kedudukan di istana sekarang tiada seorang pun lagi.
Yang berbaju hitam dan bercelana gombrang adalah Datuk Harimau sati dia adalah dedengkot golongan hitam yang berkuasa di daerah utara, dari sekian banyak golongan hitam yang tersingkir di istana paling banyak adalah pengikut dari Datuk ini yang jadi korban dan paling banyak mengalami kerugian ketika pihak istana melakukan pembersihan para golongan hitam sepuluh tahun lalu jadi Datuk Harimau sati ini masih menyimpan dendam yang membara terhadap pihak kerajaan.
Sementara pria tua yang agak kurus adalah Pendekar Cambuk api kakak seperguruan dari pemimpin gerombolan perampok Bujang gila yang tertangkap pihak kerajaan tiga hari yang lalu sewaktu menjalankan rencana mereka untuk menangkap dan menyandera putri Kumala dewi di hutan perburuan.
Pendekar cambuk api ini memang tidak seperti adik seperguruan nya yang mendirikan komplotan, dia ini orang tidak senang terikat makanya dari dulu dia lebih senang beraksi sendiri,, namanya di daerah timur pulau Andalas cukup terkenal ganas dan kejam kalau bertemu mangsa, kebetulan kemarin dia berkunjung ke tempat adik perguruan nya Bujang gila dan menemukan keadaan di sana yang telah sepi karena semua pengikut serta adik perguruan nya sendiri telah di tangkap pihak kerajaan.
__ADS_1
" Kalo sampai Bujang gila buka mulut maka posisi kita sangat terancam!!. Dan semua itu mungkin terjadi cepat atau lambat """
Adipati Lawa tungkal yang sangat frustasi mulai membuka omongan di antara mereka setelah cukup lama mereka terdiam.
"" Kita harus bergerak cepat jangan sampai pihak kerajaan melakukan tindakan dahulu,,
Ada berapa prajurit yang kamu bawa Adi gombrang?
"" Saya membawa sekitar seribu prajurit separuh nya sudah berada di Kadipaten ini sementara separuh nya lagi berjaga di perbatasan!!.. Ucap Panglima Adi gombrang yang langsung menarik pasukan nya ke Kadipaten Lembah datar setelah mendapat berita kegagalan Bujang gila dalam tugas.
Datuk Harimau sati terlihat mengangguk puas karena otak dari rencana semua ini memang dari dia lah ada nya dan mengenai rencana selanjutnya ketiga orang ini menyerah kan semua pada Datuk ini, dan yang terlihat agak kesal adalah Pendekar Cambuk api karena adik seperguruan nya menjadi tumbal dari rencana orang orang ini tapi untuk menentang dia tidak berani karena dia tahu kalau ilmu nya masih di bawah Datuk Harimau sati jadi dia cuma mengumpat dalam hati.
Setelah hampir semalam ke empat orang ini berunding akhirnya baru di dapat suatu keputusan yaitu mereka akan menyerang istana dan akan mengambil alih tahta kerajaan sebagai iming-iming Adipati Lawu tungkal akan di jadikan raja nanti dan panglima Adi gombrang sebagai pendamping utama dan Datuk Harimau sati serta Pendekar Cambuk api yang tidak senang terikat akan memperoleh harta rampasan sebagai imbalan sesuai dengan kemampuan nya.
__ADS_1
Akhirnya pertemuan yang sangat panjang itu pun selesai dan sewaktu hampir subuh ketiga orang tamu dari Adipati Lawu tungkal itu meninggalkan kediamannya dengan cara mereka masing-masing tanpa di ketahui oleh para penjaga di sana, Datuk Harimau sati sendiri langsung pulang ke tempat para markas nya untuk mempersiapkan rencana penyerangan mereka beberapa hari lagi.
Sementara Pendekar Cambuk api akan mengumpulkan kawan kawan nya yang dari golongan hitam yang masih banyak menyimpan dendam terhadap pihak kerajaan dan pasti nya mereka akan mau membantu apalagi di iming-iming dengan harta rampasan nanti nya.
Pagi itu Baginda raja Aria lelono sangat kaget mendengar berita dari bawahannya tentang menghilang nya panglima Adi gombang dari istana beserta seribu orang pasukan nya yang berada di barak prajurit dekat perbatasan, karena memang Baginda raja menugaskan Panglima ini untuk menjaga perbatasan setelah tertangkap nya gembong rampok Bujang gila untuk mengantisipasi masuk nya bantuan kawan kawan dari Bujang gila ini yang pengikut nya sangat banyak.
Maka pagi itu juga di adakan rapat dadakan di istana Baginda raja mengumpulkan semua pejabat serta panglima untuk membahas masalah yang lebih penting ini, awalnya pagi itu adalah hari hukuman mati bagi Bujang gila yang rencananya akan di lakukan di alun-alun istana.
Bayu sangat kagum dengan pemandangan kota kerajaan sekarang sangat banyak terjadi perubahan walaupun beberapa bangunan besar masih seperti dulu posisi nya cuma telah di renovasi lebih indah dan lebih megah lagi bentuk nya dari dahulu sewaktu dia masih kecil ketika masih tinggal di istana bersama kedua orang tua nya yang selalu terbayang di benak Bayu.
Kembali dia bernostalgia dengan masa kecilnya sembari berjalan mengelilingi keadaan kota kerajaan yang sudah lima belas tahun dia tinggalkan, Bayu pun berhenti di depan Alun alun istana karena di sana terlihat cukup ramai orang berkumpul seperti nya akan ada acara besar karena para prajurit kerajaan sangat banyak berkumpul di sana.
"Bersambung.....
__ADS_1