
Dua orang gadis berjalan beriringan dengan canda tawa menghiasi langkah anggun keduanya, terlihat pedang dengan ukiran kepala burung walet tersampir di punggung mereka masing-masing dan buntalan kecil yang melekat juga di punggung. Sengaja mereka itu berjalan dengan santai sembari menikmati keindahan alam yang mereka lalui sepanjang perjalanan, maklum selama mereka di gunung jarang sekali mereka melihat dunia luar, mereka seperti burung yang baru terlepas dari sangkar, begitu riang dan senang nya mereka terlihat.
Ya mereka lah murid dari nyai Purbani dari gunung Kerinci yaitu Melati suci yang selalu berpakaian merah muda dan Anggun sepi yang berpakaian hijau mereka baru turun gunung tadi pagi, dan tujuan mereka ialah ke Kadipaten Bantar angin tempat ayahandanya dari Melati sekaligus sebagai Adipati disana, sudah tiga tahun ini Melati tidak bertemu dengan sang ayah, biasanya dua tahun sekali ayahandanya itu pasti berkunjung ke tempat dia di Gunung Kerinci, ada perasaan rindu yang besar dan juga sedikit pertanyaan kenapa dalam tiga tahun ini ayahandanya tidak berkunjung ke sana.
Setelah setengah hari melakukan perjalanan tanpa ada hambatan mereka pun sampai di sebuah desa kecil, perhatian orang orang pun tercurah kepada mereka, gimana tidak dua orang gadis yang cantik dan manis lewat di kampung mereka itu tanpa ada pengawal atau orang tua nya, akan tetapi tidak ada satu orang pun yang berani usil terhadap mereka, mungkin karena penampilan kedua nya yang membawa pedang yang pasti nya dari kalangan persilatan, jadi tidak ada di antara mereka yang berani menatap langsung, cuma curi curi pandang dan menatap kagum, kedua gadis itu pun mencari warung makan sambil bertanya ke pada penduduk yang di jumpai nya di jalan.
Akhirnya pas di perempatan jalan terlihat lah sebuah warung yang sederhana tapi cukup besar dan kelihatan cukup bersih.
Mereka pun melangkah ke dalam warung itu yang kelihatan nya lumayan ramai, mungkin karena waktu nya orang orang pada makan siang, terlihat di sebelah sudut kanan masih tersisa meja dan bangku kosong, mereka pun melangkah ke arah sana.
Semua orang di warung yang hampir semua laki-laki itu terpesona dan banyak yang makan nya terhenti, soalnya jarang jarang bidadari yang makan di warung sederhana itu.
Kasak-kusuk pun terjadi sebentar diwarung itu, semua orang di sana pada berisik mengagumi bidadari yang nyasar di warung itu.
Kedua gadis itupun dengan santai duduk di bangku yang kosong, walaupun Melati cukup dongkol dengan tatapan para lelaki itu, dia pun masih bisa untuk menahan diri nya karena orang orang itu masih di batas kewajaran tidak ada yang bertindak mengganggu, cuman tatapan mereka saja yang kurang ajar.
Tidak lama seorang pelayan wanita paruh baya menghampiri mereka dan menanyakan pesanan kedua gadis itu, dan sembari menunggu pesanan datang Melati pun memakan buah pisang yang tersusun di meja itu, mungkin dia sangat lapar karena dari pagi perut mereka belum diisi apa pun, sedangkan Anggun memilih untuk duduk diam dan sekali kali melirik keadaan warung itu.
Orang orang pun dengan mendadak satu persatu meninggalkan warung setelah membayar makanan nya, kedua gadis itu pun jadi heran, lalu dengan tergopoh gopoh pelayan wanita tadi datang ke meja gadis itu.
__ADS_1
"Nona cepat tinggalkan warung ini,,,,,katanya dengan buru buru dan ketakutan gitu.
Juragan Jarwo pasti akan menculik nona dan
orang nya sangat kejam,,, tambah nya makin ketakutan.
Melati dan Anggun pun kebingungan,dan tanpa beranjak dari duduk nya akhirnya Melati pun berbicara.
"Tenang saja bibi kami pengen lihat seperti apa orang nya yang sangat di takuti itu,, kata Melati lembut dan mencoba menenangkan pelayan yang ketakutan itu.
Dan setelah pelayan itu cukup tenang Melati pun bertanya seperti apa orang nya juragan Jarwo ini, bibi pelayan itu pun menjelaskan bahwa juragan Jarwo itu adalah orang paling terkaya di kampung ini dan kekuasaannya melebihi kepala kampung disini dan dia memiliki banyak jagoan sebagai kaki tangan nya, dia pun seorang lintah darat dan meminta pajak kepada semua penduduk kampung disini, selain itu dia juga suka mengambil paksa gadis gadis disini termasuk istri orang kalo dia senang pasti di rebut nya, dan tiap seminggu sekali orang orang nya pun akan menagih pajak ke warung ini,, jelas nya.
" Bibi tenang saja kalo mereka datang biar kami yang mengurus nya, sekarang bibi siapkan saja pesanan kami, sehabis makan biar kami samperin juragan cabul itu ke rumah nya,, ucap Anggun berapi api, Melati pun tersenyum melihat tingkah saudari seperguruan nya itu.
Akhirnya si bibi itupun ke belakang dan tidak lama membawa nampan yang berisi makanan pesanan buat kedua gadis itu.
Tidak lama kedua gadis itu memulai makan dan terlihat mereka makan sangat lahap, tidak lama pun terdengar langkah kaki orang orang memasuki warung itu, muncul lah empat orang pria kasar memakai baju tanpa lengan dengan masing-masing tersampir golok besar di pinggangnya.
" Karman,, teriak salah satu dari mereka memanggil yang punya warung yang namanya ternyata adalah Karman itu.
__ADS_1
Mereka pun kaget saat pandangan mata mereka melihat Melati dan Anggun yang sedang makan di warung itu, ternyata mereka baru menyadari kalau ada dua bidadari yang lagi makan di sana.
Otomatis mereka pun melangkah ke tempat para gadis itu sambil tertawa tawa dan terlihat mereka menjilat ludah mereka karena melihat kemolekan dua gadis itu.
"Ini yang namanya sambil menyelam minum air,, ucap salah satu dari mereka dengan tertawa nya yang paling keras.
" Juragan pasti sangat senang jika salah satu dari gadis ini kita serahkan dan satu nya buat kita,,,, hahahaha,, timpal kawan nya.
Tetapi tawa nya seketika itu pun terhenti, sebuah kulit pisang masuk ke mulut nya, dan dia cukup kelabakan karena lemparan kulit pisang itu cukup kencang karena Anggun yang melemparkan kulit pisang itu mengaliri dengan tenaga dalam.
Orang itu pun terdorong ke belakang sebelum jatuh menimpa bangku sana yang ada di sana, lalu dia pun bangkit sambil membuang kulit pisang yang ada di mulut nya itu.
" ****** ku patahin tangan mu itu,,,, teriak nya
sembari mencabut golok yang ada di pinggang.
Ketiga kawan nya pun berbuat sama dan tidak ada lagi terdengar tawa dari mereka.
" Kak Melati,, tangan Anggun sudah sangat gatal dari tadi ni dan sekalian mengusir lalat lalat yang mengganggu makan kita ini..ucap Anggun sambil berdiri dan tersenyum kepada Melati, yang cuma mengganguk mengerti sambil terus makan seperti tidak terganggu dengan keributan yang bakal terjadi.
__ADS_1
bersambung....