
Di suasana yang sudah mulai gelap itu Bayu mencoba mengenali situasi di sekeliling pulau Samosir tersebut, memang harus Bayu akui untuk penjagaan di dekat Dermaga tempat keluar masuk para tamu cukup ketat, akan tetapi yang nama nya sebuah pulau dimana pun di setiap sudut pulau itu orang pasti akan bisa mendarat, oleh karena itu Bayu mencoba memastikan keamanan pulau tersebut dengan mencoba berkeliling memantau keadaan di sekitarnya.
Yang nama nya pertemuan para Pendekar golongan putih pasti akan membuat para Pendekar golongan hitam tidak akan tinggal diam, apalagi akhir akhir ini mereka memiliki suatu pijakan yang sangat kuat yaitu dengan munculnya seorang Pendekar muda yang bergelar Raja Iblis yang telah menghancurkan beberapa Padepokan dalam kurun waktu dekat ini.
Aneh nya setiap kali habis melakukan tindakan tersebut para Pendekar selalu kehilangan jejak dari Raja iblis ini, maka nya sebenarnya tujuan pertemuan dari para Pendekar di Padepokan tongkat angin adalah untuk memancing Raja Iblis ini datang, akan tetapi itu menanggung resiko yang sangat besar karena pulau Samosir ini akan bisa jadi medan pertempuran yang besar antara golongan putih dan golongan hitam.
Bayu pun sampai di ujung selatan pulau Samosir ini yang berbatasan langsung dengan sebuah hutan yang masih belum terjamah dan sampai di sini penjagaan yang tadinya rapat di sepanjang pesisir pulau itu sekarang di sini seperti sengaja di biar kan kosong tanpa ada satu pos penjagaan, Bayu memperhatikan keadaan sekitar nya dan menemukan bahwa tempat ini adalah suatu celah yang strategis untuk pihak musuh masuk ke dalam.
Setelah merasa cukup mengelilingi pesisir pulau tersebut, maka sekarang Bayu mencoba untuk melihat keadaan di area dalam pulau Samosir itu, dengan sekali berkelebat maka Bayu sudah menghilang dari sana, rupanya tidak lama sepeninggal Bayu tadi di tempat itu muncul lah seseorang dari arah yang sama dengan Bayu muncul.
Seorang pria yang mungkin berumur sekitar lima puluh tahunan dengan menggenggam sebuah tongkat panjang ciri khas dari murid murid Padepokan Tongkat Angin, serta dari pakaian yang dia pakai orang akan segera tahu kalau memang dia penghuni Padepokan yang namanya cukup harum di wilayah tengah Pulau Andalas ini.
__ADS_1
Rupanya dia seperti menunggu seseorang karena berulang kali dia bolak-balik ke arah pinggir sembari mata nya awas mengawasi sekelilingnya, dan ternyata benar sebuah perahu kecil tanpa penerangan mulai mendekati tempat dia berdiri itu yang di kayuh dengan sangat hati hati.
Terlihat tiga orang pria kasar meloncat turun setelah perahu kecil itu mulai merapat, dan untuk sekilas mereka pun terlibat pembicaraan yang sangat serius dengan pria murid Padepokan tongkat angin yang menyambut nya tadi, dan sebelum mereka kembali ke perahu mereka pria paruh baya murid Padepokan itu menyerah kan sebuah peta ke pada tiga orang tersebut.
Rupanya di sana bukan mereka berempat saja, ada seseorang yang mendengar semua pembicaraan mereka tadi dari awal tanpa sepengetahuan dari mereka, ya rupanya Bayu yang menguping dengan jelas semua pembicaraan mereka itu, jadi tadinya dia tidak langsung pergi karena mendengar pergerakan seseorang yang mengarah ke tempat dia itu, maka nya dia bersembunyi di sebuah pohon yang tidak jauh dari sana.
Sebelum ketiga orang pria kasar itu meloncat kembali ke perahu, sebuah bayangan dengan kecepatan yang sangat tinggi menghentikan langkah mereka, dan membuat ketiga orang itu terhempas kembali ke arah murid Padepokan tongkat Angin yang menjadi penghianat dengan bekerjasama sama dengan ketiga orang utusan dari para Pendekar golongan hitam yang berada tidak jauh dari sana.
Pria paroh baya murid dari Padepokan tongkat angin itu sangat terkejut karena kejadian begitu sangat cepat, dan dia sangat tidak percaya ketiga utusan itu langsung terkapar lumpuh dalam sekali gebrakan oleh sosok bayangan yang mulai berjalan ke arah nya, karena salah satu dari ketiga utusan tadi adalah orang yang sangat di kenal nya dan berilmu tinggi yaitu seorang pemimpin rampok yang bergelar Tangan Sakti dan ilmu nya mungkin hanya Pendekar Tongkat Seribu selaku pemimpin Padepokan tongkat angin yang mampu mengalahkan nya.
"Krakk... Plakkk.. Bukkk..
__ADS_1
Tongkat andalan pria itu patah dua, dan dia pun bernasib sama dengan ketiga pria kasar yang sudah duluan di lumpuh kan Bayu.
Sengaja Bayu mengasih pelajaran kepada Pria paruh baya penghianat itu karena kalau di biarkan orang seperti itu sangat berbahaya, ya seperti musang berbulu domba, maka nya Bayu sengaja tidak membunuh keempat orang tersebut hanya kepandaian mereka yang sudah di musnahkan, agar nanti di jadikan bukti supaya Padepokan Tongkat Angin lebih waspada dan agar tidak berfokus dari musuh yang datang dari luar saja, dia harus mengecek lagi orang orang dalam yang terlibat di sana.
Bayu pun memukul sebuah pohon besar sampai tumbang yang berada di dekat ke empat orang yang di lumpuh kan nya tadi supaya memancing murid murid Padepokan tongkat Angin yang berjaga di setiap pos sepanjang bibir pantai pulau itu mengetahui dan datang ke sini untuk menangkap ke empat orang tersebut.
Ternyata siasat Bayu itu berhasil suara ledakan dan tumbang nya pohon itu membuat para murid murid yang bersiaga di setiap pos, pada berdatangan ke tempat itu dan makin lama makin banyak yang datang karena suara ledakan tadi cukup kuat, dan mereka sangat terkejut karena di sana menemukan empat orang yang sudah tidak kuat untuk bergerak salah satunya sangat mereka kenali yaitu salah seorang ketua mereka yang bertugas memimpin perpustakaan di Padepokan tongkat angin.
Kegemparan pun terjadi di Padepokan Tongkat Angin malam itu, setelah keempat orang yang sudah lumpuh itu di bawa ke Gedung utama Padepokan dan keempat nya di serahkan langsung kepada Pendekar Tongkat Seribu dan para pemimpin Padepokan yang tadinya sedang mengobrol dengan nya.
"Keempat orang ini ilmunya sudah punah, hanya satu orang yang bisa melakukan semua ini!
__ADS_1
Pendekar Tongkat Seribu bergumam pelan yang terdengar jelas oleh orang yang berada di dekatnya.
Bersambung...